No. Reg Rilis 048/RLS/IX/2018, Catatan Singkat tentang Membela Koruptor.

No. Reg Rilis 048/RLS/IX/2018

Catatan Singkat tentang Membela Koruptor.
Lucunya Negeri Ini, koruptor boleh menjadi anggota legislatif

Bagaimana tidak lucu, di negeri ini koruptor dibela habis-habisan. Lebih lucu lagi koruptor boleh menjadi calon legislatif (caleg) anggota DPD, DPR dan DPRD. Para mantan napi korupsi itu kan berarti sudah diputuskan dan dinyatakan oleh pengadilan sebagai koruptor. Tetapi mereka, para koruptor itu tetap diberi kesempatan menjadi anggota legislatif dan berarti diberi kesempatan melakukan korupsi lagi.

Betapa lucunya memang negeri ini, koruptor dibela habis-habisan tetap dibolehkan menjadi calon anggota legislatif. Tetapi rakyat yang ingin menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) atau calon aparat negeri sipil (CANS) justru diwajibkan memiliki surat keterangan catatan kepolisian (SKCK). Syarat SKCK ini menandakan bahwa para pencari kerja atau CPNS harus bersih dan tidak pernah melakukan kejahatan sesuai catatan kepolisian. Lucu kan, menjadi ANS atau PNS harus bersih tidak pernah atau mantan kasus korupsi atau koruptor. Tetapi seorang koruotor tetap dibela untuk jadi anggota legislatif.

Bisa dibayangkan bagaimana kerja para ANS yang diawasi oleh para anggota legislatif yang koruptor. Pilihannya tetap jadi ANS yang bersih tapi ditendang karena tidak mau mengikuti kehendak legislator yang koruptor. Atau mengikuti kehendak legislator koruptor agar ikut menjadi ANS koruptor? Ya betapa lucunya negeri ini membela koruptor dan membiarkan para koruptor hidup serta mengembangkan perilaku koruptif. Kapan negeri ini akan bersih dari koruptor dan korupsi? Kapan rakyat negeri ini bisa sejahtera?

Jakarta, 21 September 2018.
Azas Tigor Nainggolan, Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA).

Print Friendly, PDF & Email