Peringatan Hari Anak Nasional

By on August 1, 2010. Posted in .

Begitu pula dengan potret kehidupan anak-anak kita, harus beragam dalam arti memiliki warnanya anak-anak. Semua ajaran baik selalu mengajak kita untuk belajar dari anak-anak dan mencintai anak-anak. Pertanyaannya sekarang apakah sebagai bangsa atau orang dewasa sudah memiliki kepedulian dan komitmen untuk mau menghidupi anak-anak? Komitmen itu haruslah sebuah semangat untuk menerima secara beragam pribadi anak bagi perkembangan anak itu sendiri. Pasti berbagai upaya sudah pernah dan mungkin masih berlangsung kita lakukan untuk menghidupi anak-anak agar berkembang secara baik sesuai diri anak itu sendiri. Mungkin juga ada rasa cinta luar biasa yang mendasari kepedulian dan komitmen kita bagi perkembangan anak-anak bangsa ini.

Siapa yang menduga dan peduli jika masih banyak anak-anak bangsa ini tidak bisqa sekolah karena kemiskinannnya? Beberapa bulan lalu saya berkenalan dengan Deni (14 tahun) yang terpaksa berhenti sekolah setelah lulus SD karena ayahnya sudah kmeninggal dunia dan ibunya tergelatak di rumah karena menderita kanker kandungan. Dua orang kaka Deni juga terpaksa berhenti sekolah dan terpaksa menjadi pembantu rumah tangga. Mereka berempat sekarang ini tinggal di rumah gubuk-gubuk di Kawi-kawi Jl. Johar Baru Jakarta Pusat. Sungguh luar biasa perjuangan juangan keluarga miskin dan membuat saya menangis ketika bertemu dengan Deni dan keluarganya. Siapa yang mau peduli dan bersimpati? Mereka sudah bertahun-tahun hidup menderita dalam kungkungan kemiskinan yang mendalam.

Teringat juga pengalaman saya bertemu dengan Roland (12 tahun). seorang anak yang terpaksa berhenti sekolah karena kemiskinan ayah angkat yang hanya bekerja sebagai pemulung. Roland bekerja sebagai tukang cuci piring pada seorang penjual lontong sayur di Pasar Palmeriam, Jakarta Timur. Sebenarnya Roland ingin sekali bisa bersekolah seperti anak lainnya tetapi kehidupan nyata berkata lain. Roland harus menghidupi dirinya sendiri dan dikeluarkan dari sebuah SD karena tidak mampu membiayai sekolahnya. Menjadi tukang cuci piring dan berhenti bukanlah pilihannya tetapi kemiskinan yang membuatnya demikian.

Begitu pula dengan pengalaman saya tahun lalu berkenalan dengan Ilham (11 tahun), seorang anak asongan yang menjual celengan buatan ayahnya. Ilham yang merupakan siswa kelas 4 di SD 02 Cikini Jakarta Pusat setiap malam berjualan celengan pada pengunjung warung makan kaki lima di sekitar Pasar Cikini. Berjualan di malam hari tentu ini bukan berarti Ilham malas belajar atau bodoh. Justru Ilham terpaksa berjualan untuk membantu menghidupi keluarganya dan biaya sekolahnya. Sebagai anak-anak tentu Ilham punya cita-cita, keinginan dan kesempatan seperti anak lain. Tentu Ilham ingin juga di malam hari belajar atau bercengkrama dengan keluarga di rumah. Lagi-lagi kemiskinan terpaksa Ilham membuat Ilham mengubur jauh keinginannya sebagai anak-anak yang tidak miskin.

Sudah 20 tahun ini Indonesia menandatangani dan meratifikasi Konvensi Internasional Hak Anak. Tentunya juga sudah banyak yang komitmen dan diberikan bagi pemenuhan hak anak Indonesia. Banyaknya komitmen dan program itu tentnu seharusnya sudah memberi bagi perlindungan perlindungan hak anak di negeri ini. Perlindungan bagi hak anak bukanlah hanya dari sentuhan phisik atau program meriah seremonial belaka. Sebuah perlindungan penting juga diwujudkan dan ditunjukkan dalam bentuk sikap melihat dan memposisikan keberagaman kehidupan anak itu sendiri.

Satu hal sikap yang masih banyak mewarnai cara pandang atau cara pikir kita orang dewasa terhadap anak adalah masih suka memberi stigma atau penilaian (cap) negatif terhadap keberadaan anak-anak. Penilaian negatif itu terlihat ketika kita menyikapi keberadaan miskin yang terpaksa menjadi Anak Jalanan, Anak Penyandang cacat atau Anak yang terpaksa bekerja (sebagai pemulung, buruh cuci, asongan, pedagang kaki lima, pengamen, penyemir sepatu, pengemis) sebagai anak nakal, anak malas, anak bodoh dan anak tidak sopan. Perlindungan yang dirumuskan dalam Konvensi Hak Anak adalah untuk semua anak dan harus dipenuhi oleh kita orang dewasa. Persoalannya sekarang perlindungan hak tersebut sangat minim dan nyaris terkubur oleh stigma yang kita orang dewasa berikan.

Cara melihat dan stigma itu sejauh pengalaman saya sejak 20 tahun, ketika tahun 1990 pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak, stigma itu sudah ada dan dilekatkan kepada anak-anak miskin. Hingga saat ini kita masih mengatakan dan memberi cap negatif (stigma) pada anak-anak miskin. Masih ada anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah lalu bekerja menjadi buruh cuci piring, penyemir sepatu, pengamen atau asongan tetapi kita menstigma mereka. Apakah hati kita tidak tergerak dan berubah melihat kehidupan miris anak-anak kita yang miskin itu? Apakah hati kita tidak mampu merubah sikap kita agar mau melindungi dan membagi kebahagian bersama mereka?

Semoga melalui peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli akan memberi semangat serta menggerakkan hati kita orang dewasa pada hidup dan hidup masa depan anak-anak bangsa. Begitu pula pada hari ini, 1 Agustus 2010 Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) merayakan Hari Anak Nasional bersama anak-anak msikin dari beberapa kampung di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Thema yang diambil tahun 2010 ini adalah ?Aku Anak Jakarta, Sehat dan Sekolah?. Harapan kami ke depan anak-anak Jakarta bisa mengakses pendidikan dan kesehatan yang layak. Pendidikan dan kesehatan adalah hak semua anak dan harus dipenuhi oleh pemerintahnya.

Keberadaan dan kehidupan beragam anak-anak miskin inilah yang harusnya menjadi pintu masuk kita untuk merubah sikap kita negatif terhadap anak-anak miskin. Berubahnya sikap negatif kita itu akan memberi ruang hati nyata bagi kehidupan anak-anak kita yang miskin. Ruang hati itu adalah kesempatan memberikan hidup sesuai diri anak-anak dan bukan sekedar seremonial belaka atau berkedok seolah baik. Memberi perlindungan dan memenuhi hak anak adalah sebuah kewajiban kita orang dewasa agar ada yang melanjutkan hidup ini lebih baik lagi. Mari kita fasilitasi anak-anak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka tanpa pilih kasih.

{xtypo_sticky}Jakarta, 01 Agustus 2010
Azas Tigor Nainggolan
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta)
Advokat Publik bagi Warga Miskin di Jakarta
azastigor@yahoo.com
Kontak: 08159977041 {/xtypo_sticky}

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.