Layani Penderita IMS, Perangi Lelah dan Jijik

By on October 19, 2012. Posted in .

“Orang-orang memang paling takut dengan penyakit ‘tiga huruf’ (sex-red) itu. Tidak hanya penderitanya saja, kami sebagai tenaga medis juga takut dan was-was dalam menangani pasien,” ujar dr. Inda Mutiara (43), Kepala Puskesmas Mangga Besar sekaligus penanggung jawab Klinik Jelia? di Kelurahan Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat saat ditemui baru-baru ini.

Bergeliat selama empat tahun di Klinik Jelia, yang berada di lantai dua Puskesmas Mangga Besar, Inda menuturkan bahwa menghadapi para penderita infeksi seksual menular memiliki ketegangan dan tantangan tersendiri. Selain harus ekstra hati-hati dalam penanganan pasien, Inda dan empat tenaga medis klinik lainnya harus melawan rasa ngeri dan jijik terhadap penyakit yang diderita si pasien.

“Dalam menangani pasien yang terkena penyakit seks, jujur saja kami sebagai tenaga medis ya sangat takut tertular. Sedikit saja tidak hati-hati, kita bisa ikut kena,” ujar ibu dari dua anak ini. Diposisikan sebagai dokter yang harus menangani penyakit seksual pun sama sekali bukan pilihannya dari awal.

“Awalnya saya ditempatkan di Puskesmas Kebayoran Baru sebagai dokter umum. Pada tahun 2009, saya ditempatkan di Klinik Jelia hingga sekarang,” ujar Inda. Penempatannya di Klinik Jelia yang berdiri sejak tahun 2004 itu pun, menurutnya, lantaran dirinya pernah menjalani pelatihan untuk pengobatan penyakit seksual menular.

Inda menjelaskan, selain dirinya, sebenarnya ada beberapa dokter lain yang dicalonkan untuk ditempatkan di Puskesmas Mangga Besar dan Klinik Jelia. Namun, para dokter tersebut menolak karena merasa takut dan belum siap menangani penyakit seksual menular. “Akhirnya saya deh yang ditempatkan disini,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti tahun 1999 itu.

Menjalani pekerjaan yang penuh resiko itupun sempat dipertanyakan oleh sang suami. “Suami saya bukan dari latar belakang medis, jadi kurang paham pada awalnya. Tapi setelah saya jelaskan bahwa ini adalah tugas yang harus saya kerjakan, suami saya akhirnya mengerti,” kata warga Cinere, Jakarta Selatan itu.

Inda menjelaskan, ia dan para tenaga kesehatan Klinik Jelia setiap harinya harus berhadapan dengan sejumlah pasien dengan segudang problematika. Mulai dari pasien yang terjangkit sipilis, gonorrhea atau GO (kencing nanah-red), raja singa, jengger ayam, sampai orang-orang yang stress berat karena mengidap HIV AIDS.

?Dalam sehari, kami bisa kedatangan pasien sekitar lima sampai 10 orang. Rata-rata yang datang memang wanita penghibur. Tidak heran karena klinik kita berada di tengah-tengahj puluhan lokasi hiburan malam,? kata Inda. Selain wanita penghibur, Inda juga kerap menerima pasien lelaki yang pada umumnya adalah waria dan gay.

Khusus untuk penanganan penyakit seksual menular, Inda menuturkan bahwa persiapan yang dilakukan harus matang supaya pemeriksaan pasien bisa berjalan lancar. Sejumlah atribut kedokteran seperti masker, sarung tangan, dan baju apron disposable pun menjadi ‘seragam’ wajib bagi Inda dan para tenaga kesehatan klinik. Kendati demikian, menurut Inda, resiko pun masih tetap ada.

?Walau persiapan sudah matang, tetap kita harus waspada, karena selama proses pemeriksaan kita pasti bergesekan dengan si penderita. Sedikit cairan dari organ kelamin si penderita sangat mungkin menular ke kita. Bayangkan saja jika kita memeriksa seorang penderita jengger ayam (bentuknya seperti kutil-red), lalu tapa sadar ada cairan yang menciprat ke kulit kita. Ke jidat misalnya. Coba bayangkan apa yang terjadi,? ujar Inda sembari tertawa.

