No. Reg Rilis 084/RLS/XI/2018. Penegakan Hukum atau Peraturan Lalu Lintas Secara Elektronik oleh Polda Metro Jaya.

No. Reg Rilis 084/RLS/XI/2018

Penegakan Hukum atau Peraturan Lalu Lintas Secara Elektronik oleh Polda Metro Jaya.

Catatan Singkat tentang Penerapan
Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) Hukum atau Penegakan Peraturan atau Lalu Lintas Secara Elektronik oleh Polda Metro Jaya.

Zaman terus berkembang. Manusia juga terus berkembang perilakunya. Termasuk perilakunya yang melanggar terus meningkat dikarenakan pengawasan yang masih kurang tegas. Begitu pula perilaku melanggar peraturan lalu lintas saat ini sudah semakin berat kualitas serta kuantitasnya. Pelanggaran- Pelanggaran itulah yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Pelanggaran peraturan lalu lintas saat ini seperti sudah tidak terkendali dikarenakan keterbatasan penegakan pihak kepolisian. Setiap kali dilakukan Operasi Khusus penegakan atau Tertib Lalu Lintas oleh Kepolisian selalu saja menindak puluhan ribu pelanggar.

Bersarnya keberhasilan penegakan itu mengatakan bahwa masih tingginya angka pelanggaran peraturan lalu lintas. Tapi sebenarnya angka pelanggaran yang terjadi jauh lebih besar, bahkan bisa 5 kali lipat jumlah yang tertangkap operasi penegakan. Jauh lebih kecilnya angka penegakan dikarenakan kepolisian masih menggunakan cara manual dalam penegakan di lapangan. Sementara perkembangan jumlah pengguna kendaraan bermotor begitu masif termasuk jumlah pelanggaran lalu lintasnya. Untuk menekan pertumbuhan angka pelanggaran tersebut harus ada terobosan atau inovasi dalam cara pengawasan dan penegakan peraturan lalu lintas di lapangan atau di jalan raya.

Hari ini, Minggu 25 November 2018 menjadi sejarah baru dalam upaya kepolisian Indonesia dalam mengembangkan inovasi penegakan hukum lalu lintas. Kepolisian Indonesia khususnya Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya melaunching atau meluncurkan inovasi sistem penegakan hukum atau peraturan lalu lintas secara elektronik, yang biasa disebut sebagai Electronic Traffic Law Enforcement atau ETLE. Sistem penegakan elektronik ini menggunakan perkembangan teknologi dalam pengawasan dan penegakan hukum di lapangan. Posisi alat dari teknologi ETLE ini sangat membantu pihak kepolisian dalam melakukan penegakan hukum lalu lintas.

Menggunakan alat ETLE ini, pihak kepolisian tidak lagi memerlukan jumlah personil yang banyak untuk ditempatkan di jalan-jalan raya dalam melakukan pengawasan serta penegakan aturan lalu lintas. Pengembangan
teknologi bisa digunakan sebagai alat – sarana membantu penegakan hukum atau peraturan lalu lintas dalam praktek di lapangan. Termasuk juga untuk penegakan peraturan lalu lintas di kota-kota seperti Jakarta dan sekitarnya. Pengawasan dan penegakan berbasis teknologi seperti sistem elektronik dalam ETLE bisa merubah perilaku masyarakat dalam berlalu lintas. Secara teknis penggunaan pengembangan teknologi membuat kinerja kepolisian lebih efektif, akuntabel, profesional dan modern dalam melayani masyarakat.

Gagasan membangun sistem penegakan hukum atau peraturan lalu lintas secara elektronik atau ETLE di Jakarta sebenarnya sudah menjadi ide atau gagasan sejak tahun 2010 lalu. Pemikiran menggunakan sarana elektronik dalam sistem penegakan muncul karena tingginya pelanggaran hukum lalu lintas dan semrawutnya lalu lintas di Jakarta ketika itu. Tingginya akan pelanggaran dan kesemrawutan lalu lintas di Jakarta disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat pengguna jalan dalam berlalu lintas. Aspek keselamatan dalam berlalu lintas sering diabaikan oleh masyarakat sendiri.

Pengabaian aspek keselamatan berlalu lintas itu disebabkan oleh karena masih rendahnya kesadaran masyarakat. Boleh dikatakan bahwa tingkat kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas baru selevel kesadaran anak usia 10 atau atau setingkat anak kelas 4 SD. Maksudnya level rendah setingkat kelas 4 SD itu adalah masyarakat baru akan tertib dan hati-hati jika ada petugas kepolisian di lapangan jalan raya. Buruknya kesadaran ini sangat jelas terlihat dan terbuka untuk kita saksikan setiap hari di Jakarta dan sekitarnya. Bisa jadi ada ratusan ribu pelanggaran peraturan lalu lintas di Jakarta, tetapi hanya sedikit yang dapat ditindak atau dicegah.

Sementara jumlah anggota kepolisian sangat kurang dan terbatas. Bahkan untuk mengisi ajakan penegakan seringkali menggunakan menempatkan patung seperti anggota polisi di pinggir jalan-jalan raya. Adanya petugas atau patung petugas kepolisian sangat efektif membuat pengguna jalan lebih hati-hati, tidak mudah untuk melakukan pelanggaran hukum lalu lintas dan tidak meremehkan aspek keselamatan.

Perubahan pendekatan penegakan secara elektronik ini akan membantu pengawasan, penegakan dan pembangunan perilaku tertib dalam berlalu lintas. Perubahan tersebut merupakan perubahan positif perilaku masyarakat dalam berlalu lintas. Perubahan perilaku yang dibangun akan mengurangi pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. Berkurangnya angka pelanggaran maka akan mengurangi angka kecelakaan dan jatuhnya korban dalam berlalu lintas.

Tujuan utama dari penggunaan pengawasan secara elektronik ini pemerintah ingin menjadikan jalan raya dapat diawasi secara efektif, menyeluruh dan penegakan hukum lalu lintasnya jadi lebih baik. Hukum atau peraturan serta kebijakan pemerintah yang baik dan penegakan isinya secara konsisten akan membawa perubahan atau membangun perilaku yang baik bagi masyarakatnya. Begitu pula dengan penerapan inovasi kebijakkan penegakan peraturan secara elektronik adalah sangat positif membantu pengawasan serta penegakan peraturan dalam berlalu lintas masyarakat secara tegas konsisten.

Selamat untuk hasil usaha dan pengembangan inovasi pelayanan yang sudah dilakukan Kepolisian Daerah (Polda Metro) Jaya. Semoga hari mendatang, Polda Metro Jaya terus mengembangkan pelayanan publiknya secara berkesinambungan.

Jakarta, 25 November 2018.
Azas Tigor Nainggolan.
Penulis adalah Analis Kebijakan Transportasi dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA).

Print Friendly, PDF & Email