Adipura atau Adipura-pura?

By on June 18, 2009. Posted in .

Padahal bukan rahasia lagi bahwa masalah demam berdarah masih menjangkiti Jakarta, pengolahan sampah masih berantakan juga banjir masih terus menenggelamkan Jakarta setiap tahun. Pertanyaannya, kok bisa dapat Adipura ya? Apa sih standar penialaian sehingga ke lima kota di Jakarta bisa dapat Piala Adipura? Inilah pengalaman yang terjadi saat-saat sebelum pemberian Piala Adipura.

Tidak seperti biasanya pada bulan Maret yang lalu aparat kota di lima wilayah kota Jakarta sibuk melakukan kerja kebersihan. Termasuk juga di Jakarta, seluruh aparat kota mulai dari Lurah hingga Walikota sibuk membersihkan dan menghijaukan wilyahnya masing-masing. Pemandangan bersih dan rapi ini dapat dirasakan langsung oleh warganya, tidak ada sampah di jalan-jalan, tidak ada membakar sampah di kampung-kampung dan tidak got yang mampet karena tumpukan sampah. Biasanya, banyak jalanan kotor, got mampet dan sampah tertumpuk dimana-mana. Lain halnya ketika bulan Maret lalu, sampah sekecil puntung rokok pun tidak dijumpai di jalan raya. Setelah memasuki bulan April, Jakarta kembali pada kebiasaannya, sampah bertebaran atau ditumpuk dimana-mana, orang buang puntung rokok seenaknya, got kembali mampet dan orang bebas lagi bakar sampah sembarangan. Mengapa demikian ya? Rupanya ada kebiasaan kota kota termasuk Jakarta hanya bersih rapi ketika bulan Maret saja. Mengapa hanya bulan Maret, ada apa?

Aneh sekaligus lucu. Kondisi yang baik-baik itu setelah masuk bulan April akan berubah cepat seperti biasanya. Dalam sebuah diskusi informal, seorang warga bercerita bahwa dia dipaksa menyetor uang pada petugas Trantib (Satpol PP) yang katanya akan membeli dan memasang pot-pot bunga di trotoar tempat dia biasa berjualan bubur ayam. ?Kami diminta setor Rp 50.000 tiap pedagang untuk membeli pot dan pohon sebagai penghias trotoar. Selain itu mereka juga selama satu minggu tidak boleh berjualan dulu di atas trotoar itu. Rencana itu dilakukan karena minggu depan, 25 Maret 2009 akan ada penilaian dari Tim Juri Piala Adipura di sekitar lokasi tempatnya berjualan. Ya ini harus dilakukan, pura-puranya lingkungan kita tertata rapi dan hijau, agar kota kita dapat Piala Adipura tahun ini,? cerita kawan penjual bubur meniru perintah petugas Trantib yang minta duit padanya.

Mengagetkan memang, di lokasi trotoar itu selama satu minggu mendadak jadi hijau dan bersih. Terlihat juga petugas Trantib berjaga-jaga, dari pagi hingga malam, Sepanjang jalan di sekitarnya juga mendadak terdapat banyak tempat sampah. Tembok-tembok jalan pun mendadak dibersihkan dan dicat ulang warna hitam putih. Singkatnya wilayah teman warga biasa berjualan itu mendadak indah dan bersih serta rapi. Sejalan dengan kepura-puraan dan penipuan itu hanya bertahan satu minggu. Setelah tim juri Piala Adipuranya berkunjung maka pot-pot tanaman dan tempat sampah itu hilang entah kemana. Tidak ada lagi petugas Trantib yang berjaga-jaga. Akhirnya lokasi tersebut kembali pada kebiasaan awal, semrawut, kotor dan kacau tanpa ada perhatian dan perawatan lagi dari aparat pemerintah setempat.

Setiap tahun, sejak tahun 1986 pemerintah melakukan kegiatan Hari Lingkungan dengan membagikan Piala Adipura pada kotamadya atau kabupaten yang dianggap berhasil sesuai kriteria tim jurinya. Piala Adipura, adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan, diselenggarakan oleh pemerintah dalam hal ini Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Piala Adipura itu sendiri diserahkan setiap tanggal 5 Juni di Istana Negara oleh Presiden pada pemerintah kota atau kabupaten yang menjadi pemenangnya. Kebanggaan semu itulah yang membuat para pemerintah kota atau kabupaten melakukan berbagai upaya untuk meraihnya. Bahkan tidak malu-malu, berpura-pura untuk menipu tim juri Piala Adipura. Gagasan menipu atau berpura-pura ini ternyata dikomando secara terang-terangan agar pada masa pemerintahan mereka kotanya mendapat Piala Adipura. Apalagi untuk Jakarta, para walikota berambisi sekali mendapatkan Piala Adipura karena akan menjadi alat membohongi Gubernur. Seolah-olah sebagai walikota sudah bekerja baik, agar diberi kesempatan menjadi walikota lebih lama lagi.

Bahkan lurah atau camat tega menggusur pemukiman atau tempat berjualan pedagang kaki lima (PKL) jika dianggap agar mendapatkan Piala Adipura. Berlandaskan keinginan ini menjadikan sikap kompak seluruh aparat mulai dari pegawai kecil hingga pejabat di kotamadya atau kabupaten. Begitu pula dengan Jakarta, terasa semua wilayah di lima kotamadya (sekarang berubah menjadi Kota Administrasi) Jakarta pada saat-saat di bulan Maret memang lain. Wilayah atau di banyak tempat tertata rapi dan hijau. Sikap kompak memperjuangkan agar mendapat Piala Adipura ini juga terlihat mulai pejabat lokal seperti Lurah dan Camat atau pejabat tingkat wilayah lainnya. Pernah seorang lurah pada sekitar bulan Maret 2008 lalu bercerita terpaksa meninggalkan kantor kelurahannya dan turun ke lapangan, di satu tempat selama dua minggu. Lurah tersebut merasa terpaksa karena mendadak harus membersihkan sebuah tanggul saluran air di wilayahnya yang dipenuhi oleh sampah.

