No. Reg Rilis 039/RLS/V/2019 – Tolak Intervensi Industri Rokok ke Kemenristekdikti

SIARAN PERS

Tolak Intervensi Industri Rokok ke Kemenristekdikti

No. Reg Rilis 039/RLS/V/2019

Beberapa hari lalu diberitakan oleh beberapa media massa ibukota bahwa PT HM Sampoerna Tbk bersama Kemenristekdikti menandatangani kerja sama penguatan inovasi dengan industri dalam bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan sesuai penyataan Presiden Direktur Sampoerna bahwa Industri tembakau tengah menuju ke arah pengembangan yang berbasis sains dan ilmu pengetahuan.

Kami sebagai Lemnaga Swadaya Masyarakat yang concern terhadap pengendalian tembakau di Indonesia menyayangkan tindakan Kemenristekdikti yang telah menandatangani kesepakatan tersebut. Seperti kita ketahui bahwa industri rokok di dunia tengah mengalami sunset industry, dimana industri rokok sudah mulai ditinggalkan karena terbukti tidak hanya menggangu kesehatan akan tetapi juga merusak lingkungan. Berdasarkan hasil riset The Ocean Concervancy menyebutkan bahwa selama 32 tahun puntung rokok telah menjadi satu-satunya barang yang paling banyak dikumpulkan di pantai di seluruh dunia, dengan total lebih dari 60 juta puntung. Jelas ini merupakan ancaman yang serius untuk lingkungan kita.

Kembali ke kerjasama Kemenristekdikti dan industri rokok, kerjasama ini jelas merupakan intervensi industri tembakau terhadap dunia riset dan pendidikan tinggi untuk menjustifikasi bahwa rokok itu “sehat”. Kerjasama ini hanya semakin menguatkan ‘image’ yang salah di masyarakat bahwa rokok dapat menstimulasi kerja otak untuk menciptakan ide-ide brilian. Ini tentu akan membuat suatu pembenaran bahwa rokok itu merupakan sesuatu yang baik dimata periset, akademisi dan masyarakat luas. Padahal tidak sama sekali.

Kemudian yang akan terjadi adalah penelitian-penelitian yang dilakukan Kemenristekdikti akan lebih berpihak kepada industri tembakau yang pada akhirnya adalah penggiringan opini publik bahwa rokok itu adalah hal yang mempunyai dampak positif.

Oleh sebab itu kami Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) mendesak agar kerjasama tersebut dibatalkan, karena kami melihat apa yang dilakukan industri rokok adalah dalam rangka mereka menjaring perokok-perokok baru (generasi muda) disaat perokok lama yang semakin sedikit. Dan sudah seharusnya Kemenristekdikti menolak kerjasama tersebut karena jelas tertulis pada Undang undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 113 yang menyebutkan bahwa produk tembakau dan turunannya mengandung zat adiktif.

Demikian rilis ini kami sampaikan untuk disebarluaskan.

Jakarta, 27 Mei 2019.

Azas Tigor Nainggolan, SH, Msi, MH.
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Print Friendly, PDF & Email