No. Reg Rilis 095/RLS/XII/2018. Respon cepat KaDaops 2 PT KAI atas perlakuan ancaman sopir taksi gelap di stasiun Bandung.

No. Reg Rilis 095/RLS/XII/2018

Respon cepat KaDaops 2 PT KAI atas perlakuan ancaman sopir taksi gelap di stasiun Bandung.

Setelah saya menyebarkan Surat Protes atas perlakuan 3 orang sopir taksi gelap di Stasiun Bandung, Jawa Barat, pihak PT KAI langsung merespon protes saya tersebut. Surat protes saya sebar kepada beberapa teman wartawan, teman penggiat bidang transportasi dan publik melalui media sosial. Beberapa teman langsung membantu mengirimkan surat protes kepada pihak PT KAI. Terungkap ada juga tanggapan beberapa teman saya lainnya, pernah mengalami kejadian serupa di stasiun Bandung sebelumnya. Mereka terpaksa berjalan keluar stasiun jika tidak mau menggunakan taksi gelap. Kejadian seperti ini jelas menyulitkan para pengguna stasiun yang membawa anak-anak atau saat hujan turun.

Surat protes saya layangkan karena bersama beberapa teman pada hari Minggu 9 Desember 2018 sekitar jam 14.00 wib alami tekanan ancaman kekerasan dari tiga orang sopir taksi gelap saat tiba di stasiun Bandung. Saat itu kami memesan taksi online untuk melanjutkan perjalanan ke tempat acara di kota Bandung. Saat hendak memasuki mobil taksi online yang dipesan, Kawan saya bersama 2 orang anaknya dipaksa turun oleh 3 orang sopir taksi gelap. Kejadian itu sangat menakutkan kedua anak kawan saya dan mereka yerpkasa keluar dari taksi online karena ketakutan, berjalan ke luar stasiun sesuai perintah ancaman 3 orang sopir taksi gelap. Saat saya tegur, para sopir taksi gelap itu mengatakan bahwa mereka ada kesepakatan bersama pengelola stasiun Bandung dan polisi kota Bandung bahwa taksi online tidak boleh mengambil penumpang di dalam stasiun. Saya katakan kembali bahwa kesepakatan seperti itu justru melanggar hukum dan tidak boleh diterapkan.

Akhirnya kepala Daops 2 PT KAI, bapak Saridal langsung ke lapangan setelah menerima surat protes saya tersebut melalui beberapa teman. Dalam foto yang dikirim pak Saridal memang terlihat kosong lokasi Pintu Utara tempat terjadi pengancaman kepada kami. Semoga kejadian seperti ini benar-benar tidak terjadi lagi di stasiun Bandung. Kami berharap pengelola stasiun Bandung secara konsisten dapat menjamin kenyamanan pengguna stasiun. Juga semoga tidak terjadi di tempat publik lainnya, ada tindakan kekerasan yang menghalang-halangi hak masyarakat untuk bebas memilih produk layanan transportasi. Seperti dikabarkan juga bahwa di banyak bandar udara atau airport, para pengguna bandara bersikap diskriminatif, taksi online dihalang-halangi haknya oleh petugas keamanan setempat serta pengelola airport untuk mengambil penumpang. Pemerintah harus tegas melindungi semua warganya untuk bisa bebas mengakses layanan transportasi yang dipilihnya. Pemerintah juga harus melindungi hak setiap warga negaranya untuk bekerja atau melakukan usahanya tanpa ada diskriminasi kesempatan berusaha. Sekali lagi terima kasih kepada kepala Daops 2 PT KAI atas respon cepat tanggapnya. Harap sikap kepala Daops 2 yang menjaga kenyamanan pengguna kawasannya menjadi contoh sikap bagi pengelola kawasan publik lainnya seperti stasiun lainnya, bandar udara dan lainnya agar tidak menghalang-halangi usaha pengemudi taksi online memberi layanan kepada penggunanya.

Bandung, 9 Desember 2018
Azas Tigor Nainggolan.
Analis Kebijakan Transportasi dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA).

Print Friendly, PDF & Email