Siapa Pun Gubernurnya, Asal Kami Tak Digusur

By on April 13, 2012. Posted in .

Ada kartu sehat yang ditawarkan Jokowi, biaya pendidikan gratis ala Alex Noerdin, pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) yang dipaparkan Faisal Basri, pengaturan tata ruang Jakarta khas Hendardji Soepandji, peningkatan pelayanan kesehatan jurus dari Hidayat Nurwahid, termasuk melanjutkan program dari incumbent Fauzi Bowo.

“Saya sih ngga peduli siapapun gubernurnya, asal kami jangan digusur saja,” ujar Karsiwan (25) saat ditemui di bedeng ilegal yang berada di Jalan Pemuda, sebelah SPBU yang dijadikan tempat tinggalnya selama ini, Selasa (10/4/2012) kemarin.

Karsiwan bersama sekitar 100 kepala keluarga yang sehari-hari berprofesi sebagai pemungut barang rongsokan tersebut ingat benar bagaimana tempat berteduhnya dari panas dan hujan di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, tak jauh dari bedengnya saat ini, dibongkar paksa oleh aparat pemda karena diperuntukan untuk kantor Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta.

Pembongkaran tersebut dilakukan karena warga menempati tanah milik Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta Berdasarkan Surat Badan Pengelola Keuangan Daerah Nomor 5162/-076.2 tanggal 17 November 2011. “Memang sih, ini tanah bukan punya kita sendiri. Tapi kita di sini bayar sama orang, tapi kita digusur juga. Ya susah memang jadi orang miskin di kota,” ujarnya.

Karsiwan mengungkapkan, sehari-harinya, ia hanya mendapatkan uang berkisar Rp 20.000 hingga Rp 30.000 untuk menghidupi istri dan seorang anaknya yang masih berusia satu tahun. Sementara, ia juga harus membayar sewa sebesar Rp 300.000 per bulan di bedeng kumuh yang ia tempati sekarang. “Ya dibikin cukup aja, biarpun kadang-kadang kurang. Mau bertani tanam padi di kampung saja kalau ngga punya duit juga susah,” lanjut pria asal Desa Celeng, Indramayu ini.

Selama di Jakarta, ia mengaku sama sekali tidak pernah bisa mengakses pelayanan kesehatan sewaktu sakit. “Ya namanya kita kerja sampah, kotor, penyakit mah ada aja. Nggak punya duit buat ke klinik akhirnya saya pakai obat warung saja, lebih murah,” lanjutnya.

Ketika ditanya mengenai bersediakah keluarga kecil ini pindah ke rumah susun untuk kehidupan yang lebih layak, Karsiwan pun menjawab ragu-ragu. Ia tak percaya rumah susun yang akan dibuat Pemerintah bisa ditempati oleh orang seperti dirinya. “Sebenarnya mau asal murah, di sini sewanya mahal soalnya. Tapi apa enak buat usahanya. Kalau enak mah nggak apa-apa, namanya kita usaha begini, pakai gerobak, kotor,” ujarnya.

Karsiwan merupakan salah satu contoh kecil bagaimana warga yang tinggal di sudut-sudut sempit dan gelap Jakarta sekalipun, harus tetap tersentuh kebijakan. Warga miskin perkotaan meletakkan harapan perjuangan nasib kepada para pemimpin mendatang. Setelah nantinya kembali terpilih sebagai pemegang pucuk pemerintahan tertinggi di Jakarta, gubernur dan wakil gubernur terpilih hendaknya tak melupakan harapan dan impian dari mereka yang telah memberikan hak suara demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.