No. Reg Rilis 039/RLS/VIII/ 2018 Catatan Singkat Perluasan Ganjen di Jakarta.

No. Reg Rilis 039/RLS/VIII/ 2018

Catatan Singkat Perluasan Ganjen di Jakarta.

Kebijakan pengendalian penggunaan Ganjen atau Ganjil Genap di Jakarta sudah mulai diberlakukan sejak 1 Agustus 2018. Banyak protes dan kritik mengatakan kebijakan Ganjen ini merugikan dan merepotkan para pengguna jalan khususnya pengguna mobil pribadi. Ruang gerak bertransportasi para pengguna mobil pribadi diperluas pembatasannya alias makin terbatas atau sulit menggunakan mobilnya.

Beberapa ruas jalan jadi tambah padat atau macet akibat para pengguna mobil pribadi mencari jalan alternatif agar tidak terkena aturan Ganjen. Jalan di Jakarta sudah terlalu padat dengan kendaraan bermotor khususnya kendaraan pribadi. Salah satu kebijakan yang memang bisa dilakukan secara cepat adalah mengurangi kepadatan kendaraan pribadi di jalan raya. Pengurangan tersebut dapat dilakukan dengan mengendalikan penggunaan mobil pribadi. Pengendalian penggunaan mobil pribadi dapat dilakukan dengan kebijakan Ganjil Genap (Ganjen). Akibatnya banyak pengguna mobil pribadi dibatasi atau dikendalikan menggunakan mobil pribadinya.

Pembatasan Ganjen mobil pribadi ini membuat marah para penggunanya. Hari pertama diterapkan memang terjadi beberapa kekacauan di beberapa ruas jalan. Kekacauan ini menimbulkan pengguna jalan raya secara umum karena kebijakan Ganjen dianggap membuat kemacetan. Soal Jakarta macet padahal sudah setiap hari sebenarnya. Tapi kenapa ketika kebijakan Ganjen baru teriak dan marah terjadinya kemacetan di jalan? Padahal selama ini kemacetan Jakarta sudah akut dan kok diam saja?

Kebijakan Ganjen ini diterapkan setiap hari mulai jam 06.00 wib hingga jam 21.00 wib. Panjangnya kebijakan ini dikarenakan padatnya jadwal perjalanan atlit peserta Asian Games dari dan ke lokasi pertandingan. Target perjalanan secara keseluruhan atlit tidak boleh lebih dari 30 menit. Bisa dibayangkan kebutuhan perjalanan yang cepat dan fasilitas jalan raya yang lancar. Jadi memang diperlukan langkah mengurangi kepadatan jalan dari kendaraan bermotor khususnya mobil pribadi agar perjalanan jadi lancar dengan cara pengendalian Ganjil Genap atau Ganjen.

  1. Nah pertanyaannya sekarang setelah diterapkannya kebijakan Ganjen ini apa yang harus dilakukan oleh pemerintah agar perjalanan masyarakat terpenuhi secara baik? Ada beberapa hal yang harus dilakukan:
    Untuk menampung perpindahan para pengguna mobil pribadi ke angkutan umum massal, maka pemerintah harus segera menyediakan akses layanan angkutan massal yang aman dan nyaman. Secara khusus Pemda Jakarta sebaiknya mengadakan layanan tarif gratis bagi para pengguna di seluruh koridor atau trayeknya Transjakarta. Cara layanan gratis Transjakarta ini akan menarik bagi masyarakat lebih menggunakan angkutan umum dari pada memaksakan menggunakan mobil pribadinya.
  2. Pemerintah segera memaksimalkan kapasitas jalan seluruh Jakarta agar bisa menjadi alternatif dari jalan yang terkena pembatasan Ganjen. Memaksimalkan kapasitas jalan dapat dilakukan dengan menghapuskan parkir dari semua badan jalan serta menaikan tarif parkir setidaknya 300%. Terus terang menyulitkan sarana parkir bagi kendaraan pribadi ini perlu dilakukan agar para pengguna mobil pribadi menjadi tidak nyaman menggunakan mobilnya dan berpindah ke angkutan umum massal seperti Transjakarta.
  3. Menyiapkan strategi-strategi tambahan lainnya jika diperlukan saat terjadi kekacauan lalu lintas di lapangan. Juga perlu dilakukan penegakan peraturan lalu lintas secara konsisten agar mencegah terjadi kecelakaan lalu lintas dan kekacauan lalu lintas.
  4. Catatan penting lainnya adalah jadikan penataan lalu lintas atau kebijakan yang sudah dibuat untuk Asian Games dijadikan momen perbaikan kemacetan Jakarta. Artinya apa yang dilakukan untuk memecahkan kemacetan bagi Asian Games ini jika baik maka kami usulkan agar diteruskan menjadi kebijakan permanen guna memecahkan masalah kemacetan lalu lintas Jakarta.

Jakarta, 4 Agustus 2018
Azas Tigor Nainggolan, Analis Kebijakan Transportasi dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA).

Print Friendly, PDF & Email