Layanan Kesehatan dan Pendidikan di DKI Semakin Baik

By on March 5, 2012. Posted in .

Ketua Fakta, Azas Tigor Nainggolan mengatakan, survei dilakukan selama satu setengah tahun terakhir dan menunjukkan pelayanan kesehatan terbaik justru berada di puskesmas dibandingkan rumah sakit. Sebab, faktor birokrasi dinilai masih menghambat pelayanan kesehatan di rumah sakit. Sementara di puskesmas, prosedurnya mudah dan tidak ribet. Karena, puskesmas berada di kelurahan sehingga tidak terjadi penumpukan pasien serta pelayanannya yang cepat. “Ini yang menyebabkan puskesmas menjadi pilihan yang baik bagi masyarakat menurut hasil survei yang kami lakuka,” ujar Tigor, usai peluncuran buku Si Miskin Tidak Lagi Dilarang Sakit dan Sekolah yang berlangsung di Jl Komp UKA RT 10/8 Tuguutara, Koja, Minggu (4/3).

Dikatakan Azas, buku ini juga menjawab kesalahpahaman bahwa selama ini warga miskin susah berobat dan susah sekolah. Di buku ini, sambungnya, justru pelayanan di puskemas sudah lebih mudah dibanding rumah sakit. “Sekarang warga mulai mudah dengan adanya kartu Gakin dan kartu JPK Gakin (jaminan pelayanan kesehatan keluarga miskin) untuk memperoleh kesehatan, karena anggaran gakin untuk tahun 2012 mencapai Rp 500 miliar,” katanya.

Selain itu, masalah lainnya yang ada dalam buku ini, yaitu masalah pendidikan, yang sebelumnya selalu ada kesulitan. Namun, setelah dicanangkan pendidikan wajib 9 tahun ada sedikit perubahan. Misalnya, angka anak tidak sekolah telah terjadi penurunan, karena adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah pusat. Terlebih, Pemprov DKI Jakarta juga membuat Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) untuk pengembangan fasilitas sekolah. “Kami juga akan mengusulkan wajib belajar 12 tahun di tahun 2013 mendatang. Rencannya, ke depan masuk SMA gratis, dan Gubernur DKI Jakarta mendukung mulai 2013 masuk SMA gratis dan dananya akan diambil dari APBD sebesar Rp 30 triliun,” ucap Tigor.

Dijelaskan Azas, pihaknya akan melanjutkan survei untuk persiapan wajib belajar 12 tahun di Jakarta mulai tahun 2013. Selain itu, pihaknya juga menginginkan warga miskin untuk menikmati sekolah yang berkualitas dan tidak ala kadarnya. “Sekolah di Jakarta akan ditekan, seperti sekolah yang bertaraf internasioal, 20 persen wajib menampung anak yang tidak mampu. Ini yang akan kita dorong agar anak miskin di Jakarta bisa menikmati pendidikan yang berkualitas pada pendidikan wajib belajar 12 tahun nanti,” ungkapnya.

Ditambahkan Tigor, yang dibutuhkan anak miskin setiap bulannya untuk siswa SMA sebesar Rp 250 ribu per bulan, siswa SMP Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. “Itu yang sudah dicover oleh BOS untuk biaya sekolah dan BOP untuk biaya buku. Ditambah beasiswa dari yayasan beasiswa Jakarta, misalnya mahasiswa yang IP nya minimal 2,7 mendapat beasiswa. Ini yang harus dipertahankan dan dikembangkan selanjutnya,” tuturnya.

Selama ini, lanjut Tigor, Fakta selalu membuka pos pengaduan pada penerimaan siswa baru setiap tahunnya, dan terjadi penurunan pengaduan di DKI Jakarta. Namun, saat ini pihaknya mendorong akses pada sistem penerimaan siswa baru, agar orang tua lebih nyaman. “Memang sudah ada sistem internet, tetapi banyak orangtua murid yang belum bisa menggunakannya. Tetapi, alasan digunakannya internet untuk menghindari percaloan dan juga transparansi penerimaan siswa baru,” ungkapnya.

Sedangkan latar belakang dibuatnya buku tersebut, diungkapkan Azas, untuk mendorong perbaikan kesejahteraan warga miskin di Jakarta. “Kami menampilkan LSM yang memang bagian dari masyarakat. Tapi, kami tidak ingin pemerintah dikritik tapi tidak diperkuat. Peluncuran buku ini bukan tujuan utamanya, tapi menyosialisasikan tentang Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan DKI Jakarta. Hal ini juga melibatkkan Dinas Pendidikan dan Kesehatan DKI Jakarta,” katanya.

Buku yang berjudul Si Miskin Tidak Lagi Dilarang Sakit dan Sekolah berisi masukan-masukan dan keluhan-keluhan dari warga Jakarta yang dikemas sebanyak 188 halaman dan diterbitkan Fakta dan Yayasan Tifa. “Buku ini dibuat sebanyak seribu eksemplar dan disebar ke masyarakat Jakarta secara gratis,” ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menuturkan buku ini merupakan ungkapan dari ekspresi Fakta berdasarkan penelitian kajian sebelumnya bersama dengan Litbang Kompas. “Buku ini bukan hanya sekadar ungkapan atau ekspresi dari pribadi seseorang, tetapi dari kelompok berdasarkan penelitian dan kajian,” ujar Fauzi.

Dikatakan Fauzi, dirinya merasa gembira bahwa Fakta atau data-data yang ada ini menunjukkan kemajuan dari upaya Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan. “Saya rasa warga Jakarta wajib bersyukur kepada Tuhan dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Tapi, saya berpendapat lebih baik sehat daripada berpenyakit. Ini yang selalu kita dorong dan ingatkan untuk menerapkan pola hidup yang sehat,” tandasnya.

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.