Daerah Jakarta Pusat Paling Rawan Parkir Liar

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Rangga Baskoro
WARTA KOTA, GAMBIR — Area di sekitar jantung ibu kota, yakni Jakarta Pusat paling rawan parkir liar.

Hal tersebut berdasarkan data operasi parkir liar yang diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Sigit Widjatmoko menuturkan pihaknya berhasil menindak sebanyak 62.390 kendaraan saat operasi parkir liar dalam kurun waktu sejak 1 Agustus hingga 6 Desember 2017 kemarin, di seluruh Jakarta.

Mayoritas pelanggaran terjadi di kawasan Jakarta Pusat.

“Penindakan hukum yang kami lakukan dibagi menjadi 6 tindakan, pertama operasi cabut pentil (OCP) roda dua, OCP roda empat, angkut jaring, tilang polisi, tilang dishub dan penderekan. Totalnya sejak Agustus sampai 6 Desember, ada 62.390 kendaraan yang kami lakukan penindakan,” kata Sigit saat dikonfirmasi, Kamis (7/12).

Penindakan yang paling sering diberlakukan adalah operasi cabut pentil roda dua.

Terhitung sebanyak 31.515 motor digembosi bannya oleh petugas Dishub sejak tanggal 1 Agustus hingga 6 Desember 2017.
Menyusul penindakan operasi cabut pentil roda empat sebanyak 12.081 mobil, kemudian tilang polisi sebanyak 6.252 kendaraan.

Lalu tilang Dishub sebanyak 5.734. Sementara itu penderekan di posisi ke lima, sebanyak 3.493 kendaraan dan terakhir operasi anglut jaring sebanyak 3.315 kendaraan.

Sigit mengakui, wilayah Jakarta Pusat merupakan kawasan yang paling sering dijumpai pelanggaran terhadap parkir liar.

“Lokasi pelanggaran parkir utamanya ada di pusat kegiatan masyarakat. Seperti pasar, pusat perbelanjaan, perkantoran dan juga area stasiun. Karenanya Jakpus paling rentan dengan pelanggaran parkir,” ucapnya.

Oleh sebab itu, area ruas jalan yang sering dilakukan operasi parkir liar merupakan kawasan pasar-pasar dan sekitar stasiun seperti di Jalan Bungur, Harmoni, sekitat Stasiun Tanah Abang, Cikini dan Palmerah.

Sigit mengharapkan agar masyarakat bisa beralih menggunakan transportasi umum untuk mengurangi intensitas volume kendaraan dan maraknya parkir liar.

“Seirama dengan target pembangunan bidang transportasi, maka kami mengharapkan adanya perpindahan moda dari penggunaan kendaraan pribadi ke angkutan umum bagi masyarakat,” tutur Sigit.

Sementara itu, berdasarkan data dari Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat, dalam kurun waktu sejak bulan Januari hingga awal Desember, total kendaraan yang diderek oleh petugas sebanyak 3.178 kendaraan.

“Bulan Oktober, pada saat dilakukan Bulan Tertib Trotoar (BTT), kami menderek sebanyak 500 kendaraan. Sejauh ini, jumlah tersebut paling banyak sepanjanh tahun 2017,” kata Harlem Simanjuntak, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat. (*)

Print Friendly, PDF & Email