No. Reg Rilis 031/RLS/IV/2019 – Hari ke 5 Menjadi Tim Penilai Penghargaan Wahana Tata Nugraha.

No. Reg Rilis 031/RLS/IV/2019

Pers Release

Hari ke 5 Menjadi Tim Penilai Penghargaan Wahana Tata Nugraha.

Memberdayakan Angkutan Umum dan Membangun Layanan Angkutan Umum yang Ramah Anak.

Setelah 5 hati menjadi Tim Penilai Penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN), saya tambah banyak mendapatkan pengalaman dan masukan dari pemerintah daerah di Indonesia. Penghargaan WTN diberikan oleh pemerintah nasional dalam hal ini Kementrian Perhubungan kepada pemerintah daerah yang berhasil meningkatkan layanan publik di bidang transportasi. Ada 152 kota di Indonesia yang menjadi peserta dan memaparkan kinerja mereka di acara Penghargaan WTN ini.

Banyak terobosan atau inovasi menarik yang mereka lakukan di tengah keterbatasan SDM serta sumber dana daerah dan menurunnya kemampuan operator angkutan umum di daerah-daerah. Keterbatasan dan tantangan menurunnya kemampuan angkutan umum membuat dinas perhubungan di daerah menjadi kreatif membangun layanan transportasi publik. Salah satu inovasinya adalah dinas perhubungan membeli layanan atau service angkutan umum yang ada untuk membangun layanan bus sekolah gratis. Ibarat pepatah mengatakan: “sekali dayung dua, tiga pulau dilalui”. Saya pikir inovasi ini membangun layanan bagi angkutan sekolah gratis dengan membeli service untuk memberdayakan angkutan umum yang sedang melemah.

Menarik dari banyak paparan peserta WTN dari Jawa Timur menampilkan layanan parkir, kota-kotanya sudah membangun pengelolaan parkir berlangganan. Model langganannya adalah membayar parkir setahun saat pembayaran pajak kendaraan bermotor. Pengelolaan parkir langganan tahunan ini membantu memperkecil kebocoran pendapatan restribusi parkir yang sering terjadi. Begitu pula layanan angkutan umumnya juga sudah ramah dan sadar bahwa angkutan umum adalah Kawasan Tanpa Rokok (bebas dari asap rokok) dan pengemudinya tidak boleh merokok saat mengemudi. Kesadaran itu mereka tunjukan dengan adanya stiker-stiker mengingatkan bahwa tidak boleh merokok di dalam angkutan umum.

Pilihan terobosan membangun layanan bus sekolah gratis dengan membeli service angkutan umum yang ada agar para operatornya bisa bertahan ini sangat berbeda dengan pilihan pemprov Jakarta. Para dinas perhubungan di Jawa Timur tidak membeli mobil tapi membeli layanan atau service angkutan umum yang ada untuk membuat layanan bus gratis anak sekolah. Lain halnya Jakarta hobby sekali beli bus untuk layanan angkutan umum termasuk membeli bus untuk layanan bus sekolah gratis. Padahal kondisi angkutan umum di Jakarta mulai menurun dan sudah banyak yang bangkrut tidak bisa bertahan dan kalah oleh angkutan online juga Transjakarta. Mengapa pula pemprov Jakarta dan Transjakarta hobby beli bus dan bukan beli service atau layanan angkutan umum di Jakarta sebagai inovasi layanan transportasi bagi masyarakat. Membeli layanan berarti juga membantu dan memperkuat para operator angkutan umum Jakarta dari kebangkrutan serta memperbaiki layanan angkutan umum. Sementara pemprov Jakarta itu dengan APBD yang sangat besar sekitar Rp 90 Trilyun per tahun tapi minim inovasi. Ibaratnya pemprov Jakarta itu seperti tikus mati di lumbung padi.

Jakarta, 26 April 2019

Azas Tigor Nainggolan
Analis Kebijakan Transportasi.
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA).

Print Friendly, PDF & Email