Bang Ali saja sulit benahi macet Jakarta, mampukah Jokowi?

By on October 19, 2012. Posted in .

Tapi, mampukah Jokowi membenahi sistem transportasi di Jakarta selama lima tahun? Gubernur legendaris DKI Jakarta Ali Sadikin saja kesulitan mengurai macet Jakarta. Tahun 1966, saat Bang Ali dilantik, lalu lintas Jakarta sudah semrawut.

Hari kedua menjabat, Bang Ali naik bus umum keliling kota. Dia terhenyak melihat buruknya pelayanan bus kota yang tidak manusiawi. Penumpang berjejalan dan mandi keringat. Sopir bus berhenti dan ngetem seenaknya. Bang Ali pun mengusahakan agar Jakarta punya bus kota yang layak.

“Lalu lintas di Jakarta brengsek. Sayalah yang paling tidak puas terhadap keadaan itu,” ujar Bang Ali dalam memoar Ali Sadikin karangan Ramadhan KH.

Bang Ali membenahi sistem transportasi. Membangun terminal-terminal dan menyediakan ratusan bus kota. Tapi tetap saja Bang Ali kesulitan. Begitu juga gubernur-gubernur selanjutnya.

Bagaimana dengan Jokowi?

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan mengatakan, dirinya sangat yakin mantan walikota Solo itu membenahi kemacetan di ibu kota. Hanya saja, ada beberapa hal yang harus dilakukan Jokowi sebelum mulai bekerja usai pelantikan hari ini.

“Bisa saja (dalam lima tahun), artinya perbaikannya kita mulai dari yang sudah ada dulu,” kata Azas saat berbincang dengan merdeka.com.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melanjutkan kebijakan yang sudah dilakukan gubernur terdahulu, seperti angkutan bus Transjakarta. Namun, perlu ada peningkatan kapastitas penumpang bagi alat transportasi massal milik Pemprov DKI.

Tidak hanya itu, revitalisasi angkutan umum selain bus Transjakarta di seluruh jalan protokol juga wajib dilakukan. Termasuk mengevaluasi sekian banyak trayek yang tumpang tindih sehingga menyebabkan sopir angkutan bertindak ugal-ugalan.

“Perbaikan angkutan umum juga harus dibarengi dengan meningkatkan biaya penggunaan kendaraan pribadi,” lanjut pria yang juga menjabat Ketua LSM Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) ini.

Langkah kedua, mempersulit pengguna kendaraan pribadi, terutama di jalan-jalan utama Jakarta. Azas menggambarkan, kepadatan yang terjadi di Jakarta saat ini disebabkan penumpukan jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas jalan.

Atas alasan itu, Azas juga mendukung penerapan tarif parkir yang tinggi juga untuk mengurangi jumlah kendaraan di jalanan ibu kota. Dengan begitu, pemilik kendaraan akan berpikir dua kali ketika membawa kendaraannya ke jalan-jalan yang menjadi pusat keramaian.

Untuk mempersulit pengguna kendaraan pribadi, dia juga menekankan pentingnya penerapan sistem Electronic Road Pricing (ERP). “Kalau perlu mendorong dicabutnya subsidi BBM,” ucapnya.

Langkah ketiga, perlu dilakukan penegakan hukum bagi pengguna kendaraan yang melakukan pelanggaran atau parkir sembarangan. Tidak hanya itu, penegakkan juga harus dilakukan bersamaan dengan edukasi kepada masyarakat.

“Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 itu dikatakan jalan-jalan utama dilarang ada parkir di pinggir jalan kecuali jalan lingkungan seperti pemukiman selama tidak mengganggu,” pungkasnya.

Jokowi dilantik hari ini. Mari cermati apa yang akan dilakukan Jokowi. Mampukah dia menjadi juru selamat mengurai kemacetan Jakarta?

Yakinkah anda Jokowi mampu benahi kemacetan jakarta?

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.