Kawasan Dilarang Merokok: Udara Bersih Hak Setiap Warga Negara

By on June 6, 2014. Posted in , .

Penerapan Kawasan Dilarang Merokok (KDM) atau sering juga Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Jakarta rupanya masih belum didukung sepenuhnya. Dapat dikatakan bahwa sampai saat ini warga Jakarta sendiri termasuk oleh pemerintah daerahnya secara utama. Padahal jelas bahwa Jakarta memiliki Perda No: 2 Tahun 2005 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara serta Pergub No: 75 Tahun 2002 Tentang Kawasan Dilarang Merok dan diperbaharui melalui Pergub No: 88 Tahun 2010 Tentang Kawasan Dilarang Merokok, tapi sampai saat ini masih banyak penolakan oleh warga Jakarta sendiri dalam bentuk perlawanan secara sadar melanggar bahkan menggugat ke pengadilan. Begitu pula pemerintah daerah (pemda) Jakarta masih malu-malu atau bahkan malas melakukan penegakan KDN sesuai mandat ketiga peraturan di atas.

agahgy

Kondisi inilah akhirnya membuat warga Jakarta yang ingin mempertahan haknya untuk hidup sehat bebas asap rokok mendapat kendala sangat berat. Jelas-jelas diatur dalam Pergub 75 dan 88 bahwa Kawasan Dilarang Merokok atau KDM adalah: Kawasan Tempat Pendidikan, Tempat Pelayanan Kesehatan, Arena Bermain Anak, Tempat Bekerja, Tempat Ibadah, Angkuytan Umum dan Tempat Umum lainnya. Coba kita perhatikan secara seksama, apakah memang ke tujuh kawasan tersebut di Jakarta sudah menjadi Kawasan Dilarang Merokok? Dalam angkutan umum masih ada pengguna dan pengemudi yang merokok. Di sekolah-sekolah masih sering kita temui guru-guru yang merokok secara sembunyi-sembunyi. Begitu pula di rumah sakit tak jarang kita temui pengunjung yang merokok sembarang di area rumah sakit. Sama juga di kaasan tempat ibadah masih saja ada orang yang merokok sembarangan di halaman-halamannya. Suatu ketika juga saya saat melayat seorang warga yang wafat, para petugas dan pengunjung secara bebas merokok di dalam ruangan kamar jenasah.

Selama ini selalu dikatakan bahwa hanya mal, pusat perbelanjaan dan restauran yang masuk level kelas menengah ke bawah saja masih banyak pengunjung merokok. Beberapa hari lalu terkaget-kaget ketika memenuhi undangan makan sidang seorang kawan di restauran Chatter Box, sebuah restauran elit kelas atas di kawasan Plasa Senayan Jakarta Selatan. Saat saya masuk melihat ada bagian ruang bagi pelanggan merokok dan juga beberapa orang pengunjung yang sedang menghisap rokok.   Padahal restauran Chatter Box berada di lantai 5 dalam gedung yang tertutup. Ketika itu saya berpikir dan memilih ruangan khusus agar tidak bau asap rokok dan tercemar oleh asap perokok pengunjung lain. Namun ketika saya masuk ruang khusus itu, di dalamnya ada asbak rokok dan di langit-langit ruang itu terdapat alat penghisap udara (heksos). “Wah berarti dalam ruangan ini pengunjungnya bisa bebas merokok”, pikir saya. Artinyanya kunjungan saya itu membuktikan bahwa pelanggaran Kawasan Dilarang Merokok bukan hanya ada di kawasan masyarakat kelas bawah tetapi juga secara terbuka dilakukan oleh kelas elit atau atas.

Semua pelanggaran KDM itu menunjukkan bahwa betapa masih besarnya penolakan dari warga Jakarta sendiri dan pemdanya membiarkan. Dalam sebuah berita media on-line Kompas.com pada Senin, 2 Juni 2014 | 18:31 WIB, Wakil Gubernur Jakarta, Ahok mengatakan: “Restoran Ditutup jika Pengunjungnya Merokok Sembarangan”. Ahok menyatakan dalam berita Kompas.com itu bahwa setelah menerapkan peraturan anti-narkoba, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menerapkan peraturan anti-rokok. Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, untuk tahap awal, peraturan tersebut akan diterapkan di restoran dan kafe.

Nah untuk itu Ahok menyarankan agar semua restoran dan kafe menyediakan area khusus bagi perokok. Bila tidak, maka Basuki menyatakan tidak akan segan-segan untuk mencabut izin restoran dan kafe yang pengunjungnya kedapatan merokok di area yang tidak semestinya. “Berikutnya kita juga mau sikat yang merokok di dalam restoran atau tempat hiburan yang bukan di tempatnya. Kalau ketemu dua kali, kita akan cabut izinnya,” kata Basuki di Balaikota Jakarta, Senin (2/6/2014). http://megapolitan.kompas.com/read/2014/06/02/1831460/Ahok.Restoran.Ditutup.jika.Pengunjungnya.Merokok.Sembarangan

Melihat sikap dan pernyataan Ahok di atas cukup membingungkan. Menurut Perda 88 Tahun 2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok justru pengelola 7 kawasan yang diatur justru tidak boleh menyediakan area khusus bagi perokok. Namun di sisi pernyataan lainnya Ahok mengatakan bahwa orang tidak boleh merokok di dalam restoran. Baiklah, mari kita dorong dan dukunga pernyataan Ahok yang mengatakan akan menindak dan menutup restoran jika di ada pengunjungnya yang merokok di dalam restoran. Sikap dan pernyataan Ahok cukup menyegarkan bagi penegakan Kawasan Dilarang Merokok dan bagi perlindungan hak atas udara bersih warga Jakarta.

Catatan selanjutnya adalah jika memang pemda Jakarta ingin melindungi hak atas udara bersih warganya dan, mewujud sikap Ahok di atas maka harus ada upaya penegakan peraturan Kawasan Dilarang Merokok. Tidak lagi seperti sekarang, dimana pemda terkesan membiarkan pelanggaran peraturan KDM dan melindungi para pelanggar seperti Restoran Chatter Box, Bus umum yang penumpang dan pengemudinya merokok atau mal yang penuh asap rokok. Penegakan dapat dilakukan dengan pengawasan serta penindakan tegas secara konsisten agar parta pelanggar itu takut dan jera. (ATN)

 

Jakarta, 6 Juni 2014

Penulis: Azas Tigor Nainggolan

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.