Rasa jijik pun kerap menghinggapi Inda jika harus berurusan dengan pasien yang tingkat penyakit seksual menularnya sudah sangat parah. ?Apalagi waktu awal-awal dipindahkan. Kita pernah dapat pasien jengger ayam yang jenggernya sduah sampai ke selangkangan dan paha, mirip seperti kembang kol. Waktu itu saya jijik sekali, sampai tidak berani lihat saat menyiram jenggernya dengan obat,? kata Inda.

Begitupula saat menangani penderita HIV AIDS. Ia menuturkan, jika tangan atau bagian tubuh lainyya terkena jarum suntik bekas darah pasien, sangat besar kemungkinannya virus HIVAIDS pada darah di jarum tersebut tertular padanya. ?HIV AIDS kan bisa menular lewat darah. Karena itulah, jangan karena kurang hati-hati, malah kena penyakit yang belum ada obatnya,? ujar Inda.

Kedukaan yang dialami Inda bersama tiga tenaga medis klinik lainnya pun tak sekadar saat pemeriksaan di klinik saja. Melalui kerjasama dengan beberapa Lembaga Sosial Masyarakat, Klinik Jelia berkesempatan untuk melakukan pelayanan mobile ke tempat-tempat hiburan malam. ?Karena tingkat kesadaran orang untuk memeriksakan kesehatannya masih rendah, kami harus melakukan sistem jemput bola, seperti ke tempat karaoke maupun panti pijat untuk memeriksa kesehatan wanita penghibur,? kata Inda.

Karena pemeriksaan dilakukan diluar, para tenaga kesehatan klinik pun harus mebawa alat-alat pemeriksa kelamin, seperti spekulum, cotton tip, dan kaca objek. Waktu pemeriksaan yang dijalankan pada siang hari itu kerap membuat Inda lelah menunggu, karena sebagian besar wanita penghibur masih sibuk melayani tamunya. Sekadar untuk diketahui Klinik Jelia hanya memiliki lima orang tenaga kesehatan,yakni satu orang dokter, dua bidan, satu pemeriksa laboratotium, dan satu orang di bagian administrasi.

?Karena yang kami periksa banyak, maka kami harus bawa semua alat pemeriksa alat kelamin. Satu orang diperiksa satu alat, dan alat-alat itu berat sekali. Kadang kita sudah dateng bawa alat-alat itu, eh yang mau diperiksa masih ada tamu dulu. Ya sudah deh, kita bengong-bengong dulu. Meriksa 10 pasien saja bisa makan waktu tiga jam,? kata Inda.

Belum lagi tingkah para pasien yang langsung datang menemui Inda untuk melakukan pemeriksaan tanpa bersih-bersih terlebih dahulu. ?Ada pasien yang baru selesai layanin tamu, langsung ke kita untuk periksa. Ya kelihatan kan sperma dan bengkaknya kalau baru selesai berhubungan,” kata Inda lagi.

Kendati yang dilakukannya terasa berat baik fisik maupun mental, Inda mengakui bahwa ia dan para tenaga medis lainnya tetap bekerja sepenuh hati. Menimati pekerjaan adalah kunci utama Inda dan kawan-kawan bisa tetap serius menjalani profesi mereka. “Kalau kita enjoy, beban kan jadi nggak kerasa. Walau kalau dipikir-pikir sebenarnya nyebelin juga ya. Yang berbisnis siapa, yang enak siapa, kita kebagian penyakit-penyakitnya aja,” ujar Inda bergurau.

Keluh kesah yang dirasakan Inda pun turut dialami oleh Novalina, bidan di Puskesmas Mangga Besar? dan Klinik Jelia. Sama seperti Inda, Novalina pun awalnya merasa geli jika harus menangani wanita yang terjangkit penyakit seks menular. ?Beberapa hari pertama, saya malah sama sekali nggak berani lihat. Tapi karena sudah tugas, ya mau nggak mau harus berani,? kata Novalina.

Perasaan jijik dan iba pun kerap berkecamuk di batin Novalina setiap ia melayani pasien. ?Apalagi kalau pasiennya masih ABG, masih belasan tahun, tapi sudah harus jadi wanita penghibur. Dengar cerita dia saja saya sudah miris. Belum lagi kalau alat kelaminnya luka akibat perbuatan tamunya. Itu kan sama saja mereka diperkosa. Dari penuturan dan kondisi fisik mereka kita jadi merasa kasihan dan bertanggung jawab untuk mengobati mereka,? ujar Novalina yang sudah berada di Klinik Jelia sejak tahun 2004.

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.