Cara Menggusur Soekarno Dibandingkan dengan Jokowi

1633335IMG00785-20131212-1444780x390JAKARTA, KOMPAS.com – Penggusuran bangunan di Taman Burung, Waduk Pluit, beberapa waktu lalu dianggap tidak manusiawi. Langkah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kemudian dibandingkan dengan penggusuran Soekarno saat akan membangun Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azas Tigor Nainggolan menilai, Soekarno mampu memindahkan warga tergusur dengan cara yang baik.

“Soekarno saat itu pun pernah menggusur, tetapi cara menggusurnya lebih oke dan lebih bagus dari pada sekarang,” ujar Azas Tigor dalam diskusi Refleksi Akhir Tahun Warga Kota Jakarta ‘ Menuju Jakarta yang Manusiawi’ di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (16/12/2013).

“Saat itu, ketika ngebangun GBK, itu kan tadinya kampung lalu digusur, dan setelah itu dikasih rumah. Kalau kita lihat, penghargaan dari Soekarno itu sangat besar terhadap rakyat kecil,” tutur Tigor lagi.

Kata Tigor, pada zaman itu, kondisi Ibu Kota Jakarta tidak terlalu padat. Selain itu, ada peningkatan jumlah penduduk DKI Jakarta setiap tahun.

“Kalau zaman Soekarno waktu itu, orang-orang masih terbuai, digusur saja masih bisa senyum, beda sekali dengan kondisi sekarang,” jelas Tigor.

Tidak hanya itu, Tigor mengatakan, Soekarno juga memiliki banyak cara saat melakukan penggusuran. “Karena waktu itu, alternatifnya lebih banyak, dibanding zaman sekarang,” tuturnya.

Tigor berharap ada perbaikan dalam melakukan relokasi kepada warga-warga yang terkena penggusuran. Dengan begitu, nantinya, korban penggusuran mendapatkan kehidupan layak akibat penggusuran.

“Orang merantau ke Jakarta ingin lebih baik, kalaupun dia dipindahkan atau digusur sekalipun, kehidupan berikutnya harus lebih baik dari sebelumnya,” pungkasnya.

Editor : Ana Shofiana Syatiri

Print Friendly, PDF & Email