No. Reg Rilis 034/RLS/V/2019 – Perdebatan Kenaikan Tarif Ojek Online

No. Reg Rilis 034/RLS/V/2019

Perdebatan Kenaikan Tarif Ojek Online

Kenaikan tarif ojek online yang mulai berlaku per 1 Mei 2019 mendapat tanggapan keberatan. Tanggapan tersebut meminta agar ketetapan tarif baru tersebut dikaji ulang atau ditinjau ulang. Alasannya adalah kajian dibutuhkan agar tarif baru tidak memberatkan penumpang dan tidak beralih menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor. Keberadaan ojek online saat ini memang sudah menjadi alternatif alat transportasi masyarakat guna menyiasati keterbatasan layanan angkutan umum selama ini. Artinya layanan ojek online ini sudah menjadi angkutan kebutuhan bertransportasi masyarakat.
Tarif murah bukanlah alasan utama 1 ojek online sebagai alternatif. Nyatanya sejak tarif mahal hingga murah sebelum ada ketentuan tarif baru ojek online, masyarakat tidak pernah mempersoalkan.

Ojek online menjadi pilihan atau alternatif karena layanannya yang mudah, akses dan cepat. Jadi alasan keberatan atas tarif baru ojek online yang akan membuat penurunan minat menggunakan ojek online jadi tidak tepat. Memang pada tahap awal pemberlakuan tarif baru ojek online dengan kenaikan rata-rata 40% dari tarif sebelumnya ada keberatan penumpang. Tetapi setelah dijelaskan oleh para pengemudi ojek online, para penumpang bisa menerima kenaikan tarif baru tersebut. Menurut pengalaman beberapa penumpang juga terjadi perbedaan tarif mencolok diantara kedua aplikator yang ada sekarang ini. Para penumpang selaku membandingkan tarif dari kedua aplikator saat memesan layanan ojek online. Secara tarif, ternyata tarif aplikator Grab Bike jauh lebih murah dari GoJek walau sama-sama menggunakan skema tarif baru yang ditentukan oleh Keputusan Menteri Perhubungan RI No KP 348 Tahun 2019 Tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi, yang berlaku mulai 1 Mei 2019 lalu.

Kebutuhan masyarakat terhadap layanan ojek online saat ini sangat tinggi karena menjawab kebutuhan alat transportasi yang akses, cepat, dan efektif. Masyarakat menilai bahwa adanya Keputusan Menteri Perhubungan tentang tarif online sudah tepat guna membangun layanan ojek online yang berkeselamatan, akses dan cepat. Jadi kritik atau penolakan dari masyarakat sebenarnya tidak ada. Masyarakat pengguna ojek online sadar bahwa tarif ojek online yang baru sudah wajar untuk menjawab kebutuhan layanan yang lebih baik dan berkeselamatan. Tarif baru memberi keadilan bagi pengguna terutama pengemudi ojek online berupa pendapatan layak sehingga bisa merawat kendaraannya dan memberi layanan yang baik kepada penumpangnya.

Justru masyarakat pengguna dan pengemudi ojek online menekankan kepada aplikator menurunkan potongan komisi 20% yang sangat besar dari tarif yang dibebankan kepada penumpang. Menurut masyarakat justru wajar para pengemudi mendapat pendapatan tambahan sekarang ini setelah adanya peraturan tarif baru ojek online. Masyarakat mengatakan bahwa pengemudilah yang bekerja keras di jalanan dan menanggung semua resiko atas layanan yang diberikan kepada penumpabgnya. Pihak aplikator biasanya lepas tangan jika ada masalah atau kecelakaan di jalanan dan membebankan tanggung jawabnya kepada pengemudinya. Ketetapan atau regulasi ojek online yang sekarang ini merupakan produk pembuatan yang melibatkan semua pihak hingga menjadi Keputusan Menteri dan Peraturan Menteri Perhubungan tentang ojek online seperti sekarang ini. Dalam setiap pembahasannya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan melibatkan dan dihadiri oleh kedua aplikator ojek online yakni GoJek dan Grab Bike. Saya pun ikut terlibat secara aktif sejak awal pembuatan regulasi tentang Ojek Online serta penyusunan pedoman tarif bagi ojek online. Jadi tidak ada alasan pihak aplikator meminta meninjau ulang atau mengkaji ulang, apalagi menolak ketentuan tarif baru ojek online karena merek ikut terlibat aktif dalam pembuatan regulasinya. Jika memang para aplikator mau membantu pengguna ojek online dapat dilakukan menurunkan potongan komisi 20% jatah mereka menjadi 5% untuk 15% dikembalikan kepada penumpang. Tidak perlu para aplikator meresahkan masyarakat soal regulasi tarif baru ojek online.

Jakarta, 8 Mei 2019

Azas Tigor Nainggolan
Analis Kebijakan Transportasi dan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Print Friendly, PDF & Email