Meliburkan anak sekolah untuk Asian Games.

Barusan saya diwawancarai seorang teman wartawan tentang rencana gubernur Jakarta dan panitia lokal Asian Games mau meliburkan anak sekolah untuk kejar target waktu perjalanan atlet. Target perjalanan atlet dari penginapan ke tempat pertandingan 35 menit. Guna mengejar target itu maka gubernur dan panitia lokal berencana meliburkan anak sekolah agar mengurangi kemacetan dan mengejar target waktu perjalanan atlet.

Pantas dia dipecat dari menteri pendidikan oleh Jokowi ya. Ya pantas dia memang tidak punya visi pendidikan. Bisa-bisanya mengorbankan pendidikan anak bangsa dan menempatkan pendidikan sebagai sebuah masalah penyebab kemacetan.

Urusan olah raga yang Indonesia tidak punya prestasi kok mengalahkan pendidikan dan masa depan anak bangsa ini. Memangnya Indonesia bisa juara umum di Asian Games? Tapi kok pilih solusi kemacetan dan Asian Games malah mengorbankan masa depan pendidikan anak? Sebuah pemikiran yang sangat tidak cerdas meliburkan anak sekolah hanya untuk kegiatan olah raga.

Soal kemacetan Jakarta kan sebab utamanya adalah tingginya penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Sedangkan angkutan anak sekolah kecil sekali dampaknya untuk kemacetan Jakarta, ya paling hanya sekitar 14% menyumbang kemacetan. Jadi tidak pengaruh banyak memecah kemacetan perjalanan atlit. Ada beberapa skenario mengurangi kemacetan untuk perjalanan atlit Asian Games:
1. Naikkan tarif parkir semahal mungkin, seperti Cina saat Olimpiade menaikkan tarif parkir sampai 5 kali lipat.
2. Melarang kendaraan pribadi lewat pada jalan rute perjalanan atlit selama penyelenggaraan Asian Games.
3. Menata ulang rute angkutan massal yang ada untuk membantu skenario nomor 2.

Jakarta, 15 Pebruari 2018
Azas Tigor Nainggolan
Analis Kebijakan Transportasi dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA).

Print Friendly, PDF & Email