HASIL SURVEY IKLAN DAN PROMOSI ROKOK DI JAKARTA

By on July 6, 2015. Posted in , .

HASIL SURVEY IKLAN DAN PROMOSI ROKOK DI JAKARTA

 

surveyJakarta – Pada hari ini, Rabu,  3 Juni 2015, FAKTA (Forum Warga Jakarta) meluncurkan hasil survey tentang kepatuhan industri rokok terhadap peraturan penempatan dan konten iklan rokok di Jakarta.  Azas Tigor Nainggolan, Ketua FAKTA, memaparkan penemuan lapangan.  Nara sumber dalam acara ini termasuk psikolog, Ibu Aully Grashinta, M.Si., P.Si., yang memaparkan tentang efek psikologis kepungan iklan rokok terhadap anak pada khususnya.  Dan hadir pula Tulus Abadi, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan pada Bapak Sinurat, Kepala Bagian Penegakan Satpol PP.

Survei dilakukan di 100 titik di 5 wilayah di DKI Jakarta. Kita sudah memiliki regulasi yang mengatur tentang Iklan Rokok Media Luar Ruang yaitu Peraturan Pemerintah no.109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, Pasal 27 dan Peraturan Gubernur no.23 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Reklame di Kawasan Kendali Ketat di Prov. DKI Jakarta.

Ada beberapa jenis pelanggaran yang ditemukan di lapangan;

  1. 85% Media Luar Ruang tidak jelas kepemilikannya
  2. 83% Iklan Media Luar Ruang tidak mencantumkan izin, sisanya ada yang berizin tapi sudah kadaluarsa perzinannya dan hanya 5% yang memiliki izin di tahun 2015
  3. 94% lokasi iklan rokok akses dari dan ke tempat ibadah
  4. 91% lokasi iklan rokok  akses dari dan ke tempat proses belajar mengajar
  5. 67% lokasi iklan rokok akses dari dan  ke fasilitas kesehatan
  6. 72% iklan rokok media luar ruang memiliki posisi melintang
  7. 11% Iklan Rokok Media Luar Ruang tidak mencantumkan peringatan kesehatan dalam bentuk gambar
  8. 12% iklan rokok tidak mencantumkan batasan usia (+18)
  9. 1% menggunakan efek animasi
  10. 5% iklan menggunakan referensi budaya spesifik
  11. Sebutan lain yang mengasosiasikan dengan  merek produk tembakau.

“Terjadinya banyak pelanggaran menunjukkan ketidakpatuhan industri rokok terhadap regulasi yang ada.  Perusahaan pengiklan wajib untuk memeriksa penayangan iklan-iklannya,” kata Asas Tigor Nainggolan. “FAKTA sangat mengapresiasi Bapak Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahana Purnama, Bapak Ahok yang sudah mengeluarkan Peraturan Gubernur no.1 tahun 2015 tentang Larangan Penyelenggaraan Reklame Rokok dan Produk Tembakau Pada Media Luar Ruang di Prov. DKI Jakarta,” tambah Tigor. Disamping itu bahwa pajak dari iklan rokok adalah hanya 14% dari pendapatan keseluruhan pajak iklan media luar ruang di Jakarta (hasil studi FAKTA 2010), masih di bawah pendapatan pajak parkir.

Dalam tanggapannya terhadap hasil survey, Aully Grashinta seorang psikolog iklan rokok membidik remaja karena consumer characteristic-nya belum stabil. Dan berdasarkan beberapa penelitian iklan rokok jelas berpengaruh terhadap perilaku remaja. Oleh sebab itu sudah selayaknya iklan rokok dihapuskan.

“Iklan rokok adalah iklan yang paling menipu bagi konsumen, karena apa yang digambarkan tidak sesuai dengan faktanya, dan bahkan menyesatkan bagi konsumen, ini saja sebetulnya sudah merupakan suatu pelanggaran terhadap hak-hak konsumen,” tegas Tulus Abadi, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Berangkat dari temuan ini, FAKTA merekomendasikan sebagai berikut:

  1. Pemprov. DKI Jakarta memastikan tidak akan ada lagi pelanggaran iklan media luar ruang di Jakarta.
  2. Pemprov DKI Jakarta mempercepat pemberlakuan Pergub no. 1 Tahun 2015 tentang Pelarangan Iklan Rokok Media Luar Ruang di Jakarta.
  3. Badan POM agar bertindak untuk menertibkan iklan media luar ruang yang masih melanggar ketentuan.

 

Untuk Info lebih jelas tentang survey ini, dapat di download dari link berikut:

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.