Opung Rita Boru Tobing, Ibu Pejuang Kaum Miskin Kota Jakarta

By on May 23, 2014. Posted in , .

Obituari,
Jakarta, 20 Mei 2014
Oleh: Azas Tigor Nainggolan
Pagi itu, hari Minggu 18 Mei 2914 saat saya menyalakan telepon genggam langsung masuk beberapa pesan singkat. Salkah sati pesan singkat masuk berbunyi: “Bang aku, Lena. Opung Richart bilang minta abang suruh datang menghibur. Opung Richart sekarang ada di tempatku di Sukapura. Maaf sebelumnya karena sms saya malam-malam”. Langsung saat itu sudah sekitar pk 08.00 wib telepon genggam saya berbunyi, ada telepon masuk. Ketika isteri saya mengangkat, isteri saya mengatakan bahwa  Lena, puteri opung Richart terdengar sedih dan menangis memberi tahu bahwa Opung Richart atau opung Rita sudah meninggal dunia. Lena memberi informasi bahwa ibunya, opung Richart, jenasah sudah berada di RSUD Koja Jakarta Utara.
Langsung saja saya mengajak seorang kawan dari FAKTA, mas Ary mendatangi RSUD Koja untuk menemui jenasah opung Richart dan keluarga. Saat di ruamh sakit kami berjumpa dengan kedua puteri opung yang bernama Rita dan Lena. Sambil menangis mereka bercerita pada kami tentang saat-saat terakhir opung sebelum wafat. Malam itu opung berkali-kali bertanya pada Lena puterinya, apa saya sudah dihubungi dan datang? Lena bercerita bahwa malam itu terpaksa berbohong mengatakan bahwa saya masih dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Padahal malam itu telepon genggam saya matikan dan Lena memang tidak bisa menghubungi saya sampai pagi. Akhirnya saya hanya bertemu dan  memandangi tubuh tua opung Rita yang wafat dalam usia sekitar 74 tahun itu menyisakan duka dan kesedihan mendalam. Terasa dalam hati saya sebagai orang muda ketika itu baru berkenalan dengan opung Rita banyak memberikan kesempata saya belajar tentang hidup orang kecil, orang miskin dan orang yang selalu digusur oleh pemerintahnya juga sesamanya.
Saat saya memandangi jenasah opung Rita, pikiran saya menerawang ke masa lalu. Masa saat saya dan opung Rita pertama kali bertemu dan berkenalan serta berjuang bersama warga miskin Jakarta. Opung Richart atau Opung Rita demikian saya dan teman-teman FAKTA dan warga miskin kota Jakarta biasa memanggilnya. Perkenalan kami dimulai sekitar tahun 1991 lalu saya saya masih aktif sebagai pekerja sosial di Institut Sosial Jakarta (ISJ), sekaligus advokat untruk warga miskin di Jakarta. Ketika itu saya bersama kawan-kawan ISJ diminta opung Rita dan kawan-kawannya untuk membantu  mendampingi mereka dan  warga miskin lainnya yang tinggal di Solobone Cempaka Putih, Jakarta Pusat yang akan digusur oleh pemda Jakarta atas permintaan pengusaha Probo Sutejo. Warga miskin yang tinggal di Solobone itu pekerjaannya kebanyakan pemulung, PSK, Asongan dan Kusir Delman. Lahan pemukiman mereka diakui dan dirampas oleh Probo Sutejo, adik tiri mantan presiden Soeharto sebagai miliknya dan akan dibangun menjadi mal.
Hampir setiap malam saya berkunjung ke komunitas warga di Solobone tersebut. Ada saja warga atau anak-anak di sana yang menemani saya menghabiskan malam. Pengalaman itu luar biasa membentuk kesadaran saya akan arti berjuang sebagai orang miskin di Jakarta tanpa bantuan siapa pun. Pemukiman di atas tanah dengan tumpukan sampah, penerangan tanpa listrik dan seadanya serta tidak diakui oleh pemerintah kota Jakarta. Luar biasa perjuangan hidup opung Rita bersama warga miskin di Solobone.
Memang saat itu warga yang ada di atas pemukiman tersebut, sekitar 70 keluarga berusaha bertahan dan melawan agar tidak digusur. Namun apalah kekuatan warga miskin dibandingkan kekuatan puluhan tentara dari Kodim Jakarta Pusat, polisi Polres Jakarta Pusat dan Trantib Kotamadya Jakarta Pusat yang datang menggusur dan membakar pemukiman warga di Solobone. Warga kebingungan dan ketakutan melihat rumah dan semua harta benda di dalamnya dibakar oleh tentara, polisi dan trantib secara bringas dan tidak peduli pada suara tangis anak-anak dan ibu-ibu warga Solobone. Akhirnya semua rumah dan semua isinya habis dibakar dan lahan rata langsung dikuasai tentara dan polisi. Selanujutnya di atas lahan tersebut dibangun dan berdirilah Mal Cempaka Mas yang seperti sekarang bisa kita lihat posisinya tepat sekali di perempatan jalan Cempaka Putih Jakarta Pusat.
Warga yang digusur dan dibakar rumahnya itu, opung Rita dan kawannya mengungsi dan kami bawa ke lahan kosong di seberang lokasi awal. Lokasi tersebut di sekitar waduk Ria Rio Pulomas, yakni Pedongkelan Jakarta Timur. Bersama opung Rita, kami berusaha mendampingi dan membantu agar warga yang digusur bisa memulai hidup baru di Pedongkelan di sekitar waduk atau danau Ria Rio. Nah sejak saat itulah lokasi lahan Pedongkelan menjadi ramai didatangi dan digarap menjadi pemukiman atau komunitas warga miskin Pedongkelan atau Danau Ria Rio biasa disebutnya.
