Kampanye Pilkada dan Bekerja Sama dengan Industri Rokok. (Release FAKTA) No. Reg Rilis 05/RLS/II/2018

Tahun 2018 ini adalah masa pemilihan kepala daerah (Pilkada) bersama bagi beberapa daerah kembali. Ada cara kampanye yang tidak menarik dilakukan para calon kepala daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beberapa calon kepala daerah mendatangi dan menjadikan pabrik rokok atau industri rokok sebagai tempat mendulang suara dan dukungan. Seperti diketahui bersama di kedua daerah ini terdapat pabrik rokok yang besar.

Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai cagub Jawa Timur mengawali masa kampanyenya dengan mengunjungi pabrik rokok Toppas di Malang (15/2/2018), disusul dengan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Puti Guntur Sukarno yang mengunjungi pabrik rokok Pakis Mas (19/2/2018). Tidak mau ketinggalan cagub Jawa Timur satunya, Khofifah Indar Parawansa yang berkunjung ke pabrik rokok Sampoerna di Malang (22/2/2018).

Sementara itu cagub Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunjungi pabrik rokok Nojorono di daerah Kudus Jawa Tengah (26/2/2018).
Fenomena kampanye dan mendulang dukungan dari industri rokok tentunya membuat pabrik rokok menjadi jumawa karena didatangi oleh orang-orang yang nantinya akan menjadi kepala daerah. Dalam kesempatan tersebut dijelaskan bahwa cagub tersebut telah bertemu dengan buruh yang sudah 47 tahun bekerja di pabrik rokok tersebut. Bila kita cermati, si buruh pabrik rokok mulai bekerja pada usia 18 tahun berarti usianya sekarang yaitu 65 tahun yang tentunya seharusnya sudah masuk masa pensiun.

Pada kesempatan dan cagub yang lain, ada buruh linting rokok di daerah Malang menyatakan bahwa mereka mendapat upah sebesar Rp 400.000,- perminggu yang kalau dijumlahkan perbulan berarti Rp 1.600.000,-. Tentu upah si buruh linting rokok itu masih jauh dari Upah Minimum Regional (UMR) kota Malang yang sebesar Rp 2.574.807,-. Para cagub dan cawagub tidak gerah mendengar dan melihat penderitaan para buruh pabrik yang mereka temui. Para cagub dan cawagub tidak meminta kepada para industri rokok agar memperbaiki kondisi dan kebijakan perburuhan di pabrik rokoknya.

Kondisi tenang dengan fakta menderita para buruh pabrik rokok itu menunjukan bahwa para cagub dan cawagub tidak memiliki posisi tawar dihadapan industri rokok. Kunjungan mereka ke pabrik rokok mengindikasikan kerja sama atau simbiosis mutualisme antara para cagub cawagub dengan para industri rokok. Arahnya jelas, keberpihakan para cagub cawagub jika menang di Pilkada maka akan berpihak pada industri rokok yang telah mendukung serta membantu mereka mendapat suara di pilkada. Sementara itu, para buruh industri rokok hanya dijadikan panggung pencitraan kampanye pilkada membela rakyat kecil dan sumber suara semata (atau deretan angka suara perolehan pilkada).

Jakarta, 2 Maret 2018
Azas Tigor Nainggolan
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Print Friendly, PDF & Email