Ayo, Jangan Gengsi Jalan Kaki

INDOPOS.CO.ID – Penambahan jalur pedestrian oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus dilakukan. Penataan dan penambahan trotoar ramah pejalan kaki dilakukan agar masyarakat nyaman.

Sejumlah pedestrian di Jakarta seperti Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman sudah cukup ideal. Namun, masih banyak trotoar yang belum layak bagi pejalan kaki.

Padahal, trotoar yang nyaman membuat masyarakat tak ragu berjalan kaki. Sekelompok peneliti dari Stanford University, Amerika Serikat, pernah melakukan penelitian melihat bagaimana sebetulnya tingkat aktivitas fisik orang-orang secara global. Hasilnya cukup mengejutkan. Pasalnya, hasil penelitian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan rata-rata langkah kaki paling rendah dibandingkan negara-negara lain.
Apakah memang benar orang Indonesia malas jalan kaki? Jika ditilik lebih jauh, ada sejumlah faktor yang menyebabkan warga Ibu kota malas berjalan kaki.

Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Musni Umar meyakini, salah satu faktor penyebab warga Jakarta malas jalan karena kurangnya sarana pedestrian. Di beberapa jalan protocol di Jakarta memang sudah ideal, tapi di pinggir pusat kota masih banyak yang tidak layak.

“Kedepan harus disiapkan trotoar ramah bagi pejalan kaki,” ujarnya saat diwawancara INDOPOS, Rabu (31/1). Dia mengambil contoh, trotoar di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Memang, lanjutnya, luasnya sudah ideal. Tapi ternyata masih banyak ditempati Pedagang Kaki Lima (PKL).

”Harus ada petugas yang secara berkala mengecek pedestrian di Jakarta. Apakah sudah benar peruntukkannya atau malah beralih fungsi,” sarannya.

Padahal untuk jangka panjang, gaya hidup sehat, seperti rutin berjalan kaki memiliki manfaat di masa depan. Salah satunya, menyehatkan tubuh.

“Kalau sekarang, sampai tekor BPJS membiayai (pasien yang sakit),” urainya. Tapi, imbuhnya, kembali lagi, pedestrian harus aman dan nyaman.

Pengamat Perkotaan Tubagus Haryo Karbiyanto menambahkan, trotoar yang masuk kategori ideal adalah, cukup lebar, rata, tidak ada tiang listrik dan pot tanaman yang menghalangi, ada jalur untuk pesepeda (nonmotor), jalur bagi disabilitas, dan tidak ada lubang air atau kabel yang terbuka,” paparnya.

Termasuk, kata dia, trotoar harus memiliki fasilitas penerangan yang memadai, terang dan banyak lampu. ”Sehingga orang yakin untuk berjalan kaki, meskipun di malam hari. Selama ini, kalau malam hari orang enggan jalan kaki, karena tingkat kriminalitas tinggi, seperi penjambretan,” ulasnya.

Dia juga menjabarkan, tipe ideal pedestrian adalah soal integrasi. Jika melihat contoh di luar negeri, selain pedestrian yang aman dan nyaman, juga jarak antara halte idealnya sekitar 300 meter. Lalu juga terintegrasi dengan sabuk hijau kota.

Sementara itu, Ajeng, 25, pejalan kaki yang ditemui INDOPOS menuturkan masih kesulitan berjalan kaki. Dia memberi contoh, setiap hari turun dari halte Transjakarta dekat Pasar Mayestik. Untuk jalan menuju pasar saja susahnya minta ampun.

“Itu trotoar yang depan BCA itu kan susah lewat karena mobil parkir diatas trotoar,” katanya kesal. Dia berharap, pemerintah daerah mau serius menata pedestrian, supaya layak jalan dan aman. 

Sementara itu, dr Andaru Samsiar, MS, spOK menyebut bahwa warga Ibu kota disituasikan sebagai manusia duduk, bukan manusia jalan. Hal itu disebabkan minimnya sarana bagi pejalan kaki.

”Karena pedestrian belum ideal, pejalan kaki turun ke jalan. Berpotensi terserempet kendaraan. Modernisasi dan kurangnya fasilitas membuat warga Jakarta ini sulit untuk bergerak,” jelasnya.

Padahal, manfaat berjalan kaki sangat besar. Dia menyebut ada lima manfaat berjalan kaki.

”Manfaat bio kebugaran untuk diri. Manfaat psikologi, dengan berjalan individu menjadi lebih bahagia, menghindari stres. Manfaat sosial, bisa berinteraksi dengan aman dan nyaman di trotoar. Kemudian ada juga manfaat kultur dan spiritual,” papar dokter yang mengabdikan diri bagi aktivitas sosial itu panjang lebar. (ibl) 

Print Friendly, PDF & Email