Kasus Korupsi KRL Hibah

By on April 2, 2011. Posted in .


“KPK melakukan penahanan atas yang bersangkutan dalam dugaan penyalahgunanan pengangkutan KRL hibah Jepang pada 2006-2007,” ujar Juru Bicara KPK Johan Budi SP, di gedung KPK, Kamis (31/3).

Dalam rangka pengembangan penyidikan, yang bersangkutan akan ditahan selama 20 hari terhitung sejak kemarin, di Rutan Cipinang. Johan menguraikan, tersangka diduga telah melakukan penggelembungan harga (mark up) dalam biaya transportasi pengiriman kereta tersebut, hingga mencapai 9 juta Yen.

Atas perbuatannya yang merugikan negara sebesar Rp 20 miliar dia dijerat pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tipikor, sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 KUHP.

Soemino menjalani pemeriksaan sekitar tujuh jam, sebelum akhirnya ditahan. Namun, usai menjalani pemeriksaan, dia menolak berkomentar. Tersangka yang kala itu mengenakan baju safari coklat tersebut, langsung memasuki mobil tahanan yang telah menunggunya. .

Seperti diketahui, kasus tersebut bermula ketika Sumitomo, perusahaan asal Jepang menghibahkan 60 unit KRL bekas ke pemerintah Indonesia pada tahun 2006-2007. KRL bekas tersebut terdiri atas 30 unit KRL tipe 5000 milik Tokyo Metro dan 30 unit KRL bekas tipe 1000 dari Toyo Rapid Railway. Dalam perjanjian hibah antara pemerintah Indonesia, pengiriman KRL tersebut dikirim dengan biaya yang dibebankan kepada penerima hibah oleh Sumitomo.

Nilai proyek tersebut mencapai Rp 48 miliar. Namun, terkait pengiriman KRL tersebut, diduga telah terjadi penggelembungan harga hingga mencapai 9 juta Yen. Akibat mark up tersebut, negara mengalami kerugian sekitar Rp 11 miliar. Saat itu Menteri Perhubungan dijabat oleh Hatta Radjasa.

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.