PT Palyja Dijual ke Pengusaha Filipina

By on November 9, 2012. Posted in .

Sayogo Hendrodubroto, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, mengatakan penjualan tersebut tidak sesuai dengan kontrak. ?Palyja tersebut memperoleh hak pengelolaan air bersih dari pemprov. Jadi tidak bisa seenaknya dilimpahkan ke pihak lain tanpa persetujuan gubernur dan dewan,?katanya di DPRD, Selasa (6/11). ?Palyja jangan dijual.?

Ia menandaskan Palyja harus memenuhi kewajiban sesuai dengan kontrak yakni melayani kebutuhan air bersih bagi warga Jakarta hingga tahun 2022 mendatang. ?Sesuai kontrak, maka pelepasan hak pengelolaan harus berdasar persetujuan gubernur dengan melibatkan dewan,? katanya.

Berbagai kewajiban yang harus dipenuhi adalah menekan tingkat kebocoran, memperluas jaringan air bersih serta meningkatkan kualitas air hingga bisa langsung diminum.

Sayogo menyangkal alasan penjualan tersebut karena rugi. ?Kalau rugi, tidak mungkin pihak lain mau membelinya. Dewan meminta PDAM Jaya menolak penjualan tersebut,? ucapnya.

GANGGU PELAYANAN
Menurut Sayogo, penjualan hak pengelolaan tersebut akan mengganggu pelayanan air bersih untuk warga Jakarta. ?Tentu kita tidak bisa menerima begitu saja pengalihan pengelolaan.?

Pemprov sebelumnya mengikat kontrak pengelolaan dengan perusahaan asal Perancis tersebut karena memiliki pengalaman internasional. Saham PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dikuasai Suez Environment sebesar 51 persen dan 49 persen sisanya dimiliki PT Astratel Nusantara. Wilayah operasi air bersih Palyja meliputi Jakarta bagian barat. Penjualan saham itu sudah dilakukan pada 18 Oktober lalu di Bursa Efek Filipina.

?Ini apa-apaan, kalau caranya begini ujung-ujungnya warga Jakarta yang dirugikan lantaran pelayanannya bisa berantakan,? tegas Ahmad Husin Alaydrus, anggota DPRD DKI Jakarta.

TIDAK BERDAMPAK
Meyritha Maryanie, corporate communications & social responsibilities head PT Palyja, sebelumnya mengatakan layanan air bersih akan berjalan seperti biasa. ?Hingga transaksi final, tidak akan berdampak terhadap masalah kepegawaian ataupun operasional perusahaan,? kata Meyritha

Direktur Utama PAM Jaya, Sriwidayanto Kaderi, mengatakan belum bisa menyatakan persetujuan karena pihaknya belum menerima surat resmi dari Suez. ?Laporan resmi untuk penjualan saja belum ada dari Suez. Kami masih menunggu suratnya,? katanya

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.