Opung Rita selama hidupnya boleh dibilang hidup di jalanan karena beliau berdagang makanan di perempatan jalan Cempaka Putih, Pedongkelan. Selain itu juga secara khusus opung Rita bekerja sebagai penggerak perjuangan warga miskin di Pedongkelan. Apa saja persoalan warga miskin di Pedongkelan, opung Rita akan dengan senang hati membantu dan memperjuangkannya, Ada warga sakit, opung Rita akan menemani dan mengantar ke rumah sakit. Jika ada anak warga yang kesulitan masalah biaya atau urusan di sekolah maka opung Rita akan mengurus serta menyelesaikan. Apabila ada penangkapan razia asongan, opung Rita akan cepat mendatangani saya dan teman-teman di FAKTA. Opung Rita akan menceritakan dan mengajak para korban ke FAKTA dan menyusun langkah perjuangan melawan tindakan sewenang-wenang aparat kemanan atau pemda.   Apa saja masalah yang dihadapi warga miskin di Pedongkelan selalu opung Rita ikut menjadi pejuangnya. Jika opung Rita dan kawan-kawan tidak bisa menyelesaikannya, barulah dia datang ke kami di FAKTA.
Begitu pula pada bulan Januari 2014  saat pemprov Jakarta mau menggusur pemukiman warga miskin di sekitar waduk dan danau Ria Rio. Saat itu akan tergusur sekitar 3.500 keluarga miskin akibat rencana pemprov Jakarta yang hendak membersihkan waduk Ria Rio dan danau Ria Rio dari pemukiman warga miskin.  Opung Rita bersama beberapa orang temannya sesama warga Pedongkelan datang menemui kami di FAKTA. Bersama teman-temannya, opung Rita  menceritakan kasus penggusuran yang akan menimpa tempat tinggal mereka. Berawal dari itulah kami, FAKTA memulai ikut dalam perjuangan melawan penggusuran yang akan di lakukan pemprov Jakarta terhadap pemukiman warga miskin Pedongkelan. Pemukiman yang terdiri dari 7 RT itu secara bertahap dibangun oleh opung dan teman-temannya menjadi komunitas yang sadar dan kompak berjuang bersama. Hasilnya mereka mendapatkan pemindahan rumah ke rumah susun sewa Pinus Elok Penggilingan Jakarta. Warga diberi kesempatan sementara tinggal gratis sewa selama 6 bulan dan uang pindah Rp 4 juta rupiah tiap keluarga.
Sementara itu opung Rita dan sekitar 12 keluarga lainnya justru belum mendapatkan jatah rumah susun dan uang pindah itu sampai sekarang karena mereka justru tidak didaftarkan oleh Camat Pulogadung Jakarta Timur sebagai korban penggusuran. Opung bersama warga dan kami sudah mencoba mengurus ke Dinas Perumahan namun tidak membuahkan hasil. Awal setelah penggusuran, opung Rita dan 12 keluarga itu tinggal dengan tenda di atas tanah Pedongkelan yang sudah tidak ada bangunan rumah lagi. Lama kelamaan opung Rita dan teman-temannya itu meninggalkan kawasan penggusuran Pedongkelan. Opung Rita sendiri pindah dan tinggal di rumah ke dua puterinya di Cakung dan di sekitar pasar Pedongkelan.
Ya begitulah memang nasib opung Rita yang berjuang bukan hanya untuk dirinya tetapi juga bagi hidup warga miskin lainnya. Hidup berpindah dan berusaha sendiri dengan berjualan daging ayam di perempatan jalan Cempaka Putih. Perjuangan opung juga sering kali diberikan untuk warga miskin lainnya di Jakarta. Seringkali opung Rita ikut berjuang jika ada kasus yang menimpa warga miskin lain di Jakarta. Walau usia sudah cukup tua, opung Rita tetap bersemangat berjuang bagi sesamanya. Satu ketika opung Rita mengatakan pada saya bahwa dia akan terus berjuang untuk warga miskin sampai akhir hayat. Ya memang benar yang dikatakannya. Dua minggu sebelum opung Rita wafat, dia masih datang ke FAKTA dan melaporkan kasus razia penangkapan asongan di perempatan jalan Cempaka Putih Pedongkelan oleh aparat trantib Jakarta. Opung meminta ditemani memperjuangkan asongan di sana agar tidak ditangkap petugas Trantib.
Hati opung Rita adalah hatinya orang kecil. Perjuangan opung Rita adalah perjuangan orang kecil. Semangat berjuang bagi sesama yang miskin dan disingkirkan oleh pemerintah dan bahkan sesamanya itu dilakukannya sampai akhir hayatnya. Luar biasa hidup opung Rita bagi sesamanya yang miskin, menderita, disingkirkan dan yang disia-siakan oleh pemerintah dan negara. Selamat jalan opung Rita boru Tobing. Terima kasih atas pengalaman berjuang bersama yang sudah kau berikan pada saya dan kawan-kawan di Institut Sosial Jakarta, di Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) dan komunitas warga miskin kota Jakarta. Sekarang opung Rita sudah berbahagia bersama Allah di Surga yang tidak ada penggusuran dan penindasan. Selamat berbahagia Opung Rita. Doakan terus perjuangan kaum miskin di Jakarta dan di mana pun. (atn)
opung Rita
Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.