Kampung Warna-warni di Pinggir Kali Cipinang Pikat Peneliti Asing

Kumparan– Wajah Jakarta tidak selalu semegah bangunan-bangunan modern di sekeliling Bundaran HI. Pemukiman sederhana di bantaran kali-kali di Jakarta juga menjadi salah satu wajah dari kota megapolitan yang menjadi jantung bagi NKRI tercinta.

Seperti wilayah di pinggiran Kali Cipinang ini yang dikenal dengan nama Kampung Warna Warni Penas Tanggul. Sebuah pemukiman sederhana di wilayah kelurahan Cipinang Besar Selatan yang dulunya sangat kumuh itu, kini mulai terkenal namanya hingga ke telinga para mahasiswa maupun peneliti dalam maupun luar negeri.

Erna, salah satu warga Kampung Warna Warni menceritakan pengalamannya menjamu tamu yang merupakan peneliti asing. Ibu Rumah Tangga yang juga memiliki proyek kerajinan tangan itu menceritakan kejadian lucu saat dirinya menjamu 22 mahasiswa asal Thailand yang datang dalam rangka melihat sisi lain Jakarta.

“Ada yang suka banget pas saya suguhin ikan teri dan sayur asem. Tadinya saya kirain bakalan nggak habis ternyata sampai habis juga. Terus ada juga yang bilang sayur asem mirip sama masakan sana yang namanya tom yum,” kata Erna saat berbincang dengan kumparan (kumparan.com) di rumahnya.

Tembok warna-warni Kampung Penas Tanggul. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Salah satu peneliti yang pernah datang ke Kampung Penas ini adalah Azas Tigor. Azas mengatakan kajian tesis S2-nya adalah tetang Kampung Warna-warni. Menurutnya banyak peneliti yang datang ke kampung ini untuk melakukan riset bidang penataan pemukiman warga miskin.

“Sudah sering peneliti dalam maupun luar negeri datang ke kampung ini, bahkan tesis S2 saya adalah tentang Kampung Warna Warni,” kata Azas Tigor Nainggolan, ketua Forum Warga Kota Jakarta atau FAKTA yang pernah melakukan riset di kampung ini.

Menurut Tigor perubahan Kampung Warna-Warni Penas Tanggul dari wajah lamanya patut diacungi jempol. Berkat peran aktif para aktivis, warga dan pengurus RT, kampung yang terletak tidak jauh dari halte Penas itu dianggap sukses menjadi model pemukiman sederhana di pinggir kali yang tidak kumuh.

“Perlu waktu sekitar 10 tahun untuk bisa merapikan kampung Penas. Saya ingin membuat proses perubahannya menjadi contoh bagi pemukiman pinggir kali lainnya,” kata Tigor.

Bocah-bocah Kampung Penas Tanggul. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Sekarang suasana angker Kampung Penas yang dulunya terkenal ramai dengan preman, kini hilang digantikan oleh warna-warni dari rumah-rumah mungil bertingkat dua yang menggantikan rumah-rumah kumuh pendahulunya.

Bahkan sekarang sudah tersedia musala kecil bernama Miftahul Huda yang menambah keasrian Kampung Warna Warni yang bebas asap rokok itu.

 

Print Friendly, PDF & Email