Pemerintah Harus Tekan Konsumsi Rokok

Biaya Kesehatan Ternyata Lebih Besar Dibanding Cukai yang Diterima

JawaPos.com – Indonesia merupakan salah satu produsen dan konsumen tembakau serta produk tembakau (rokok) terbesar di dunia. Dari data konsumsi rokok dunia tahun 2014, setiap perokok di Indonesia mengonsumsi 1.322,3 rokok per tahun. Angka itu meningkat 15,91 persen.

Tingginya konsumsi rokok ini memacu produsen rokok untuk terus meningkatkan produksinya. Sayangnya, industri rokok Indonesia cenderung lebih memanfaatkan tembakau impor dibandingkan tembakau produksi dalam negeri.

Produktivitas tembakau pada 2015 mencapai 948 kilogram daun tembakau per hektar per musim atau 202 ribu ton tembakau dari luas area 218 ribu hektar. Sementara, total petani tembakau tercatat sekitar 567 ribu keluarga dengan kepemilikan lahan kurang dari satu hektar per keluarga.

“Tingginya konsumsi rokok di Indonesia menimbulkan berbagai dampak negatif, tidak hanya bagi perokok itu sendiri tetap juga bagi orang lain di sekitarnya yang tidak merokok,” kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Yusman dalam keterangan tertulis, Minggu (29/10).

Kementerian Kesehatan tahun 2013 merilis kerugian yang dialami akibat beragam masalah kesehatan akibat rokok mencapai Rp 378,75 triliun per tahun. Artinya, manfaat yang diterima negara dari cukai rokok sebenarnya tidak sebanding dengan besarnya biaya kesehatan yang ditanggung oleh masyarakat.

Menurut kajian konsumsi rokok masyarakat di pedesaan, penduduk desa mengeluarkan uang lebih besar (untuk konsumsi rokok) daripada orang kaya dan penduduk perkotaan. Selain itu, harga yang diterima petani tembakau relatif rendah. Itu sebabnya petani tembakau miskin.

“Saya amati pemerintah enggan mengkaji dampak rokok bagi konsumen. Saya juga kesusahan mendapatkan data produksi real rokok saat ini,” ujarnya.

Menurut Yusman, upaya pengendalian produksi tembakau jangan diartikan sebagai upaya mematikan kehidupan ekonomi petani tembakau Indonesia. Petani tembakau telah melakukan upaya diversifikasi usaha tani sehingga tembakau bukan satu-satunya sumber pendapatan mereka.

Tujuh perusahaan rokok utama secara bersama-sama menguasai 88 persen pasar rokok nasional. Total produksi rokok tahun 2014 diperkirakan mencapai 352 miliar batang dan tahun 2020 diproyeksikan mencapai 542 miliar batang.

Keuntungan pabrik rokok pada 2015 mencapai lebih dari Rp 10 triliun. Nilai ini sangat besar dan telah mengantarkan pemilik-pemiliknya sebagai orang-orang terkaya di Indonesia.

Setiap tahun pemerintah mengandalkan produk hasil tembakau untuk memenuhi target penerimaan cukai. Rata-rata setiap tahun, cukai hasil tembakau berkontribusi sebesar 95 persen dari target. Tahun 2016, pemerintah mendapatkan Rp 144 triliun rupiah dari total penerimaan cukai. Tahun 2017 diperkirakan pemerintah akan menerima Rp 157 triliun.

Yusman mengusulkan beberapa kebijakan pengendalian produksi dan konsumsi tembakau dengan menurunkan tingkat produksi rokok. Produksi tembakau harus dikendalikan serta harus ada kebijakan perdagangan terutama terkait importasi tembakau.

“Harapannya, manfaat ekonomi dari tembakau dapat ditingkatkan dan potensi bahaya yang mengancam kesehatan masyarakat bisa ditekan,” pungkasnya.

(ika/ce1/JPC)

Print Friendly, PDF & Email