Eksekusi Kompleks Srikandi Bentrok, Jokowi Harus Panggil Satpol PP

By on June 4, 2013. Posted in .

1369198608

Sejumlah petugas Sapol PP mengumpulkan perabotan rumah saat penggusuran pemukiman di Kelurahan Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta, Rabu (22/5). (sumber: Antara)

Jakarta – Bentrokan yang terjadi antara anggota Satpol PP, dan kepolisian dengan ratusan warga Kompleks Srikandi RT 07/03, Kelurahan Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur pada Rabu (22/5), harus diusut tuntas.

Gubernur DKI Jakarta, Jokowi harus memanggil dan memeriksa Kepala Satpol PP yang membiarkan anggotanya terlibat dalam penggusuran lahan seluas sekitar 5,5 hektare tersebut.

“Gubernur harus periksa Kasatpol PP dan Wali kota Jakarta Timur, kenapa Satpol PP terlibat menggusur warga Kompleks Srikandi dan jadi buldoser bayaran PT Buana Estate,” kata Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta), Azas Tigor Nainggolan, Rabu (22/5) malam.

Menurutnya, tidak ada yang mendasari anggota Satpol PP terlibat dalam penggusuran tersebut. Hal itu dipertegas dengan pernyataan Jokowi yang mengatakan penggusuran tersebut bukanlah wilayah kewenangan pihaknya, karena merupakan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Azas Tigor mencurigai, keterlibatan Satpol PP dalam penggusuran tersebut karena faktor uang. Pasalnya, Satpol PP yang disebut selalu berada di tengah masyarakat, dan siap membantu warga, seolah enggan untuk menjaga area publik yang lebih penting seperti pintu rel kereta api, atau jalur busway.

“Coba kita minta Satpol PP jaga pintu kereta api, pasti susah. Pengalaman selama ini, Satpol PP juga susah diminta untuk menjaga jalur busway. Tapi kalau yang minta perusahaan swasta seperti PT Buana Estate, mereka selalu mau, pasti kan ada bayarannya,” ungkapnya.

Seperti diberitakan, eksekusi sekitar 140 rumah di Kompleks Srikandi ini sempat ricuh.

Selain mengalami luka karena sempat terjadi aksi saling dorong dan pukul, sekitar 11 orang termasuk Kuasa Hukum Warga, Suhadi, yang menghalangi jalannya eksekusi lahan seluas sekitar 5,5 hektare itu diamankan.

Dua mobil becho besar yang diterjunkan akhirnya mengeksekusi lahan setelah ratusan warga membubarkan diri karena terkena gas air mata yang ditembakkan petugas.

Beberapa warga sempat syok dengan eksekusi lahan tersebut. Pasalnya, berdasar surat yang dilayangkan PN Jakarta Timur, eksekusi akan dilakukan pukul 09.00 WIB, tapi sekitar pukul 06.30 WIB, sekitar 1.000 personel Satpol PP, dibantu 800 anggota kepolisian, dan 150 personel TNI sudah mendatangi pemukiman warga.

“Dimana panitera dan juru sita. Saya sebagai kuasa hukum warga dapat informasi, dilaksanakan tanggal 22 Mei jam 09.00 WIB, tapi sekitar jam 06.00 WIB, sudah dieksekusi dengan alat besar. Ini ada pelanggaran hukum dalam pelaksanaan ini, harusnya komitmen. Saya tanya warga juga tidak ada yang tahu bahwa eksekusi ini sudah dilaksanakan,” kata Suhadi sesaat sebelum diamankan petugas.

Ia menegaskan, pihaknya akan melaporkan persoalan ini kepada Komnas HAM, dan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi.

Ketua RT 07, Turja mengatakan, ada 10 warganya yang diamankan petugas tanpa alasan yang jelas. Pramono (39), salah seorang warga mengatakan, eksekusi tersebut seperti serangan fajar. Beberapa ibu yang sedang beraktivitas seperti biasa dikagetkan dengan kedatangan ribuan petugas.

“Kami enggak siap, tiba-tiba langsung diserang pakai gas air mata. Ibu-ibu lagi aktivitas biasa langsung diserang. Dari pagi kami hanya bertahan, dan tidak melawan, tapi ada dua warga yang terkena lemparan batu. Mereka bilangnya jam 09.00 WIB, ketika kami tanya petugas hanya bilang ini perintah komandan,” katanya.

Kasatpol PP DKI Jakarta, Kukuh Hadi mengaku, sempat terjadi gesekan antara petugas dan warga. Namun, sekitar pukul 09.00 WIB, warga yang mulai menyadari, merelakan bangunannya dieksekusi petugas.

Kukuh menuturkan, pihaknya hanya diminta PN Jaktim untuk membantu eksekusi tersebut. Ia sudah memerintahkan anggota Satpol PP untuk tidak menyakiti warga, dan harus membantu warga yang akan memindahkan barang-barangnya.

“Satpol PP tidak boleh menyakiti warga. Saya perintahkan menolong dan membantu warga. Saya akan tempeleng sendiri kalau ada anggota yang menyakiti warga,” tegasnya.

 

Penulis: F-5/RIN

Sumber : Suara Pembaruan, beritasatu.com, Kamis, 23 Mei 2013

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.