No. Reg Rilis 062/RLS/IX/2019 – Dukung Pemerintahan Presiden Indonesia Jokowi Menaikan Cukai Rokok.

No. Reg Rilis 062/RLS/IX/2019

Pers Release.
Untuk diwartakan segera.

Dukung Pemerintahan Presiden Indonesia Jokowi Menaikan Cukai Rokok.

Diwartakan oleh banyak media massa bahwa pemerintah melalui Kementerian Keuangan RI akan menaikan cukai rokok sebesar 23% pada tahun 2020 mendatang. Kenaikan cukai rokok ini akan mempengaruhi konsumsi rokok di masyarakat. Menaikan cukai rokok juga bertujuan terutama untuk membuat harga rokok mahal dan tidak bisa dijangkau atau dibeli oleh anak-anak Indonesia. Mendukung Kebijakan Pemerintahan Presiden Jokowi Menaikan Cukai Rokok 23% adalah penting dan harus kita beri apresiasi. Kebijakan pemerintah melalui Kementrian Keuangan yang akan menaikan cukai rokok 23% itu menunjukan komitmen pemerintah mewujudkan harapan presiden Jokowi Membangun SDM Indonesia yang tangguh dalam 5 tahun mendatang. Kami mendukung kebijakan menaikan cukai rokok agar rokok menjadi mahal dan tidak bisa dijangkau atau dibeli oleh anak-anak Indonesia adalah sebuah keharusan kita terutama para orang tua. Orang tua yang waras adalah orang tua yang terus menjaga dan melindungi anak-anaknya dari berbagai bahaya termasuk bahaya mematikan dari rokok. Saat ini sudah ada 7,8 juta anak Indonesia yang merokok dan angka pertumbuhannya sebesar 9,1% tahun ini, artinya jika ada 100 anak Indonesia berati ada 9 anak yang merokok. Angka ini sangat menakutkan dan memprihatinkan maka harus kita hentikan bersama dan mendukung pemerintah membangun SDM Indonesia yang tangguh dan Indonesia hebat seperti dicanangkan oleh presiden Jokowi.

Mari memberikan dukungan kepada pemerintah terkait pengumuman yang akan menaikkan cukai rokok. Diharapkan, pemerintah melalui menteri keuangan, Ibu Sri Mulyani dan jajarannya memegang komitmennya untuk menaikkan cukai rokok sebesar 23% seperti yang disampaikan, atau bahkan lebih, dalam Putusan Menteri Keuangan (PMK) yang akan datang sehingga harga jual eceran naik jauh lebih tinggi dan tidak terjangkau kaum rentan, yaitu keluarga miskin dan anak-anak/remaja.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun meningkat dari lima tahun sebelumnya dari angka 7,2% ke angka 9,1%. Sedangkan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) mematok angka penurunan perokok anak menjadi 5,4%.

Banyak riset yang menyebutkan bahwa harga rokok yang murah adalah salah satu pengaruh besar terhadap kenaikan jumlah konsumsi rokok. Karena itu, meningkatnya angka prevalensi perokok anak di Indonesia sangat mungkin juga disebabkan harga rokok yang sangat murah di Indonesia. Seperti yang kita tahu, harga rokok di Indonesia termasuk yang paling murah di dunia dan masih bisa ditemukan harga rokok Rp5000/bungkus atau di bawah Rp1000/batang. Jadi kita bisa membayangkan hanya dengan uang kurang dari seribu rupiah, seorang anak/pelajar sudah dapat menikmati rokok yang tersebar luas di mana-mana.

Harga rokok harus dibuat mahal untuk mengantisipasi meningkatnya perokok anak. Disinilah fungsi cukai untuk mengendalikan konsumsi rokok sangat berarti. Kami sangat mendukung langkah pemerintah mempersulit atau menjauhkan akses anak terhadap rokok dengan menaikan cukai rokok setinggi-tinggi pada tahap waktu selanjutnya agar rokok sangat sulit diakses atau dibeli oleh anak-anak. Untuk itu kami mendukung pemerintahan presiden Jokowi untuk terus menaikkan cukai rokok setinggi-tingginya dan melarang penjualan rokok eceran. Kebijakan menjauhkan akses rokok tersebut membuat anak-anak terlindung dari bahaya rokok sehingga anak Indonesia menjadi anak yang unggul seperti yang dicita-citakan pemerintahan presiden Jokowi, yaitu sumber daya manusia (SDM) Indonesia Unggul dan Indonesia Hebat.

 

Jakarta, 22 September 2019
Azas Tigor Nainggolan

Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)
Kontak: 081381822567

Print Friendly, PDF & Email