Kepungan Iklan Rokok Masif di Sekolah

By on February 27, 2017. Posted in .

391471957137Jakarta – Di Indonesia, industri rokok masih sangat leluasa melakukan iklan, promosi, dan sponsor. Indonesia bahkan merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang belum melarang total iklan, promosi, dan sponsorship rokok. Padahal UU 36/2009 tentang Kesehatan Pasal 113 menetapkan bahwa rokok adalah zat adiktif, maka seharusnya tidak layak untuk diiklankan.

Kepungan iklan, promosi, dan sponsorship rokok kian masif di sekolah-sekolah. Hasil pantauan yang dilakukan di lima kota menemukan bahwa 85 persen sekolah mulai SD hingga SMA dikelilingi iklan rokok. Hampir semua sekolah yang dimonitori dikelilingi berbagai iklan rokok, seperti poster, spanduk, umbul-umbul, billboard, dan bentuk lainnya.

Kebanyakan atau sekitar 62 persen iklan rokok ditemukan di warung atau toko di sekitar sekolah, sisanya di jalan-jalan sekitar sekolah. Tidak hanya itu, industri rokok menjual rokok dengan harga yang sangat murah bahkan dibeli ketengan dengan harga Rp 1.000.

“Spanduk reklame rokok yang terpasang di warung sekitar sekolah dan mencantumkan harga rokok per batang menggoda anak-anak usia sekolah untuk mencoba rokok. Dengan mencantumkan harga rokok per batang, anak sekolah menjadi tergiur dan bisa memperhitungkan uang sakunya untuk membeli rokok,” kata Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari di Jakarta, Rabu (23/2).

Lisda mengatakan, ada 61 merek rokok yang beriklan di sekitar sekolah. Tujuan mereka untuk menanamkan pada anak-anak bahwa rokok adalah produk yang normal. Tak heran bila hasil Global Youth Tobacco Survey 2014 di Indonesia menunjukkan 2 dari 5 siswa adalah perokok aktif dan 3 dari 5 siswa membeli rokok di warung atau kios.

“Sudah seharusnya pemerintah hadir untuk melindungi anak-anak dari target industri rokok dengan melarang iklan rokok secara menyeluruh melalui sebuah regulasi,” kata Lisda.

Berbagai studi membuktikan bahwa iklan, promosi dan sponsor rokok memeengaruhi anak dan remaja untuk mencoba konsumsi rokok. Survei yang dilakukan Uhamka dan Komnas Perlindungan Anak menemukan 46 persen remaja berpendapat bahwa iklan rokok memeengaruhi mereka untuk mulai merokok, dan 99,6 persen anak usia 13-15 tahun melihat iklan rokok di luar ruang.

Sementara Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukan hampir 80 persen atau sekitar 16,4 juta perokok memulai merokok sebelum usia 19 tahun. Merokok pertama kali paling tinggi pada kelompok 15-19 tahun.

Jika permasalahan ini terus dibiarkan, menurut Lisda, Indonesia akan terus mendapatkan berbagai ancaman bagi masa depan bangsa, yaitu ancaman kesehatan dan juga ancaman tidak dapat menikmati bonus demografi pada tahun 2025-2035 mendatang.

Pendampingan
Bertolak dari permasalahan tersebut di atas, Yayasan Lentera Anak bersama Ruandu Foundation dan Gagas Foundation bekerjasama dengan Dinas Pendidikan melakukan pendampingan kepada 90 sekolah di lima kota, yaitu Padang, Mataram, Bekasi, Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor.

Program ini mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program pendampingan sekolah bertujuan memperkuat komitmen sekolah dan komunitas di sekitar sekolah untuk melindungi siswa dari target pemasaran industri rokok.

Berbagai kegiatan dilakukan di sekolah untuk membangun kesadaran kritis siswa agar dapat menolak jadi target industri rokok. Kegiatan itu, antara lain capacity building, edukasi, sosialisasi, aksi kreatif, menggalang dukungan masyarakat dan sebagainya.

“Pendampingan ini melibatkan lebih dari 2.700 siswa yang menjadi penggerak di sekolahnya dan memperkuat komitmen sekolah sebagai kawasan tanpa rokok,” kata Lisda.

Untuk membangun kesadaran yang lebih luas di kalangan siswa maupun guru agar menolak menjadi target industri rokok dan mewujudkan sekolah sebagai kawasan tanpa rokok, program ini juga mengusung kampanye online dan offline dengan menggunakan hashtag #TolakJadiTarget yang digunakan secara nasional di 90 sekolah.

Sejak program ini dimulai pada Juni 2016, beberapa program berhasil dicapai. Di antaranya, 90 sekolah tersebut membangun kesadaran kritis untuk menolak jadi target industri rokok. Mereka juga berkomitmen untuk menerapkan kawasan tanpa rokok dan melindungi siswa dari target industri rokok.

Masyarakat, RT/RW dan komunitas di sekitar 90 sekolah itu mendukung sekolah sebagai kawasan tanpa rokok dan mengganti spanduk dan poster iklan rokok dengan yang lain. Spanduk lain ini berisi pesan dukungan untuk melindungi anak dari target industri rokok serta mewujudkan sekolah sebagai kawasan tanpa rokok.

Sebelumnya, Hasna Pradityas dari Smoke Free Agents (SFA) mengatakan, secara berkala industri kehilangan pelanggan setianya yang memutuskan untuk berhenti merokok atau meninggal. Karena itu, industri tengah berupaya keras menemukan perokok baru sebagai pengganti.

Untuk tujuan itu, industri membangun strategi kampanye dengan menyasar anak dan perempuan sebagai perokok baru jangka panjang. Berbagai studi menunjukkan paparan iklan dan promosi rokok sejak usia muda meningkatkan persepsi positif dan menguatkan keinginan untuk merokok.

Bahkan mendorong perokok muda tetap merokok dan melemahkan upaya mereka untuk berhenti (perokok kambuhan). Industri menghabiskan triliunan rupiah untuk promosi dan iklan produk yang tidak ada manfaatnya ini.

 

sumber: http://www.beritasatu.com/kesehatan/416325-kepungan-iklan-rokok-masif-di-sekolah.html

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.