Rokok Sumbang Kemiskinan di Perkotaan dan Perdesaan

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan rokok memberikan sumbangan yang cukup besar pada garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Bahkan, rokok menempati posisi kedua dalam pembelanjaan masyarakat miskin di Indonesia, di bawah beras tetapi lebih tinggi dari kebutuhan pokok lainnya.

Hal itu ditemukan dalam survei BPS tentang komoditas yang memberikan pengaruh besar terhadap garis kemiskinan yang dilakukan pada Maret 2017 dan September 2017. BPS membagi komoditas yang dikonsumsi masyarakat miskin di perkotaan menjadi dua jenis, yaitu komoditas makanan dan bukan makanan.

Menurut survei pada Maret 2017, pembelanjaan tertinggi masyarakat miskin di perkotaan adalah beras (20,11 persen) kemudian rokok kretek filter (11,79 persen). Sedangkan di perdesaan, pembelanjaan tertinggi masyarakat miskin adalah beras (26,46 persen) dan rokok kretek filter (11,53 persen).

Posisi ketiga ditempati komoditas bukan makanan, yaitu perumahan sebesar 9,01 persen di perkotaan dan 7,30 persen di perdesaan. “Persentase konsumsi rokok terhadap total pengeluaran relatif sama antara penduduk miskin maupun tidak miskin. Meskipun untuk kelompok miskin sedikit lebih tinggi persentasenya,” tutur Direktur Statistik Ketahanan Sosial BPS, Harmawanti Marhaeni di Jakarta, Selasa (31/1).

Wanti mengatakan kemiskinan di Indonesia memang terus menurun tetapi relatif lambat. Indeks kedalaman kemiskinan relatif tetap menunjukkan bahwa rata-rata jarak antara orang miskin dengan garis kemiskinan masih tetap. “Idealnya jarak ini harus semakin dekat,” ujarnya.

Konsumsi Produktif

Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melaporkan, hasil survei pada September 2017 menunjukkan rokok kretek di perkotaan menyumbang 9,98 persen terhadap garis kemiskinan, sedangkan di perdesaan 10,7 persen. “Saya juga berharap kita konsumsi yang produktif, karena rokok dapat membuat orang miskin,” tegas Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, BPS mencatat jumlah penduduk miskin pada September 2017 mencapai 26,58 juta orang, turun 1,19 juta orang dari Maret 2017. Dibandingkan dengan September 2016, tingkat kemiskinan turun menjadi 10,12 persen dari 10,7 persen. Secara keseluruhan, tingkat kemiskinan sejak periode 1999 hingga September 2017 di Indonesia terus turun, dari sisi jumlah maupun persentase.

Pada 1999, jumlah penduduk miskin sempat mencapai 47,97 juta orang atau sekitar 23,43 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Pengecualian terjadi pada 2006, September 2013 dan Maret 2015 yang dipicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai dampak lonjakan harga BBM. 

Ant/E-10

Print Friendly, PDF & Email