No. Reg Rilis 102/RLS/XII/2018. Politisasi massa ojek online. Menghina profesi pengemudi ojek online.

No. Reg Rilis 102/RLS/XII/2018

Politisasi massa ojek online.
Menghina profesi pengemudi ojek online.

Pada hari ini Minggu, 16 Desember 2018 diberitakan oleh banyak media massa bahwa capres no: 02, Prabowo Subianto melakukan kopi darat atau pertemuan dengan ribuan pengemudi ojek online atau ojol di Sentul, Jawa Barat. Menurut  keterangan pers media center Koalisi Indonesia Adil dan Makmur, pada hari Minggu ini, Prabowo menghadiri undangan ribuan pengendara ojol tergabung dalam Forgab (Forum Gabungan) Roda 02. Acara bertajuk ‘Kopdar Ojol Menuju Perubahan 2019’ di sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Beberapa hari sebelumnya, media massa memberitakan bahwa  pada 7 Desember 2018  puluhan pengemudi ojek online yang tergabung dalam Forum Gabungan Ojek Online Indonesia menemui capres Prabowo Subianto di rumahnya, Jalan Kertanegara 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, Edhy Prabowo mengatakan pertemuan itu diikuti dengan pernyataan dukungan kepada calon presiden nomor 02 itu. Edhy Prabowo juga melalui keterangan tertulisnya pada 7 Desember 2018  menyampaikan bahwa perwakilan pengemudi ojek online  menceritakan beberapa  permasalahan kepada capres nomor urut 02 dan mereka juga ingin memberikan dukungan.  Sementara itu juru bicara Forum Gabungan Ojek Online Indonesia, Zulfikar dalam pemberitaan media massa  mengatakan bahwa keluhan yang disampaikan  kepada  capres Prabowo itu terkait regulasi ojek online yang belum jelas hingga kini. Zulfikar mengatakan permintaan mereka kepada pemerintah selama ini tak terealisasi.

Sekitar satu bulan sebelumnya capres nomor 02, sempat mengatakan bahwa  dirinya, Prabowo Subianto sedih dengan adanya fenomena munculnya meme yang menggambarkan pemuda menjadi pegemudi ojek setelah lulus sekolah. Dia mengatakan, gambaran meme tersebut seharusnya tidak terjadi pada generasi muda di Indonesia. “Ada meme yang menunjukkan bahwa perjalanan karir pemuda Indonesia setelah lulus sekolah dari SD sampai SMA akan menjadi tukang ojek,” kata Prabowo di Hotel Shangrilla, Karet, Jakarta Selatan, Rabu, 21 November 2018. Pernyataan Prabowo tersebut disampaikan saat dirinya menghadiri acara Indonesia Economic Forum atau IEF. Dalam acara ini, Ketua Umum Partai Gerindra ini hadir serta membawakan pidatonya yang berjudul “The Path Ahead for Indonesia.”

Menanggapi pernyataan Prabowo di atas beberapa  komunitas atau kelompok  pengemudi ojek online membantah dan memprotes. Salah satu aksi protes datang dari Surabaya. Kelompok pengemudi ojek online Surabaya membantah dan melakukan aksi protesnya terhadap pernyataan calon presiden Prabowo Subianto, yang menurut mereka pernyataan Prabowo ditunggangi kepentingan politik. Para pengemudi ojek online Surabaya mengatakan bahwa aksi protes mereka murni menyuarakan hati nurani komunitas ojek online Surabaya. “Aksi di Surabaya dan di beberapa daerah lain murni karena kami ingin membela kehormatan profesi kami,” kata Humas Komunitas Peduli Ojek Online Jawa Timur, Ganis Sandi Asmoro, Rabu 28 November 2018.

Ganis  mengaku bahwa dirinya prihatin jika isu ojek online dipolitisasi dan dibentur-benturkan dengan kepentingan pasangan capres dan cawapres tertentu. Dikatakan juga oleh Ganis bahwa mereka para pengemudi ojek online tidak mendukung dan didukung calon kanan dan calon kiri. “Jika ada masalah dengan pekerjaan kami, tolong diberi solusi yang baik dan mendidik, jangan dihina,” ujar Ganis. Selanjutnya Ganis berharap, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden berkompetisi dengan baik dan memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat.

Dalam peristiwa klaim mengklaim dukungan massa ojek online ini  menarik jika kita mendalami  tanggapan yang disampaikan oleh Ganis Sandi Asmoro Humas Komunitas Peduli Ojek Online Jawa Timur atas tanggapan Prabowo Subianto. Ganis mengatakan bahwa protes mereka untuk membela kehormatan profesi sebagai pengemudi ojek online.

Sebagai pengemudi ojek online Ganis juga prihatin jika isu atau permasalahan yang sedang dihadapi  ojek online dipolitisasi dan dibentur-benturkan dengan kepentingan pasangan capres dan cawapres tertentu. Ya memang kita patut bertanya ada hal buruk apa dalam profesi sebagai pengemudi ojek online,  sehingga dijadikan contoh kegagalan  sebuah rezim pemerintahan? Apakah memang pantas profesi sebagai pengemudi ojek online digunakan untuk menghantam lawan politik yang sedang berkuasa? Walau akhirnya Prabowo  mengatakan itu  sebuah keprihatinan.  Juga pada akhirnya Prabowo secara  langsung mengakui dan memperhitungkan dan membutuhkan keberadaan  massa ojek online yang jumlah sangat besar.

