No. Reg Rilis 059/RLS/IX/2018. Sepintar-pintarnya Bangkai Ditutupi, Baunya Tetap Tercium Juga. Pribahasa Untuk Hentikan Drama Konyol Penyebaran Hoax Tokoh Politik.

No. Reg Rilis 059/RLS/IX/2018

Sepintar-pintarnya Bangkai Ditutupi, Baunya Tetap Tercium Juga. Pribahasa Untuk Hentikan Drama Konyol Penyebaran Hoax Tokoh Politik.

Ratna Serumpaet, aktivis organisasi sosial juga sebagai pendiri Ratna Sarumpaet Crisis Centre hari-hari ini menjadi perbincangan di media sosial terkait beredarnya foto wajah yang penuh lebam yang saat itu diduga akibat dari penganiayaan yang di terimanya di Bandung, Jawa Barat.

Tidak sampai disitu, beberapa tokoh politik juga beramai-ramai berpendapat terkait hal tersebut. Sebut saja Fadli Zon. Politikus Gerindra tersebut juga ikut memberikan keterangan terkait dugaan penganiayaan yang diterima Ratna Serumpaet di bandung.

Setelah Fadli Zon, Capres Pemilu Presiden 2019 Prabowo Subianto juga memberikan keterangan yang sama di depan media. Ketua Umum partai gerindra tersebut memberikan keterangan terkait penganiayaan yang di terima Ranta Serumpaet.

Bahwa tidak sampai beberapa jam akhirnya sebuah kebohongan tersebut terkuat. Benar saja, Ratna Serumpaet ternyata tidaklah menjadi korban penganiayaan seperti yang di kabarkan oleh beberapa media dan banyak tokoh politik.

Ratna dalam konferensi pers-nya Rabu, 03 Oktober 2018 menyatakan bahwa lebam wajah yang dialaminya adalah lebam pasca operasi plastik di sebuah rumah sakit di Jakarta. Operasi plastik tersebut dijalaninya untuk menghilangkan lemak pada kedua pipi, tegas ratna”.

Dalam konferensi pers-nya ratna mengaku bersalah dengan sengaja berbohong untuk menutupi operasi plastik yang dijalaninya dari orang-orang sekitar sehingga memutuskan untuk menyebar berita penganiayaan yang dialami di parkiran bandara tepatnya di Bandung, Jawa Barat.

Bahwa dari kebohongan yang disebarkan tersebut sempat menjadi pemberitaan yang ramai di kalangan masyarakat. Seharusnya sebagai seorang tokoh masyarakat sudah sepatutnya memberikan contoh prilaku yang baik bagi masyarakat. Bukan menjadi penyebar kebohongan yang membuat keonaran masyarakat karena dapat menimbulkan gesekan-gesekan mengingat Ratna Serumpaet adalah seorang yang dikenal sebagaui kritikus bagi pemerintahan saat ini serta aktif dalam berpolitik.

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Pasal 1 menyebutkan: Barang siapa dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat di hukum penjara dengan setinggi-tinggainya 10 Tahun.

Bahwa sudah cukup banyak contoh orang-orang yang harus menerima hukuman pidana karena kicauan dan kebohongannya yang membuat gaduh masyarakat. Kehati-hatian dalam menelan serta menyebar informasi sudah gamang di suarakan. Namun saat ini yang terjadi adalah tokoh masyarakat yang bertindak konyol dengan menyebar kebohongan yang membuat gaduh masyarakat.

Sudah sepatutnya untuk para tokoh masyarakat apalagi tokoh politik tidak lagi bertindak kekanak-kanakan dengan menyebar berita bohong. Jangan pernah menggunakan imajinasi-imajinasi konyol yang bisa menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat.

Jangan menyebarkan kebohongan demi sebuah keuntungan pribadi atau golongan apalagi dengan mengorbankan masyarakat sebagai pendengar.


03 Oktober 2018

Yosua Manalu, S.H.
Div. Litigasi Forum Warga Kota Jakarta

Print Friendly, PDF & Email