Orang Miskin Dilarang Sehat, Dilarang Sakit dan Dilarang Hidup

By on February 17, 2010. Posted in .

Seakan pemerintah tidak perlu bertanggung jawab terlalu besar terhadap kehidupan warga yang miskin, hanya diposisikan sekedar proyek yang enak diselewengkan dan dikorupsi sesuka hati. Lihat saja pengalaman warga miskin Jakarta yang masih saja kesulitan mengakses fasilitas pelayanan kesehatan yang merupakan hak mereka sebagai warga negara. Setiap tahun pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyediakan anggaran begitu besar untuk program kesehatan Keluarga Miskin (Gakin dan SKTM). Tahun 2010 ini saja Pemprov Jakarta menyediakan anggaran sebesar Rp 413 milyar. Niat baik dengan penyediaan anggaran yang begitu besar ternyata masih sulit diakses oleh warga miskin. Kesulitan warga miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik ternyata masih jauh dari harapan dan pengakuan atas hak dasar sebagai warga negara.

Sebut saja pengalaman Benny seorang warga miskin yang tinggal di Jakarta Timur. Beberapa hari lalu Benny harus masuk ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena keluhan sakit jantung dengan bekal Surat Keterangan Tidak Mampu atau Miskin (SKTM). Saat masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSCM kondisi Benny cukup kritis dan tidak bisa langsung mendapatkan kamar perawatan, terpaksa menginap 1 hari di UGD. Hari kedua Benny di RSCM, pihak keluarga sudah disodori daftar biaya pengobatan, biaya operasi dan obat-obatan sebesar Rp 80 juta oleh pihak manajeman RSCM. Setelah diurus akhirnya pihak Dinas Kesehatan Pemprov Jakarta memberikan surat persetujuan akan membiayai Benny sesuai tindakan medis dan pembiayaan yang diperlukan sesuai diajukan pihak RSCM.

Sehari setelah surat persetujuan Dinas Kesehatan keluar, hari keempat Benny di RSCM disuruh pulang oleh tenaga medis RSCM dengan alasan Benny sudah sehat. Pihak keluarga berkeras bahwa mereka tidak mau pulang karena takut jika terjadi masalah kesehatan Benny dan tidak ada surat keterangan dari dokter yang merawat menyatakan Benny sudah boleh pulang. Akhirnya keluarganya karena dipaksa terus oleh pihak RSCM maka membawa Benny pulang ke rumah dengan rasa takut. Saat ini rupanya Benny hanya mendapatkan perawatan jalan saja sementara rancangan biaya sudah dibuat oleh pihak RSCM termasuk biaya operasi. Ketika belum ada jaminan SKTM, pihak RSCM mendesak keluarga untuk secepatnya cari uang agar Benny bisa segera dioperasi. Tetapi setelah ada jaminan pembayaran justru pihak RSCM menyatakan Benny belum perlu dioperasi.

Pengalaman buruk di atas juga dialami oleh seorang ibu Sulastri, warga miskin yang berprofesi sebagai pemulung dan tinggal di Penas Jakarta Timur. Ibu Sulastri setelah diperiksa oleh pihak RSCM ternyata mengidap penyakit Tumor di atas Ginjal dan harus dioperasi. Sebagai warga miskin yang memiliki kartu Gakin, ibu Sulastri tetap diharuskan menyiapkan uang untuk keperluan operasinya. Ketika masuk dan untuk mendapatkan kamar ibu Sulastri harus membayar Rp 120.000 pada pihak RSCM. Rupanya sebagai pemegang kartu Gakin, ibu Sulastri jika ingin memeriksa laboratorium atau menebus obat harus menebus keluar RSCM dan ini harus dibayar. Semua fasilitas medis jadi tidak ada karena ibu Sulastri adalah warga miskin pemegang kartu Gakin. Belum waktunya pulang, setelah dioperasi tanggal 6 Jnauari 2010 disuruh pulang walau luka bekas operasinya belum kering karena dianggap sudah terlalu lama di rumah sakit, sementara dia menandatangani surat pulang dengan tanggal 11 Januari 2010.

Masalah penyelewengan dengan menggelembungkan (mark up)biaya perawatan warga miskin pemegang Gakin atau SKTM bukanlah satu-satunya bentuk penyelewengan oleh pihak rumah sakit. Berdasarkan pengaduan dan investigasi yang dilakukan terhadap pelayanan kesehatan bagi warga miskin pemegang Kartu Gakin atau SKTM oleh kami, Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) sejak Juni 2009 hingga Pebruari 2010 (lihat Lampiran Data Kasus Kesehatan) ditemukan beberapa bentuk penyelewengan antara lain berbentuk:
? Pembayaran illegal untuk mendapatkan kamar perawatan di RSCM sekitar Rp 100.000 hingga Rp 1 juta,
? Biaya sewa kursi dorong
? Dipaksa membeli obat-obatan atau alat-alat kesehatan
? Membayar biaya laboratorium
? Membayar uang muka perawatan
? Pelayanan tenaga medis yang tidak manusiawi.
Pelanggaran-pelanggaran terhadap hak-hak warga miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan itu seakan ingin menunjukkan sikap para tenaga medis di rumah sakit yang memposisikan bahwa orang miskin dilarang sehat, dilarang sakit dan dilarang hidup. Berdasarkan hasil investigasi dan analisis kami ini juga menunjukkan bahwa penderitaan dan kematian serta besarnya anggaran biaya kesehatan warga miskin yang disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta telah dijadikan bahan pesta pora para tenaga medis di rumah sakit. Sungguh sikap berpesta pora di atas penderitaan dan hidup mati warga miskin adalah perbuatan sangat tidak manusiawi dan biadab.

Sebagai warga Jakarta, kami meminta pihak Kementrian Kesehatan memberikan tindakan tegas kepada pihak-pihak yang telah menggelapkan dan mempersulit pelayanan bagi warga miskin. Kami juga menuntut agar pemerintah melalui Kementerian Kesehatan melindungi hak-hak dasar warga miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Kami menunutut juga agar kementerian kesehatan membangun sistem pengawasan yang melibatkan masyarakat agar program bantuan kesehatan ini juga berjalan dan dapat diakses oleh seluruh warga miskin secara adil tanpa penyelewengan. Banyaknya warga miskin memegang SKTM atau tidak mendapatkan Kartu Gakin ini menandakan bahwa sistem atau alat ukur warga miskin sebagai penerima kartu Gakin harus diperbaiki. Perbaikan itu dapat dilakukan agar indikator warga miskin diperbaiki oleh pihak Badan Pusat Statistik (BPS). Menggelapkan dan memakan anggaran kesehatan bagi warga miskin adalah bukan perbuatan manusia.

{xtypo_sticky}Jakarta, 17 Februari 2010
Azas Tigor Nainggolan
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta)
Advokat Publik bagi Warga Miskin di Jakarta
azastigor@yahoo.com
Kontak: 08159977041 {/xtypo_sticky}

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.