Segeralah Prabowo mencoba mengatakan prihatin dengan kondisi yang dialami para pengemudi ojek online dan menghadiri kopi darat pengemudi ojek online. Jadi ada kebetulan yang memprihatinkan dan membangun panggung janji politik. Seperti biasa dalam setiap pemilu para pemilih hanya menjadi deretan angka yang dibutuhkan dukungan hanya saat pemilu saja. Sehingga kampanye pada saat pemilu tanpa sadar sering merendahkan atau meremehkan keberadaan rakyat pemilih itu sendiri. Memangnya menjadi pengemudi ojek online  sebuah profesi yang  memprihatinkan atau rendahan? Bukankah perilaku koruptif, tukang culik atau pelanggar HAM justru yang memprihatinkan? Seharusnya yang diperhatikan adalah perilaku ingin mengembalikan Indonesia suram semasa Suharto. Sebagai profesi, pengemudi ojek online adalah sebuah pengembangan profesi pelayanan transportasi umum dari kebutuhan menembus kemacetan kota.

Ojek online selama ini merupakan sarana transportasi yang cepat, murah dan solusi mengatasi kemacetan di banyak kota di Indonesia, seperti di Jakarta dan sekitarnya. Sebagai sebuah profesi  pengemudi ojek online sudah berkembang sedemikian pesat di tengah masyarakat Indonesia. Saat ini keberadaan ojek online sudah sedemikian banyak, cepat berkembang jumlahnya dan jadi penting bagi masyarakat. Keberadaan pengemudi ojek online seperti ini  jelas terhormat dan dibutuhkan oleh semua kota atau daerah sebagai alat transportasi alternatif. Perkembangan pesat ini membuat terus bertambahnya masyarakat yang sebelumnya memiliki profesi lain beralih  menjadi masuk ke dunia layanan ojek online. Banyak pula pekerja bidang lain yang menjadikan profesi tambahan untuk menambah penghasilan keluarga mereka dan memaksimalkan penggunaan sepeda motornya. Begitu pula sekarang banyak orang muda yang sebelumnya tidak melihat peluang pekerjaan, sekarang menjadikan  profesi pengemudi ojek online sebagai alternatif sambil  melihat peluang usaha atau pekerjaan lain. Pada awal mereka sangat tertarik  tawaran janji aplikator akan  pendapatan lumayan besar sebagai pengemudi ojek online. Mereka rela meninggalkan profesi sebelumnya menjadi pengemudi ojek online. Jumlah mereka semakin besar,  luar biasa perkembangannya dan melahirkan persaingan yang tidak dikendalikan  dan tidak kelola secara baik oleh para aplikator. Akibatnya saat ini para pengemudi ojek online  banyak alami masalah minimnya pendapatan karena perang tarif murah para aplikator, di beberapa daerah alami  kelebihan jumlah,  pemutusan mitra sepihak oleh aplikator, tidak adanya perlindungan usaha bagi pengemudi dari aplikator. Salah satu sebab utama semua masalah di atas  karena belum adanya payung hukum tata kelola ojek online.

Seharusnya capres Prabowo Subianto melihat dan menawarkan solusi atas kesulitan yang dihadapi oleh para pengemudi ojek online sebagai upaya memperbaiki hidup mereka. Kondisi nyata ini yang tidak dikenal serta tidak diketahui oleh Prabowo dan tim suksesnya. Sehingga   menyimpulkan dan merendahkan keberadaan profesi pengemudi ojek online sebagai sebuah kegagalan hidup seseorang. Keprihatinan Prabowo kepada para tamatan sekolah SMA menjadi pengemudi ojek online adalah kemunduran sebuah cara berpikir. Pilihan mereka menjadi pengemudi ojek online tentu lebih terhormat dari pada seorang doktor yang menjadi koruptor, mengaku orang pandai tapi menjadi penculik atau seorang politisi yang menjanjikan jika Prabowo menang pilpres mau mengembalikan ke masa Suharto.  Seharusnya Prabowo prihatin pada perilaku koruptif, melanggar HAM dan rakus kekuasaan bukan kepada pilihan profesi para pengemudi ojek online.

Janganlah memposisikan profesi sebagai pengemudi ojek online sebagai sebuah kegagalan dan kehinaan kemanusiaan warga negara sehingga dijadikan sebagai alat untuk menghantam lawan atau saingan politik capres lainnya. Cara tersebut adalah cara keji dan menunjukan kekalahan sebelum berperang di pilpres.  Carilah cara-cara yang fair,  tidak menggunakan atau mempolitisasi pilihan profesi ojek online sebagai alat kepentingan menjatuhkan lawan di pilpres. Kurang cerdas rasanya berpikir dan  menjadikan pilihan profesi pengemudi ojek online sebagai sebuah kegagalan dan memprihatinkan. Profesi sebagai pengemudi ojek online sungguh mulia karena membantu dan memfasilitasi pemenuhan hak bertransportasi setiap orang, mencari dan membawakan uang halal untuk keluarga. Tidak memberi makan keluarga dari uang hasil mencuri, mengeksploitasi sesama atau korupsi. Coba capres nomor 02 Prabowo Subianto lihat perkembangan bisnis para aplikator ojek online, yang saat ini  berkembang pesat sehingga memiliki aset trilyunan rupiah itu jelas berkat jasa usaha para pengemudi ojek online. Padahal sebelumnya perusahaan  aplikator itu hanya  memulai dengan modal tidak  terlalu besar  Jika ingin mendapatkan suara kemenangan di pilpres jangan adu domba pengemudi ojek  online dengan penguasa atau masyarakat dan mengadu domba pengemudi ojek online dengan penguasa yang menjadi saingan dalam pilpres. Bersainglah secara benar, tidak menghalalkan segala cara hanya  untuk menang dan berkuasa.

 

Jakarta, 16 Desember 2018
Azas Tigor Nainggolan
Analis Kebijakan Transportasi.

Print Friendly, PDF & Email