Rokok Produk Tidak Ramah Budaya (Release FAKTA) No. Reg Rilis 04/RLS/II/2018

Rokok Produk Tidak Ramah Budaya
(Release FAKTA)
No. Reg Rilis 04/RLS/II/2018

Tepat tanggal 25 Februari 2018, seorang penumpang pesawat Citilink tujuan Halim Perdana Kusuma – Bali, terpaksa diturunkan dari pesawat karena ketahuan merokok di area yang rentan bahaya. Kisah ini bukan kisah sulung tentang perokok yang membangkang terhadap aturan. Sebelumnya ada keluarga yang terpaksa diturunkan dari atas kareta api karena ketahuan merokok (http://regional.kompas.com/read/2017/08/08/16563311/ayah-tepergok-merokok-satu-keluarga-diturunkan-dari-kereta-api, https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3592709/merokok-di-kereta-api-oknum-tni-diturunkan-paksa-di-stasiun, https://news.detik.com/berita/d-3301346/viral-perokok-diturunkan-dari-kereta-ketegasan-petugas-tuai-pujian).

Bila merunut lagi ada kejanggalan lain yang dilakukan oleh orang Indonesia berkaitan dengan produk rokok ini, misalnya kisah sepasang suami istri yang memberikan rokok pada anaknya yang baru berusia 9 bulan. Ini adalah fenomena yang aneh. Pertanyaannya adalah apakah perilaku orang yang merokok itu adalah perilaku yang legal dan normal? Sebab dari pelbagai kisah ini tampak bahwa fenomena di atas seolah mereka begitu “nekad”, “bodoh”, “bebal”, “hilang akal sehat”, “tidak berbudaya”, … ketika mereka “tidak berdaya” ketika berhadapan dengan rokok.

Seharusnya seluruh rakyat Indonesia mulai bertanya ketika berhadapan dengan pelbagai perilaku menyimpang seperti ini, apakah rokok sebuah produk yang normal? Sebab bila kita menelisik lebih dalam sesungguhnya produk rokok ini telah menelanjangi orang Indonesia dari budaya ketimurannya yang khas dengan saling menghargai, menghormati, toleransi, patuh aturan dan lain sebagainya. Maka bukan tidak mungkin jika produk rokok ini, sesungguhnya produk tidak ramah budaya orang Indonesia.

Dengan demikian, kami Forum Warga kota Jakarta (FAKTA) mengajak segenap masyarakat Indonesia untuk berkonsentrasi pada hal yang lebih substansial yakni produk rokok itu sendiri sebagai sesuatu yang tidak ramah budaya, tidak ramah tubuh (kesehatan) dengan tetap menindak tegas setiap pelaku pelanggaran yang karena tindakannya mengancam keselamatan orang lain berdasarkan undang-undang yang berlaku. Dalam kasus perokok yang diturunkan dari pesawat Citilink, ia melanggar UU no.1 tahun 2009 tentang Penerbangan yang pada pasal 210 menyatakan “karena tindakannya telah menyebabkan halangan (obstacle) yang membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan. Dia dapat dijerat dengan hukuman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Untuk itu, pertama kami juga tetap mengharapkan seluruh warga Indonesia untuk memerangi produk rokok dengan tidak hanya memberi sanksi yuridis tetapi juga sanksi sosial bagi para perokok yang melanggar aturan seperti merokok di ruang publik, merokok di area terlarang dengan cara mengucilkan dan lain sebagainya. Kedua, kepada pemerintah untuk lebih teliti melihat untung ruginya produk rokok bagi rakyat Indonesia dengan bertitik tolak pada pelbagai kasus yang terjadi belakangan ini.

Kami, FAKTA melihat ajakan ini sifatnya sangat urgen karena Indonesia sedang dalam krisis besar akibat produk rokok ini. Pertama, produk rokok ini telah menghasilkan manusia Indonesia yang penyakitan dengan biaya pengobatan yang mahal hingga menyebabkan defisit keuangan BPJS. Kedua, produk rokok telah menciptakan generasi dengan perilaku yang deviatif atau menyimpang dalam kehidupan sosial dengan pelbagai pelanggaran yang tidak seharusnya. Ketiga, dengan demikian produk rokok tidak hanya meninggalkan penyakit, memangkas produktifitas tetapi juga mengikis budaya orang Indonesia.

Jakarta, 28 Februari 2018
Azas Tigor Nainggolan
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Print Friendly, PDF & Email