No. Reg Rilis 003/RLS/I/2019. Release FAKTA Kartu Tiket Transportasi Harusnya Satu, Terintegrasi tiketnya. Catatan Singkat Tentang Kartu JakLingko.

No. Reg Rilis 003/RLS/I/2019

Release FAKTA

Kartu Tiket Transportasi Harusnya Satu, Terintegrasi tiketnya.

Catatan Singkat Tentang Kartu JakLingko.

Beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman promosi penjualan kartu tiket JakLingko, alat pembayaran untuk layanan transportasi publik yang dikeluarkan oleh pemprov Jakarta. Kartu tersebut hanya bisa digunakan untuk layanan Transjakarta serta angkot atau bus yang menjadi feeder (pengumpan). Masyarakat yang hendak memiliki kartu JakLingko harus membeli seharga Rp 10.000 dengan isi kosong.

Penerbitan kartu JakLingko ini aneh dan mengada-ngada. Selama ini sudah ada kartu Transjakarta atau uang elektronik yang digunakan untuk membayar layanan Transjakarta. Mengapa pula harus membuat dan menjual kartu baru lagi, JakLingko? Mengapa tidak sistem kartu yang sudah ada saja yang digunakan untuk layanan transportasi Jakarta JakLingko?

Sekarang ini juga sudah ada rencana pemberlakuan sistem tiketing untuk moda Transportasi KRL Jabodetabek, MRT dan LRT. Ketiga moda yang dikelola oleh BUMN di atas tetap bisa menggunakan uang elektronik yang sudah ada dan sudah digunakan di KRL dan Transjakarta atau juga membayar Tol. Nah melihat kepentingan integrasi layanan transportasi massal publik di Jabodetabek seharusnya sistem layanan JakLingko seharusnya sama dengan atau terintegrasi dengan sistem tiketing ketiga moda transportasi publik yang dikelola oleh BUMN (KRL, MRT dan LRT). Jadi tidak perlu lagi membuat dan menjual kartu JakLingko sendiri karena akan menyulitkan masyarakat harus membeli lagi serta menambah kartu selain kartu uang elektronik yang sudah berlaku.

Jika memang mau membangun layanan yang terintegrasi serta mempermudah masyarakat pengguna angkutan umum, sistem kartu atau tiketingnya sebaiknya terintegrasi dalam satu sistem. Tidak perlu ada sistem tiket lain (JakLingko) di dalam sistem yang sudah nasional. Aneh jika ada kartu lain lagi dan mengesankan pemprov Jakarta mau menjegal atau menolak sistem yang dibuat kebijakannya secara nasional. Janganlah mempolitisasi kebijakan layanan publik, transportasi publik hanya karena “haluan” atau kepentingan politik pemprov Jakarta berbeda dengan pemerintah pusat. Mempolitisasi layanan publik hanya akan menyulitkan serta melanggar hak masyarakat sebagai pengguna layanan publik.

Jakarta, 4 Januari 2019
Azas Tigor Nainggolan 
Analis Kebijakan Transportasi dan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA).

Print Friendly, PDF & Email