Hibah Bus Untuk Peremajaan Metromini dan Kopaja, Perlukah?

By on November 9, 2012. Posted in .

metro-mini-Alby-AlbahiKetiadaan izin tersebut dikarenakan sejak tahun 1995 terjadi kevakuman akibat pertikaian di internal pengurus PT Metromini. Kevakuman tersebut membuat para pemilik Metromini kesulitan mengurus administrasi operasional armada? mereka. Selain itu sudah sejak tahun 1997 Metromini tidak bisa mendapatkan izin dan kredit bank untuk melakukan peremajaan armadanya.

Akibatnya para pemilik (operator) bus Metromini mengurus keperluan penunjang bisnisnya sendiri-sendiri dan asal beroperasi? tanpa bantuan perusahaan mereka. Jelas situasi ini membuat usaha atau bisnis para? operator Metromini mengalami keterpurukan dan tidak sedikit yang bangkrut.

Begitu pula dengan rencana kedua, memberikan bus hibah untuk meremajakan armada atau bus sedang Metromini dan Kopaja. Rencana pemberian hibah bus tersebut didasari oleh buruknya kondisi armada Metromini dan Kopaja yang beroperasi di Jakarta sekarang ini.

Saat ini di Jakarta ada sekitar 3.100 unit bus Metromini dan 1.500 unit bus Kopaja. Berdasarkan data yang ada setidaknya sekitar 70% dari armada bus sedang berusia di atas 15 tahun. Buruk dan sudah tuanya armada bus sedang Metromini dan Kopaja ini disebabkan kesulitan izin dan kredit bank dalam melakukan peremajaan bus. ?
Kedua perusahaan Angkutan bus sedang ini sejak awal dibangun adalah untuk melayani pengguna Angkutan umum yang berasal dari kelas menengah dan bawah.? Sejak awal pendirian di awal tahun 1970an hingga awal tahun 1990an? kedua jenis angkutan ini masih menjadi favorit dan memiliki pengguna yang banyak. Kondisi baik ini membuat para operator Metromini dan Kopaja masih bisa hidup berkembang dan mengembangkan usahanya.

Seiring berjalannya waktu kedua perusahaan angkutan bus sedang ini memasuki pertengahan masa tahun 1990an mengalami masa sulit, penurunan pengguna dan kemerosotan usaha. Tidak jarang mulai saat itu banyak? operator Metromini dan Kopaja? yang gulung tikar atau bangkrut akibat ditinggalkan penggunanya. Hingga akhirnya pada saat sekarang pengguna angkutan umum di Jakarta hanya tinggal sekitar 40% dan 60% menggunakan kendaraan pribadi khususnya sepeda motor. Nah kecilnya angka pengguna angkutan umum ini juga dialami oleh Metromini dan Kopaja sehingga banyak armadanya yang berhenti beroperasi akibat tidak ada penggunanya.

Penurunan atau kebangkrutan usaha angkutan umum (non Transjakarta) bukanlah hanya miliki Metromini dan Kopaja? saja. Hampir seluruh jenis usaha Angkutan umum non Transjakarta mengalami penurunan atau situasi usaha yang buruk sekarang terutama akiibat dari sepinya pengguna dan mahalnya biaya operasional usaha. Jika mau dilihat lebih jelas lagi, kebangkrutan para operator atau sepinya pengguna angkutan umum di Jakarta seperti Metromini atau Kopaja dan lainnya? saat ini disebabkan dari buruknya kualitas layanan, buruknya kondisi armadanya, kesulitan melakukan peremajaan armada,? tingginya biaya operasional,? jalur taryek yang sudah tidak sesuai kebutuhan pengguna dan berpindah ke Transjakarta serta ke kendaraan pribadi terutama sepeda motor.

Sekarang sudah sangat terbuka bahwa masalah peremajaan hanyalah salah satu masalah dari kompleksitas persoalan yang dihadapi Metromini dan Kopaja. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah memang diperlukan pencabutan izin usaha Metromini? atau pemberian hibah bus pada Metromini dan Kopaja. Secara khusus kita perlu melihat keperluan hibah bus tersebut niatnya adalah untuk pemberdayaan atau revitalisasi oleh Pemda DKI Jakarta.

Berdasarkan pemikiran pemberdayaan maka pencabutan izin usaha seperti pada Metromini jadilah kurang tepat. Jika memang ingin mencabut izin maka bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan alat transportasi pengguna dan kehidupan awak armada Metromini beserta keluarganya kemudian?

Ancaman pencabutan izin usaha Metromini jelas bukanlah tindakan yang tepat dan produktif untuk mengatasi permasalahan Angkutan umum di Kota Jakarta khsusnya untuk memperbaiki layanan Metromini. Operator Metromini dan Kopaja merupakan dua pemain utama di kelas pengangkutan bus sedang (kapasitas 20-30 penumpang) dan? masih menjadi primadona untuk mengangkut sekitar 350 ribu penumpang per hari, berdasarkan survei dan kajian yang dilakukan oleh ITDP.

Berdasarkan angka jumlah penumpang yang hampir sama dengan jumlah penumpang Transjakarta, maka sangat layaknya jika Pemerintah? menaruh perhatian lebih kepada ke dua moda ini agar kualitas angkutan umum di Jakarta dapat lebih meningkat.

