Petugas PPSU Jakarta Selatan Kepergok Buang Sampah ke Ciliwung di Wilayah Depok

WARTA KOTA, DEPOK — Hartono, seorang petugas penangangan prasarana dan sarana umum (PPSU) Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, tertangkap tangan sedang membuang sampah di Ciliwung.

Aksinya itu dipergoki oleh para relawan Komunitas Ciliwung Depok (KCD) membuang sampah sembarangan ke Kali Ciliwung Depok di Jembatan Grand Depok City (GDC), Pancoran Mas, Depok, Sabtu (6/1/2018) siang.

Ia kemudian diserahkan ke Tim Buser Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, untuk ditindak dengan didata serta disita kartu identitasnya.

Nantinya Hartono yang tercatat sebagai warga Beji, Kota Depok, itu akan diajukan ke sidang tindak pidana ringan (tipiring) ke Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok. Ia dianggap telah melanggar Perda Kota Depok Nomor Nomor 16 Tahun 2012, tentang Pembinaan dan Pengawasan Ketertiban Umum atau yang dikenal dengan Perda Tibum.

Dalam perda tersebut pelaku pembuang sampah secara sembarangan di Depok, diancam hukuman kurungan paling lama 3 bulan dan atau denda maksimal sampai Rp 25 Juta.

Namun selama ini, biasanya para pelaku pembuang sampah liar atau sembarangan hanya dijatuhi denda sampai Rp 200 Ribu saja oleh majelis hakim.

Pendiri KCD, Taufik DS, menuturkan tertangkap tangannya seorang petugas PPSU Jakarta Selatan yang dikenal dengan pasukan oranye sangatlah ironis.

Sebab petugas PPSU di bawah Pemprov DKI tersebut, menurut Taufik, salah satu tugasnya adalah menangani sampah dan menjaga kebersihan kota Jakarta.

“Tapi mereka kedapatan membuang sampah sembarangan ke Kali Ciliwung di Depok. Ini sangat ironis bagi kami,” kata Taufik, kepada Warta Kota, Minggu (7/1/2018).

Ia mengatakan saat tertangkap tangan, Hartono diketahui membuang satu kantong plastik penuh sampah dari Jembatan GDC.

Saat itu kata Taufik, para relawan GDC sedang beraktifitas di bawah kolong jembatan di sisi Sungai Ciliwung.

“Para relawan melihat ada sampah dijatuhkan dari atas jembatan. Lalu beberapa relawan mencoba mengejar pelakunya. Ternyata pelakunya petugas PPSU Jakarta Selatan, dan kami cukup kaget,” kata Taufik.

Saat itu, kata dia, Hartono mengendarai sepeda motor namun tak sempat kabur usai membuang sampah ke Sungai Ciliwung, karena keburu diamankan sejumlah relawan KCD.

“Saat kami amankan, yang bersangkutan masih mengenakan baju oranye, yang merupakan baju tugas PPSU Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan,” kata Taufik.

Dari pengakuan pelaku, kata Taufik, sampah bukan hasil operasi kerjanya di wilayah Jakarta.

Selain itu pembuangan sampah sembarangan dilakukan Hartono, sudah diluar jam tugasnya bekerja sebagai PPSU di Kelurahan Cilandak Barat.

“Setelah yang bersangkutan kami amankan, kami langsung hubungan tim buser kebersihan DLHK Depok. Pak Kusumo, Kabid Kebersihan DLHK Depok, datang langsung dan mendata pelaku serta menyita kartu identitas penduduknya,” kata Taufik.

Kabid Kebersihan DLHK Depok Kusumo, menuturkan bahwa setelah didata dan diberikan surat penyitaan kartu identitas, nantinya pelaku akan diajukan ke PN Depok untuk menjalani sidang tindak pidana ringan.

Sebab katanya pelaku telah melanggar Perda Kota Depok Nomor Nomor 16 Tahun 2012, tentang Pembinaan dan Pengawasan Ketertiban Umum.

“Kami berterimakasih atas peran serta relawan KCD atas informasinya dalam penanganan pembuang sampah liar di Depok ini,” katanya.

Sebelumnya Kusumo mengatakan bahwa pelaku pembuangan sampah liar atau ilegal yang tertangkap tangan Tim Buser Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, pada tahun 2017, tercatat sebanyak 153 orang.

Mereka sudah diajukan ke PN Depok karena melakukan tindak pidana ringan (Tipiring) pelanggaran Perda Tibum, dengan sanksi berupa denda.

Jumlah tersebut tercatat jauh menurun dibanding 2016 lalu dimana ada 237 orang yang tertangkap tangan tim buser kebersihan Depok karena membuang sampah sembarangan.

Dari data tersebut Kusumo berpendapat tim buser kebersihan dan penerapan Perda Tibum efektif mendisiplinkan pembuang sampah.

Menurut Kusumo, warga yang kedapatan membuang sampah liar atau ilegal di Kota Depok, tidak seluruhnya merupakan warga Depok.

Sebagian besar kata dia justru diketahui ber KTP di luar Depok atau bukan warga Depok.

“Dari 153 pembuang sampah ilegal 2017 ini, 70 persen yang terjaring adalah warga luar Depok. Umumnya mereka sekalian melintas wilayah Depok sembari membuang sampah. Mereka adalah waga Bogor, Ciputat, Tangerang, Bekasi dan wilayah lainnya. Setelah diinterogasi, memang ada unsur kesengajaan,” kata Kusumo.

Mereka yang tertangkap tangan kata dia di data di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok untuk kemudian didaftarkan di pengadilan dan mengikuti sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring).

Pihaknya kata Kusumo akan terus melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) pembuang sampah sembarangan ke depannya.

Menurutnya petugas akan berjaga di beberapa titik rawan pembuang sampah liar di jam-jam rawan.

“Pukul 02.00 sampai 05.00 dini hari, merupakan jam-jam rawan pembuang sampah liar beraksi. Tim buser kebersihan sebanyak sekitar 100 orang akan terus lakukan pengawasan di sejumlah titik. Dengan ini diharapkan bisa memberikan efek jera ke mereka yang tertangkap tangan para buang sampah sembarangan,” kata Kusumo.

Dengan begitu kata dia, nantinya Depok sebagai kota yang bersih dari sampah sesuai target Zero Waste City tahun 2020 yang telah dicanangkan, akan terwujud sesuai target.(bum)

Print Friendly, PDF & Email