34 Persen Remaja Denpasar Perokok Aktif

By on March 15, 2012. Posted in .

Survei menyasar remaja pria dan perempuan usia sekolah yakni 14-19 tahun di empat kecamatan di Kota Denpasar.

Dari 194 responden yang diwawancarai kata peneliti PS IKM Unud I Made Kerta Duana, mereka mengakui telah mengenal dunia rokok sejak umur 14 tahun. Sesuai definisi perokok adalah mereka yang setahun terakhir mengisap rokok secara aktif.

“Kami mewancarai mereka mulai kapan mengenal rokok, motivasi dan merek rokok apa yang disukai,” kata Duana dalam workshop Pengembangan Kebijakan Tanpa Rokok yang digelar Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali di Denpasar, Sabtu (10/3/2012).

Dari pengakuan sebagian besar anak baru gede ini, merokok awalnya karena ingin mencoba. Mereka tidak ingin dikatakan banci atau kurang gaul sehingga mencoba mengisap daun tembakau.

Alasan lain, karena pergaulan menuntut mereka harus merokok agar tidak dikucilkan. Selain itu, mencontoh perilaku orang tua yang merokok di rumah.

Dari semua responden mayoritas berjenis kelamin laki-laki dan sedikit saja atau di bawah satu persen dari kalangan perempuan. Ditambahkan Duana, survei hanya menyasar 18 orang di setiap banjar atau lingkungan sosial terkecil di Bali.

Di pihak lain, tingginya jumlah perokok di kalangan generasi muda mengundang keprihatinan berbagai pihak baik pemerintah, LSM, kampus hingga media.

Karena itu, guna melindungi hak-hak warga khususnya anak-anak sebagai generasi muda mendatang, kini berbagai elemen mendukung segera diimplementasikannya Perda No 10 tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di seluruh Bali.

Di mata Tubagus Haryo Karbyanto dari Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) yang menjadi pembicara dalam workshop tersebut, regulasi Perda KTR, mendesak diberlakukan.

“Semua orang patut dilindungi dari paparan asap rokok orang lain. Seluruh tempat kerja dalam ruangan dan tempat publik di dalam ruangan patut dijadikan KTR,” ujar Tubagus.

Yang perlu diketahui publik, bahwa kebijakan KTR itu bukan larangan orang merokok melainkan di mana boleh merokok. Pendek kata, orang boleh merokok sepuasnya dengan tetap menghargai hak orang lain.

Rika Suwardi pembicara lainnya menambahkan, apa yang dilakukan Provinsi Bali dengan menelorkan Perda KTR, patut diapresiasi sebab menjadi provinsi pertama yang membuat regulasi KTR di Indonesia.

Rika juga menekankan pentingnya peran media dalam mendukung mendukung efektivitas Perda KTR Bali. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui aturan tersebut.

Dia juga mengingatkan dengan lahirnya Perda KTR sudah tentu akan menghadapi kemungkinan perlawanan dari industri produsen rokok yang kepentingannya terganggu dengan regulasi itu.

Industri rokok berusaha menjegal perda. Dkatakan kalau ada Perda KTR, maka industri perhotelan, restoran di Bali akan mati. “Padahal sejatinya implementasi KTR justru menguntungkan mereka,’ imbuh Rika.

Lahirnya Perda KTR Bali sebenarnya tidak berlangsung mulus karena mendapat banyak batu sandungan dan tarik menarik kepentingan.

Menurut Ayu Rai pejabat Dinas Kesehatan Provinsi Bali yang sejak awal terlibat dalam penyusunan Perda KTR, ada beberapa produsen rokok besar yang berusaha melobi, agar subtansi KTR bergeser.

“Produsen rokok itu masukkan hal-hak yang diluar kontek inti KTR, mereka rokok memasukkan konsep kawasan terbatas rokok,” kata Ayu. Artinya, memungkinkan adanya kawasan merokok di kawasan tanpa rokok.

Padahal pemerintah tetap berkomitmen 100 persen bebas asap rokok. “Kita tidak bisa terima kawasan terbatas di kawasan tanpa rokok. Kita tidak akan bergeming tetap 100 persen bebas asap rokok,” imbuhnya.

Adapun tempat terlarang rokok adalah kawasan utama publik fasilitas kesehatan (RS), sekolah atau tempat belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat badah, angkutan umum, tempat umum , tempat kerja dan tempat lain yang dtetapkan nantinya.

Sementara sanksi atas pelanggaran Perda KTR seperti tindak pidana ringan tipiring Rp50 ribu atau kurungan 3 bulan. Perda KTR, kata Ayu ditetapkan pada 29 November 2001 berlaku perda sanksi efektif enam bulan 1 Juni 2012 ini.

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.