No. Reg Rilis 099/RLS/XII/2018 Ojol Pengganti Si Komo Lewat Kemacetan Jakarta Semakin Tak Terawat

No. Reg Rilis 099/RLS/XII/2018

Ojol Pengganti Si Komo Lewat
Kemacetan Jakarta Semakin Tak Terawat

Catatan Singkat tentang Kemacetan Jakarta yang Dipandang Sebelah Mata.

Transportasi saat ini sudah tumbuh kembang bersama dengan unsur-unsur teknologi. Dari sistem pembayaran yang serba elektronik sampai transportasi online minta diantar tinggal klik.

Tidak dapat dipungkiri, siapa yang tak pakai transportasi berbasis online sebagai pendamping hidup masyarakat zaman kini. Sedemikian banyak jumlah konsumen transportasi online ini, seringkali juga dijumpai akibatnya dengan naiknya jumlah kemacetan. Meski memang kemacetan bukan menjadi Janji utama Gubernur DKI Jakarta, namun semakin dibiarkan, kemacetan dan segala penyebabnya semakin menjadi kebiasaan.

Seperti halnya Halte Transjakarta di stasiun Cawang yang sejatinya adalah tempat untuk angkut penumpang Busway justru menjadi tempat pangkalan driver ojek online (ojol) mencari penumpang.

Sesekali para petugas dari dinas perhubungan bersama SATPOL PP menertibkan para ojol yang berada di sekitar halte tersebut, namun kejadian ini terulang lagi dan lagi karena sudah menjadi kebiasaan dan juga merupakan suatu keuntungan bilamana para ojol berdiam di halte tersebut.

Padahal, definisi dan fungsi halte pun sudah diatur jelas dalam Undang-undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pada bagian ketentuan umum yang menjelaskan Halte merupakan tempat pemberhentian Kendaraan Bermotor Umum untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Semrawut, adalah ungkapan yang pasti ada dibenak kita melihat kemacetan karena adanya penumpukan jumlah ojol sebagai tempat menjemput atau bahkan menunggu calon penumpang. Terlihat di stasiun-stasiun tujuan favorit seperti Bogor, Pasar Minggu, Tebet, Manggarai, dan beberapa stasiun lainnya.

Perbedaan yang jelas terasa berada di stasiun Juanda. Ojek pangkalan diberikan tempat khusus yakni di depan pintu keluar stasiun Juanda, hal ini jelas menguntungkan ojek pangkalan. Lain halnya dengan ojol yang harus berdiam agak jauh dari posisi pintu keluar, calon penumpang harus lebih berusaha untuk menghampiri ojol tersebut.
Dalam posisi ini, terasa perbedaan yang nyata yang membedakan ojek pangkalan dimana seharusnya bertempat di pangkalan yang sudah disediakan, karena namanya saja sudah ojek pangkalan, sejatinya berada di kawasan pangkalan.

Terlebih lagi sekarang Grab, salah satu peyedia jasa transportasi online sudah memiliki terobosan baru yang bernama GrabNow. Tujuannya agar calon penumpang dapat langsung menghampiri dan memilih driver ojol tanpa perlu menunggu lama.
Lantas, apa bedanya GrabNow ini dengan ojek pangkalan?

Akan tetapi, dari keresahan itu kita perlu sedikit apresiasi langkah Pemerintah Provinsi DKI yang sudah melakukan pertemuan dengan penyedia aplikasi transportasi online beberapa waktu lalu terkait perlunya lahan parkir untuk ojol. Hal ini diyakini agar dapat tertib dan tidak membuat kemacetan lebih lagi.

Namun, kita harus pahami, mencari lahan di Jakarta yang sudah padat ini, tidak semudah beli tahu bulat, yang di goreng dadakan siap makan. Jadi perlu diperhatikan urgensi yang perlu dilakukan saat ini mengingat kemacetan terus terjadi setiap hari. Penertiban oleh para petugas mungkin menjadi jawaban terbaik dengan lebih mempertegas pengawasan daerah-daerah yang sudah dilarang dan/atau menyebabkan macet sehingga meminimalisasikan angka kemacetan di Jakarta ini.

 

Jakarta, 14 Desember 2018
Borris Nainggolan
Assitant Public Attorney –
Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Print Friendly, PDF & Email