Selanjutnya? sikap kita tentunya haruslah memberdayakan kedua operator bus sedang, Metromini dan Kopaja agar bisa memberikan layanan angkutan umum aman, nyaman serta sesuai kebutuhan warga Jakarta. Rencana pemberian hibah bus untuk meremajakan Metromini dan Kopaja ini bisa dijadikan moment atau kesempatan memperbaiki dan memberdayakan pelayanan kedua perusahaan bus sedang tersebut. Kesempatan atau niat perbaikan ini dibangun sebagai langkah pemberdayaan dengan memberikan hibah atau bantuan langsung bukan berbentuk pemberian bus gratis saja. Pemberdayaan melalui pemberian hibah tersebut sebaiknya merujuk dari kebutuhan atau mendekati pada penyelesaian masalah yang dihadapi oleh Metromini dan Kopaja.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) dan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) menunjukkan bahwa pengusaha angkutan Metromini dan Kopaja mengeluh akan turunnya setoran akibat makin menurunnya jumlah penumpang. Beberapa pakar transportasi menggambarkan kondisi angkutan umum? di Jakarta sudah seperti lingkaran setan, dimana kondisi kemacetan mengakibatkan jumlah ritase berkurang, yang membuat pendapatan berkurang, sehingga pengusaha menurunkan biaya perawatan dan membuat kualitas kendaraan dan pelayanan semakin menurun, dan semakin membuat penumpang berpindah dari angkutan umum ke angkutan pribadi, yang akhirnya membuat jalanan makin macet, dan kembali lagi ke titik awal lingkaran permasalahan.

Intervensi terhadap lingkaran setan tersebut sudah dilakukan melalui Transjakarta, yang menjamin pendapatan pengusaha terlepas dari besar kecilnya penumpang yang diangkut (guaranteed payment) dan juga penyediaan lajur khusus untuk dapat menembus kemacetan di kota Jakarta, meskipun belakangan ini banyak disusupi oleh pengemudi-pengemudi nakal yang mengambil lintasan busway untuk kepentingan pribadi. Intervensi model seperti ini nampaknya akan sangat dapat direplikasikan untuk bus Metromini? dan Kopaja, yang selama ini pengemudinya selalu berjuang mengejar setoran dan ritase, dan pengusahanya berjuang untuk menekan biaya perawatan, terlebih dengan kenaikan terus menerus harga suku cadang kendaraan yang cukup signifikan.

Bisnis angkutan umum kelas ekonomi di Jakarta memang seperti maju kena mundur kena. Permasalahan yang mereka hadapi dijalanan seperti kemacetan, penurunan jumlah pengguna atau penumpang dan pendapatan serta naiknya harga suku cadang, tidak disertai oleh dukungan dari pemerintah untuk menjamin pelayanan. Parahnya lagi, di waktu lalu? para operator angkutan umum mengajukan kenaikan tarif, serta merta langsung akan ditolak, baik oleh pemerintah maupun oleh DPRD saat itu, yang mungkin tidak juga mengetahui bagaimana kondisi angkutan umum di Jakarta ini.

Penyelesaian masalah yang kompleks ini dapat dilakukan oleh Pemda Jakarta dengan memasukkan langkah pemberian hibah model alternatif agar Metromini dan Kopaja bisa melakukan peremajaan bus serta menjalankan layanan dengan baik sesuai kebutuhan penggunanya. Skema langkah pemberian hibah tersebut bisa dilakukan untuk menjawab kesulitan Metromini dan Kopaja dalam mendapatkan kemudahan kredit bank, keringanan harga armada dan perbaikan kelanjutan operasional bisnisnya. Hibah tersebut bisa dilakukan dimana Pemda Jakarta memposisikan diri sebagai penjamin agar ada bank pemberi kredit,?? membayar bunga kredit bank, perpanjangan masa pelunasan kredit dan pembayaran atau penghapusan pajak bea masuk kendaraan. Bentuk hibah berikutnya agar pelayanan Metromini dan Kopaja bisa berkelanjutan memberikan layanan baik dengan menata ulang trayek dan memberikan pendampingan bagi operasional bisnis serta mengintegrasikan layanan Metromini dan Kopaja pada layanan Transjakarta.

Model pendekatan pemberian hibah alternatif ini sangat diperlukan dan harus dilakukan agar terciptanya layanan yang baik dan terintegrasi sesuai kebutuhan penggunanya sehingga menumbhkan tingginya pengguna angkutan umum serta menurunnya penggunaan sepeda motor atau mobil pribadi. Hibah alternatif ini secara sederhana dapat dikatakan sebagai langkah intervensi pemberdayaan atau revitalisasi, khususnya juga kepada angkutan Metromini dan Kopaja. Selanjutnya kita tidak lagi menemukan Metromini dan Kopaja yang sopirnya ugal-ugalan mengejar setoran, armadanya busuk terlalu tua dan asal beroperasi di bawah standar aman juga nyaman.

***
Jakarta, 22 Oktober 2012

Penulis:

Azas Tigor Nainggolan, Pengusaha Metromini dan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Yoga Adiwinarto, Country Director Institute for Transportation and Development Policy (ITDP)

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.