No Reg Rilis 026/RLS/V/2018

No Reg Rilis 026/RLS/V/2018

Catatan Singkat:
Berhentilah merokok rokok menghentikan hidupmu.
Rokok Mematikan itu sudah diakui oleh produsen rokok.

Sampai saat ini masih banyak saja orang yang merokok di sekitar kita. Para perokok selalu saja mengatakan bahwa belum ada yang bisa membuktikan rokok – merokok menjadi penyebab kematian bagi diri perokok dan orang di sekitarnya (perokok pasif). Sering kali para perokok mengatakan orang tuanyalah atau kakeknya atau orang lain yang diketahuinya berumur panjang tapi tetap merokok. Kebodohan dan pembodohan pembenaran itulah yang menyebabkan terus bertumbuhnya angka perokok di Indonesia hingga menjadi bangsa perokok nomor 3 di dunia setelah China dan India.

Sementara hasil riset menunjukan bahwa rokok di dalamnya mengandung setidaknya 4.000 zat racun berbahaya mematikan. Kandungan racun berbahaya mematikan itulah yang membuat tulisan dan gambar peringatan berbahaya rokok dituliskan dalam setiap kemasan rokok. Artinya pihak industri rokok dan pemerintah saja mengakui bahwa rokok atau produksinya itu mengandung zat berbahaya racun mematikan. Lalu mengapa pemerintah masih mendiamkan industri rokok memproduksi, mengiklankan dan memperdagangkan rokok yang merupakan barang atau produk yang mengandung zat racun berbahaya mematikan?

Merokok akan mematikan diri sendiri dan orang yang anda cintai di sekitar anda. “Siapa yang bisa membuktikan bahwa merokok mematikan?”, demikian para perokok dan pejuang industri rokok selalu menyatakan dan menggugat kampanye bahaya merokok. Pada satu sisi industri rokok dan pemerintah mengakui dan menuliskan bahwa rokok itu berbahaya dan mematikan. Tetapi di sisi lain industri rokok terus berjuang untuk melemahkan upaya atau kampanye serta kebijakan pengendalian dampak penggunaan tembakau dalam.

Pihak industri rokok terus mempengaruhi dan melemahkan kebijakan pengendalian dampak penggunaan tembakau melalui lobby pada pemerintah, para politisi dan para tokoh publik. Semua upaya para pengusaha industri rokok menunjukan bahwa merokok adalah perilaku tidak normal dan mematikan. Merokok dapat disimpulkan sebagai tindakan bodoh dan membunuh diri sendiri serta orang di sekitarnya (perokok pasif). Akhirnya kita dapat mengatakan bahwa hanya orang bodoh yang mengatakan rokok itu aman dan mengajak orang-orang merokok. Ajakan atau iklan rokok adalah iklan pembodohan, kebohongan dan penipuan secara terbuka untuk kematian.
Hanya orang bodoh memang yang masih merokok karena akan mematikan diri sendiri serta orang di sekitarnya.

Fakta menunjukan bahwa 70% perokok adalah orang miskin yang minim pendidikan dan informasi. Para perokok kebanyakan merokok karena mereka tidak mengetahui bahaya merokok, tidak mau tahu karena kebodohannya sendiri, tahu tapi membodohi dirinya sendiri karena belum mati dan terpaksa karena tidak memiliki hiburan bagi dirinya. Dunia setiap 31 Mei memperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Peringatan ini menunjukkan betapa dunia sangat konsen dan ikut berjuang terhadap dampak dari penggunaan tembakau semisalnya merokok. Seharusnya pemerintah dan bangsa Indonesia, sebagai bagian masyarakat dunia memiliki perhatian dan konsen yang sama terhadap bahaya mematikan merokok. Adalah sebuah keharusan agar pemerintah berupaya mengendalikan dampak penggunaan tembakau seperti merokok dengan:
1. Membuat kebijakan dan memperluas kebijakan Kawasan Tanpa Rokok.
2. Melarang segala bentuk iklan, promosi dan kerja sama dengan industri rokok.
3. Melakukan edukasi publik yang masif tentang bahaya merokok.
4. Menolak segala upaya industri rokok yang melemahkan wibawa negara dalam melindungi hak hidup warga negaranya.

Maka sekali lagi, marilah berhenti merokok. Perilaku merokok itu tidak normal karena membunuh diri sendiri dan orang di sekitarnya. Rokok itu mematikan dan sudah diakui oleh industri rokok itu sendiri.

Jakarta, 31 Mei 2018
Azas Tigor Nainggolan.
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Print Friendly, PDF & Email