Masih Ada Warga Miskin DKI yang Dipungut Biaya di RSUD

By on November 19, 2012. Posted in .

Neni diminta pungutan sebesar Rp 750.000 sebagai uang muka untuk mendapat tindakan di UGD. Tak hanya itu, Muhamad Jaelani (42), suami Neni yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan kota 97 rute Cibubur-Bulak Sereh ini mengaku sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 610.000 untuk dua kali penebusan obat di RSUD Pasar Rebo. Jaelani juga sudah menyiapkan uang dari hasil pinjaman ke tetangganya sebesar Rp 209.000 untuk penebusan obat ke tiga dari resep yang dikeluarkan pihak rumah sakit. ?

Bukan itu saja, pihak rumah sakit juga memberikan kuitansi tagihan perawatan dan operasi Neni sebesar Rp 11,6 Juta. Uang tagihan itu dianggap hutang dan menjadi kewajiban Jaelani untuk membayarnya ke pihak rumah sakit. Jaelani menyatakan tak sanggup harus membayar uang sebanyak itu. ?

“Diminta uang sebesar itu, saya mengaku tidak sanggup karena saya miskin,” kata Jaelani saat dihubungi, Selasa (13/11). ?

Pada Senin (12/11) malam, sekitar pukul 23.00 WIB, Neni mengalami pendarahan hebat, dan langsung dibawa ke UGD RSUD Pasar Rebo. Saat di ruang UGD, dikatakan Jaelani dirinya ditagih uang Rp 750.000 oleh petugas administrasi rumah sakit. Alasannya, uang itu merupakan uang muka perawatan. Karena tak mempunyai uang, dirinya tak membayar tagihan tersebut. ?

?”Istri saya tidak diberikan tindakan apa-apa oleh dokter. Padahal saya punya KTP DKI dan KK. Katanya untuk warga miskin dengan KTP dan KK DKI, berobat gratis. Tapi saya tetap dimintai uang,” kata Jaelani. ? Jaelani akhirnya meminta bantuan tetangganya bernama Normansyah, yang merupakan anggota LSM Fakta. Didampingi oleh Anca, sapaan Normansyah, pihak rumah sakit baru kemudian melakukan tindakan pada Neni. “Istri saya lalu dioperasi selama sekitar dua jam, rahimnya dibersihkan,” kata Jaelani. ?

Setelah jalani operasi, Neni menjalani perawatan intensif. Namun, keterkejutan Jaelani dengan pungutan yang dilakukan rumah sakit belum usai. Dia diminta menebus obat resep sebesar Rp 211.000. “Saya tidak punya uang, akhirnya saya pinjam tetangga,” kata Jaelani yang sehari-harinya hanya berpenghasilan Rp 40.000. ?

Tak hanya itu, Jaelani juga menerima kuitansi tagihan dari pihak rumah sakit sebesar Rp 11,6 juta. Jumlah tersebut dengan rincian, pembayaran operasi besar serta sejumlah obat-obatan, perawatan UGD, biaya perawatan di kamar ICU serta biaya beli darah. “Untuk kamar ICU sehari Rp 1,5 juta. Saya bingung harus bayar dengan apa uang Rp 11,6 juta itu. Kata pihak rumah sakit, saya harus bayar uang itu nanti,” keluh Jaelani. ?

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Kepala Humas RS Pasar Rebo Deddy Suryadi membantah pihaknya menagih biaya kepada pasangan Jaelani dan Neni. Dikatakan, rekening tagihan Neni sudah nol rupiah, atau tidak dipungut biaya sama sekali. ? “Tagihannya nol, walaupun Kartu Keluarganya belum dilengkapi stempel. Kami cuma meminta kepada keluarga agar Kartu Keluarga yang dilampirkan dilengkapi dengan stempel kelurahan. Itu saja,” katanya. ?

Dikatakan Deddy, Neni memang tidak serta merta mendapat pelayanan kesehatan gratis. Pasalnya, Neni, belum memiliki Kartu Jakarta Sehat. Namun setelah mengetahui, Neni berasal dari keluarga miskin, pihak rumah sakit langsung membebaskan dia dari biaya berobat di rumah sakit. ? “Tidak ada pungutan apa pun. Kalau disuruh menebus obat, silahkan dilaporkan ke bagian marketing agar diperiksa kembali,” katanya.

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.