No. Reg Rilis 044/RLS/XI/2018 Catatan Singkat tentang Pengendalian Macet Jakarta. Melanjutkan Ganjil Genap dengan ERP.

No. Reg Rilis 044/RLS/XI/2018

Catatan Singkat tentang Pengendalian Macet Jakarta.
Melanjutkan Ganjil Genap dengan ERP.

Asian Games sudah selesai dan dilanjutkan pelaksanaan Asian Paragames di Jakarta. Setelah Asian Games selesai, pemprov Jakarta mengumumkan bahwa akan tetap melakukan pengendalian kemacetan Jakarta dengan melanjutkan penerapan perluasan Ganjil Genap. Dilanjutkannya penerapan Perluasan Ganjil Genap tersebut untuk membantu kelancaran lalu lintas selama even Asian Paragames yang akan dilakukan pada 3-13 Oktober 2018. Penerapan Ganjil Genapnya agak berbeda dengan saat Asian Games, yakni hanya berlaku pada hari kerja, Senin-Jumat dan tidak berlakunya pada hari libur nasional.

Penerapan Ganjil Genap saat Asian Games 18 Agustus 2018 hingga 2 September 2018 lalu boleh dibilang berhasil. Lalu lintas khususnya di area perjalanan atlit atau peserta Asian Games yang diterapkan Ganjil Genap berjalan lancar tanpa masalah. Menurut pemprov Jakarta bahwa berhasilan kelancaran lalu lintas itu juga diikuti oleh keberhasilan menurunkan tingkat pencemaran udara Jakarta selama Ganjil Genap diterapkan. Perpanjangan penerapan Ganjil Genap hanya pada hari kerja Senin-Jumat ini tentu menurunkan pencapaian perbaikan yang sudah dicapai selama masa pelaksanaan Asian Games. Tentunya tingkat kelancaran lalu lintas dan penurunan pencemaran udara hanya tercapai pada hari kerja saja.

Perpanjangan penerapan perpanjangan Ganjil Genap hingga Asian Paragames ini menimbulkan pertanyaan di kalangan publik Jakarta. Banyak pertanyaan warga Jakarta akan kemungkinan dilanjutkannya terus penerapan Ganjil Genap hingga selesai Asian Paragames sebagai langkah mengendalikan kemacetan Jakarta. Dalam berbagai kesempatan juga warga Jakarta sudah mengatakan pengalaman bahwa lalu lintas Jakarta memang tambah lancar di area Ganjil Genap. Warga juga mengatakan bahwa mereka sudah menjadi terbiasa dan menikmati dengan penerapan Ganjil Genap walau awalnya agak sulit. Jika penerapan Ganjil Genap hanya pada hari kerja, apalagi akan dihapuskan seusai Asian Paragames maka itu sebuah kemunduran bagi Jakarta. Kemunduran yang sudah merusak pengendalian kemacetan serta merusak kebiasaan lalu lintas warga Jakarta yang sudah ramah terhadap upaya pengendalian penggunaan kendaraan pribadi. Warga Jakarta sudah mulai beralih dari menggunakan mobil pribadi angkutan umum massal.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana upaya pengendalian kemacetan melalui pengendalian penggunaan kendaraan pribadi sesudah Asian Paragames? Pencapaian baik pengendalian penggunaan kendaraan pribadi ini memang sebaiknya diteruskan saja. Pengalaman pengendalian saat Asian Games sebaik dijadikan modal atau momen perbaikan masalah kemacetan Jakarta. Alasannya adalah warga sudah memiliki kebiasaan baik berlalu lintas di Jakarta. Banyak dari warga yang sebelumnya menggunakan kendaraan pribadi beralih menggunakan kendaraan umum. Ada baiknya upaya pengendalian ini dilanjutkan dengan penerapan pengendalian dengan menggunakan Restribusi Jalan Berbayar Electronik atau Electronic Road Pricing (ERP). Perpanjangan dengan ERP ini pun akan sangat mudah dilakukan di area Ganjil Genap dimana warga tidak akan menolak karena sudah terbiasa dengan kebijakan pengendalian sebelumnya.

Seorang sopir taksi online yang pernah saya tumpangi pernah berkata bahwa pengendalian penggunaan kendaraan pribadi setuju dilanjutkan dengan menggunakan ERP. Menurut si sopir itu selain kawasannya terkendali, dengan ERP pemerintah mendapat uang juga. Walau pun sebenarnya ERP bukanlah untuk mencari uang tetapi sisi positif yang dikatakan si sopir sangat menarik. Berdasarkan pengalaman baik ini maka memang segera pemerintah menyiapkan langkah penerapan ERP sesudah menggunakan Ganjil Genap. Selain itu juga pengalaman warga yang berpindah ke angkutan umum massal ini perlu difasilitasi oleh pemerintah. Seharusnya pemerintah juga segera memperbaiki dan meningkatkan pelayanan angkutan umum massal di Jakarta. Jangan biarkan dan sia-siakan kebiasaan warga yang sudah menggunakan angkutan umum massal untuk bertransportasi di Jakarta. Kota Metropolitan dan kita yang ramah serta sehat adalah kota yang angkutan umum massalnya akses, aman dan nyaman. Sudah seharusnya sejak tahun 2010 lalu Jakarta sudah menerapkan ERP dan memiliki layanan angkutan umum massal yang ramah untuk warganya. Jangan sampai tertinggal terus di belakang kota-kota negara lain sudah lancar juga akses dan Jakarta macet terus. Apa kerja pemerintahnya jika Jakarta terus macet berpuluh tahun tanpa perbaikan. Memalukan dan tidak punya malu pemerintahnya.

Melihat Jakarta dari awan menuju Bali, 12 September 2018.
Azas Tigor Nainggolan, analis kebijakan transportasi dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Print Friendly, PDF & Email