PT KAI Didesak Tambah Jumlah Masinis

By on April 4, 2011. Posted in .

“PT KAI masih menggunakan sistem tambal sulam untuk menutupi kekurangan masinis. Kebutuhan operasional perjalanan tolong disesuaikan dengan jumlah kru (masinis) yang ada. Memang kebutuhan bisnis perlu untuk dipenuhi. Hanya saja bila jumlah kru atau personel tim KA belum ada membuat masinis melebihi jam dinas. Masinis jadinya kurang istirahat. Bila terjadi kecelakaan, masinis yang disalahkan. Kami minta sesuai proporsionalnya kebutuhan masinis dengan operasionalnya,” tukas Koesyono di ruang Arjuna, Stasiun Jakarta Kota, Jakarta, Sabtu (2/4).

Dia menerangkan, meski terdapat 85 masinis di Jakarta, jumlah masinis yang efektif bekerja saat ini berjumlah 76 orang. Sementara, idealnya dibutuhkan 105 masinis. Artinya terdapat kekurangan sebanyak 29 masinis.

Di samping itu, lanjutnya, dalam sekali perjalanan kereta api, dibutuhkan 90 dinasan (pekerja di bagiannya masing-masing). Ada dinasan KA, kasir, serep, libur, sakit, pendidikan. Itu membuat beberapa dinasan tak dijalani.

Itu baru masinisnya saja. Lalu, ada asisten masinis. Jumlah asisten masinis saat ini berjumlah 58 orang. Sementara, tenaga asisten masinis yang dibutuhkan berjumlah 76 orang.

“Artinya masih sangat kurang. Sehingga, apa yang dilakukan masinis banyak yang melebihi ketentuan. Akibatnya, masinis seharusnya istirahat jadi dipaksa bekerja. Kondisi tidak ‘sehat’ bisa rawan kecelakaan. Buntutnya, masinis jadi pihak yang disalahkan,” tukas Koesyono.

Menurut Koesyono, PT KAI memang tengah mencetak calon-calon masinis. Ada 37 orang calon masinis. Mereka menjalani pendidikan di Yogya dan belajar berkendara di Jatinegara. Hanya saja mereka belum bertanggung jawab tentang kedinasan. Akan tetapi, masih butuh minimal 6 bulan untuk terjadi penambahan.

“Masinis memang boleh dibilang dilema. Pasalnya, secara dominan kesalahan manusia selalu disalahkan dalam setiap kecelakaan. Prasarana yang error tak bisa ditunjuk pihak bertanggung jawab. Tak ada yang bisa disalahkan. Memang di sana ada kepala yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan. Tapi dia tak pernah disalahkan. Namun, ketika alat-alat tersebut tak bisa dipenuhi, tinggal manusianya berperan. Namun, ketika manusia tak siap atau lalai, terjadilah kecelakaan. Masinis ditunjuk bersama asistennya sebagai pihak disalahkan. Mereka dipidanakan. Padahal, mereka telah diperintahkan bekerja untuk memenuhi kekurangan masinis,” tambah Koesyono.

Mantan Eksecutif Vice Presiden (EVP) Sarana Traksi Bandung PT KAI Hartono mengamini pernyataan Koesyono. Dia mengakui, keterbatasan masinis menjadi permasalahan utama. PT KAI harus segera menambah masinis jika ingin menumbuhkan rasa aman dan nyaman bagi para penumpangnya.

“Lihat masinis yang umurnya sudah tua. Harus ada pengganti mereka. Perlu disiapkan masinis muda untuk gantikan masinis senior itu,” ujar Hartono.

Ditambahkannya, pemerintah harus berperan. Jika PT KAI dibebani untuk menyelesaikan persoalan ini, itu tidak akan dipenuhi. Tidak akan pernah terlaksana.

Sementara, EVP Pusat Pendidikan dan Pelatihan PT KAI Gatot Wibowo mengklaim, pihaknya selalu mendidik para calon masinis berdasarkan permintaan perusahaan. “Memang masinis memang selalu dijadikan tumpuan kesalahan. Penyebab kecelakaan itu ada dua faktor, jika tak manusia berarti kesalahan ada pada alat. Maka kalau alat selalu ada perlindungannya. Sementara manusia tidak ada perlindungannya,” kata Gatot.

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.