No. Reg Rilis 020/RLS/III/2019. Perang Tarif Aplikator Ojek Online Merugikan Pengemudi dan Penggunanya.

No. Reg Rilis 020/RLS/III/2019

Perang Tarif Aplikator Ojek Online Merugikan Pengemudi dan Penggunanya.

Beberapa waktu dipublikasi sebuah hasil penelitian terkait rencana kenaikan tarif Ojek Online. Penelitian tersebut menyatakan bahwa kenaikan tarif ojek online (Ojol) akan berakibat buruk turunnya pengguna Ojol dan meningkatkan kembali penggunaan kendaraan pribadi. Hari-hari ini terjadi perang tarif Ojol yang kian rendah dan sangat murah dilakukan oleh kedua aplikator Ojol. Saat ini tarif Ojol nyaris menyentuh angka Rp 1.000 per Km dan diterima para pengemudi hanya sekitar Rp 800 – Rp 900 per Km setelah dipotong komisi 20% oleh pihak aplikator setiap ordernya.

Klaim para aplikator bahwa tarif murah lebih disukai oleh para pengguna Ojol. Para aplikator juga mengatakan bahwa tarif murah merupakan salah satu alasan atau pendorong terus berkembangnya penggunaan Ojol. Pengakuan atau klaim aplikator ini sejalan logikanya dengan hasil penelitian yang dilakukan tersebut di atas. Artinya ada kaitan dekat antara keinginan aplikator dengan penelitian yang dilakukan sehubungan dengan adanya rencana pemenuhan kenaikan tarif Ojol. Rencana kenaikan tarif Ojol ini sejalan dengan rencana pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan yang sedang membuat regulasi Peraturan Menteri Perhubungan (PM) tentang Perlindungan Keselamatan Pengemudi dan Pengguna Ojek (Online). Dalam pembuatan PM Ojol ini para pengemudi meminta agar pemerintah menyusun regulasi tentang biaya jasa layanan atau “tarif” bagi Ojol.

Usulan para pengemudi Ojol ini disebabkan adanya fakta perang tarif oleh para aplikator yang merugikan pengemudi. Terkait dengan rencana pengaturan tarif dasar (batas atas dan batas bawah) bagi Ojol dalam PM tersebut membuat para aplikator keberatan dan berkepentingan menolak regulasi tersebut agar mereka tetap bebas menetapkan tarif sesuai kepentingan aplikator. Klaim bahwa tarif murah adalah kepentingan dan akan menguntungkan pengguna Ojol adalah salah dan tidak benar. Tarif murah bukan alasan utama para pengguna memilih gunakan Ojol. Para pengguna memilih karena menggunakan Ojol, perjalanan mereka lebih akses dan jadi lebih cepat menembus kemacetan. Tarif murah justru membahayakan pengguna karena para pengemudi pendapatannya rendah dan tidak bisa melakukan perawatan sepeda motor secara benar. Kurangnya perawatan kendaraan tersebut maka merugikan pengguna Ojol karena sepeda motor yang digunakan jadi tidak laik jalan dan membahayakan keselamatan. Jadi adanya tarif murah justru merugikan pengguna dan pengemudi Ojol.

Adanya pengaturan biaya jasa layanan (“tarif”) Ojol dalam PM Ojol adalah sudah sesuai dengan kepentingan perlindungan keselamatan para pengemudi dan pengguna Ojol itu sendiri. Pantaslah para pengemudi dan pengguna Ojol mendukung upaya pemerintah membuat PM tentang Ojol. Pantas juga para aplikator menolak PM tentang Ojol karena mereka menolak pengaturan batasan penetapan tarif Ojol.

Jakarta, 1 Maret 2019
Azas Tigor Nainggolan 
Analis Kebijakan Transportasi dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) dan ketua Koalisi Warga untuk Transportasi (KAWAT) Indonesia.

Print Friendly, PDF & Email