No. Reg Rilis 037/RLS/VII/2018. Catatan Singkat Praktek Kekerasan dan Monopoli di Bandara

No. Reg Rilis 037/RLS/VII/2018

Catatan Singkat Praktek Kekerasan dan Monopoli di Bandara. 

Pak Presiden harap bandara dikelola secara benar tanpa kekerasan dan tanpa praktek monopoli.

Nathalie, seorang penumpang yang turun di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang mendapat perlakuan tak mengenakkan saat hendak mencari moda transportasi lanjutan.

Status facebook Nathalie dikutip oleh sebuah media online pada tanggal 16 Juli 2018. Diceritakan dalam statusnya, bahwa Nathalie pada hari Minggu 15 sekitar pukul 12.30 WIB turun dari pesawat dan naik taksi. Jarak sekitar 10 hingga 20 meter pintu gate bandara saya diberhentikan oleh seorang bapak. Kemudian nampak itu membentak-bentak sopir taksi dan Nathalie jelas. Kekerasan verbal, membentak-bentak itu disebabkan Nathalie mengambil taksi yang tidak bekerja sama dengan pengelola bandara. Menurut bapak uang membentak itu ada aturan dari pengelola bandara bahwa penumpang harus menggunakan taksi yang dikelola bersama pengelola bandara sebagai alat transportasi lanjutan.

Dia pun langsung merespon dengan menanyakan siapa identitas oknum yang memberhentikannya, lalu menyuruhnya pindah taksi. Kemudian oknum tersebut mengatakan ada aturan terkait moda tranportasi lanjutan dari bandara. Nathalie melawan bapak itu karena dia merasa memiliki hak pilih untuk menggunakan (taksi) apa saja karena tidak aturan tertulis yang disosialisasikan pengelola bandara.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Dianita bulan Mei 2015. Taksi yang diambil oleh Dianita di bandara Djuanda Surabaya. Oknum yg memberhentikan juga sadis seperti cerita di atas, membentak-bentak, kasar sekali.

Kekerasan terhadap pengemudi transportasi online kembali di bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Kejadian tersebut terjadi pada 31 Mei 2018 lalu terhadap seorang pengemudi taksi online diduga dilakukan oleh oknum anggota TNI AU. Pengemudi taksi atau ojek online itu dituduh mengambil penumpang di dalam kawasan bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Tindakan kekerasan selain kepada pengguna taksi juga dilakukan terhadap pengemudi taksi dan ojek online yang bukan bagian bisnis taksi dengan pengelola bandara. Tindakan kekerasan dilakukan secara sadis terhadap pengemudi taksi atau oleh preman bandara dan oknum aparat TNI di bandara. Padahal di dalam bandara itu banyak berkeliaran calo atau pengemudi taksi gelap menawarkan jasa taksi secara terbuka kepada pengguna bandara untuk alat transportasi lanjutan. Jadi kesimpulan banyak juga calo, preman dan pengelola taksi online bekerja sama dengan pengelola bandara.

Misalnya saja pengalaman yang dialami oleh pengemudi taksi online di bandara Adi Sucipto bukan. Kejadian kekerasan terhadap pengemudi taksi online terjadi beberapa kali karena si pengemudi taksi online tidak mendaftar masuk ke dalam bisnis taksi yang diorganisir penguasa atau pengelola bandara bersangkutan. Beberapa bulan lalu pernah seorang pengemudi ojek online dianiaya dipaksa membuka bajunya di muka publik oleh petugas bandara Adi Sucipto