No. Reg Rilis 042/RLS/VIII/2018 Catatan Singkat tentang hakim koruptor.

No. Reg Rilis 042/RLS/VIII/2018

Catatan Singkat tentang hakim koruptor.

Marsudin Nainggolan, bikin malu marga Nainggolan saja kau ini. Apa yang kau taburi, kelak akan kau tuai.

Hari ini ada 8 orang dari PN Medan ditangkap OTT oleh KPK. Salah seorang yang ditangkap itu adalah Marsudin Nainggolan, ketua Pengadilan Negeri Medan. Saya kenal dan tahu si Marsudin Nainggolan ini. Saya mengenal si Marsudin Nainggolan pertama kali sekitar16 tahun lalu, saat saya berperkara di Pengadilan Negeri Bogor, Cibinong, Jawa Barat. Saat itu saya dan kawan-kawan FAKTA menjadi pembela warga Munjul, Cibubur yang air tanah tempat tinggal warga Munjul dicemarkan oleh limbah sebuah pabrik eletronik yang ditampung oleh sebuah perusahaan daur ulang.

Dalam perkara pencemaran lingkungan warga Munjul itu, Marsudin Nainggolan sebagai ketua majelis hakim perkara tersebut. Setiap kali sidang saya melihatnya tampil sok intelek, sok bersih dan sombong. Warga yang jadi korban pencemaran justru disalahkan oleh Marsudin Nainggolan ini. Gugatan kami bersama warga dianggap mengada-ada oleh majelis hakim yang diketuai Marsudin Nainggolan. Majelis Hakim menolak gugatan kami bersama warga dan membebaskan si pelaku pencemaran lingkungan.

Mendapat putusan seperti itu tentu kami dan warga sangat kecewa sekali. Warga Munjul yang dirugikan justru disalahkan dan dihukum lagi oleh hakim si Marsudin Nainggolan. Sementara si pencemar air tanah warga justru dibela dan dibebaskan oleh si Marsudin Nainggolan dan anggotanya. Tapi tidak apa-apa sekarang Marsudin Nainggolan sudah mendapat karmanya, hukuman sebagai penjahat dan koruptor yang telah menyengsarakan warga Munjul. Sebelumnya juga pembela pencemarnya mendapat karma hukuman atas upayanya membela pencemar lingkungan yang menyengsarakan rakyat kecil.

Saat si Marsudin Nainggolan bertugas di PN Jakarta Pusat juga saya sempat bertemu dengan dia dalam sebuah perkara. Perilakunya masih sama yakni sok intelek, sok suci dan sombong. Terakhir pada bulan Juli 2018 saya bertemu Marsudin Nainggolan di Parapat, Sumatera Utara. Kami sempat ngobrol sebentar dan saya kurang begitu respek. Marsudin Nainggolan bilang bahwa dia sekarang menjadi Ketua Pengadilan Negeri (PN) Medan, Sumatera Utara.

Ya begitulah memang Hukum Tabur Tuai. Apa yang kita tabur kelak akan kita tuai. Jika kita tabur kebaikan maka kelak kita akan menuai kebahagiaan. Jika kita menabur kejahatan dan korupsi maka kelak kita akan menabur penderitaan – hukuman berat – seperti si Marsudi Nainggolan ini. Mari kawan-kawan menabur kebaikan, bela yang benar bukan bela yang bayar agar kelak tidak bernasib hidup menderita seperti si Marsudin Nainggolan. Ah Marsudin Nainggolan si penjahat dan koruptor ini, kau bikin malu marga Nainggolan saja.

Jakarta, 28 Agustus 2018
Azas Tigor Nainggolan 
(Astina)

Print Friendly, PDF & Email