Perintah mengamankan kepentingan keinginan walikotanya untuk mendapatkan Piala Adipura itu datang dari atasannya yakni camatnya sendiri. ?Wah tanggul di jalan Pramuka itu sudah parah, apalagi baru selesai banjir. Saluran air dipenuhi sampah mulai batang pohon sampai kasur menutup tanggulnya. Sementara itu saya harus membersihkannya secara cepat karena mau ada penilaian tim juri Piala Adipura,? keluh lurah tersebut terhadap tekanan walikota dan camatnya. Akibatnya pada hari-hari itu warga yang membutuhkan tanda tangan lurah itu menjadi kesulitan. Semua urusan pelayanan publik terpaksa diundur sore hari atau ditandatangi lurah di rumahnya.

Lurah tersebut bahkan mengeluh terpaksa mengeluarkan anggaran tambahan sekitar Rp 50 juta sebagai biaya menyulap tanggul sungai dan wilayahnya menjadi bersih mendadak. Bukan hanya lurah itu saja yang harus mengeluarkan tenaga serta biaya ekstra untuk mendapatkan Piala Adipura. Suatu ketika, masih di sekitar bulan Maret 2009 lalu, seorang teman mengatakan bahwa seorang pejabat kantor walikota menghubungi dirinya. Pejabat itu meminta tolong padanya untuk mempersiapkan kelompok pembuatan komposnya membuka semacam warung kios kompos dadakan di sebuah kantor kecamatan. Sudah beberapa tahun ini memang keberadaan program pembuatan kompos dijadikan indikator penilaian dalam penilaian Piala Adipura. Rupanya saat itu akan ada kunjungan tim juri Piala Adipura ke wilayah dan kecamatan tersebut. Pejabat itu ingin sekali mengatrol pencapaian nilai kebersihan lebih tinggi agar walikotanya tidak marah kepadanya. Melalui persiapan yang hanya sehari itu, kawan tersebut dibantu sang pejabat mengangkat semua alat-alat serta bahan pembuatan kompos dan kompos yang sudah jadi ke kantor kecamatan.

Tidak sampai setengah hari mereka sudah selesai ditinjau oleh tim juri Piala Adipura. Rombongan kompos pun pulang, mengangkat semua peralatan, kembali ke kampungnya karena hanya diperlukan untuk penilaian Piala Adipura saja. Begitulah memang terus setiap tahunnya, keberadaan kota yang bersih, terawat dan hijau hanya tergantung atau terjadi pada masa penilaian Adipura. Banyak warga yang berharap seandainya situasi terawat itu bisa berjalan terus sepanjang tahun masa tanpa tergantung ada tidaknya penilaian tim juri Adipura. ?Kalo bisa tim juri Paiala Adipura berkunjung di seluruh kota setiap hari, agar kota rapi dan bersih sepanjang tahun,? sindir seorang warga terhadap kegiatan Piala Adipura. Perubahan mendadak dan tidak biasa tentunya akan menimbulkan pertanyaan dan juga harapan. Kondisi berubah mendadak seharusnya disadari oleh penyelenggara Piala Adipura. Sebagai penyelenggara seharusnya lebih profesional dan berpikir kritis karena sudah melakukannya bertahun tahun. Apalagi kan pejabat yang menyelenggarakan dan para tim juri Piala Adipura adalah warga juga. Sudah tentu akan merasakan kepura-puraan atau perubahan mendadak kota yang terjadi hanya saat musim penialaian Piala Adipura. Perubahan sistem penialaian memang perlu dirubah menjadikan pembangun kota yang berkelanjutan bukan mendadak sehingga Piala Adipura hanya menjadi Piala Adipura-pura.

Kejadian berubah mendadak seolah baik, berpura-pura itu sama dengan pengurusan Uji

KIR angkutan umum setiap enam bulan sekali. Pemilik mobil hanya memperbaiki mesin dan memoles badan mobil ala kadarnya agar kelihatan bagus dan lolos Uji KIR saja. Setelah lolos uji KIR dan beroperasi kembali, kendaraan umum itu tetap saja mengeluarkan asap hitam dan mengotori udara Jakarta. Budaya mendapatkan keberhasilan secara cepat atau instan seperti dalam perebutan Piala Adipura memang sudah dibuat sedemikian sistematis. Jangan-jangan memang disengaja. Pemerintah sebagai penyelenggara memang melakukan dan mendorong para aparat di bawahnya beperilaku menipu atau berpura-pura. Kegiatan perebutan Piala Adipura bagi pemerintah rupanya juga menjadi ajang kampanye untuk menunjukkan secara instan seolah-olah atau berpura-pura peduli dan melakukan visi pembangunan berkelanjutan (berwawasan lingkungan). Jadi sama saja, tidak ada yang berbeda, hanya untuk membangun citra sesaat, berpura-pura dan menipu warganya sendiri.

{xtypo_sticky}Jakarta, 18 Juni 2009
Azas Tigor Nainggolan
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta)
Advokat Publik bagi Warga Miskin di Jakarta
azastigor@yahoo.com
Kontak: 08159977041 {/xtypo_sticky}

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.