Warga mendukung Raperda KTR Jakarta segera disahkan pada tahun 2017

By on November 17, 2016. Posted in .

SIARAN PERS

untuk segera dipublikasikan

Warga mendukung Raperda KTR Jakarta segera disahkan pada tahun 2017

4 desember 2015 yang lalu, Raperda KTR telah masuk dalam Prolegda DKI Jakarta dan kini pada Program Pembentukan Peraturan Daerah Tahun 2017, Raperda KTR kembali masuk dalam daftarnya. Proses Raperda KTR memang sempat tersendat akibat gelombang Tsunami kasus Raperda Reklamasi, sehingga sampai dengan saat ini tidak ada kabar berita bagaimana progress-nya. Dengan masuknya kembali Raperda KTR pada Propemperda Tahun 2017, kami mengingatkan dan meminta agar proses Raperda KTR ini jangan sampai mendapat intervensi dari Industri tembakau seperti kasus Raperda Reklamasi yang diintervensi oleh pihak pengembang.

 

Besar harapan kami sebagai warga DKI Jakarta agar pada tahun 2017 nanti Raperda KTR sudah dapat disahkan karena mengingat adanya hak-hak masyarakat Jakarta yang menjadi tidak terlindungi karena ketiadaan Perda KTR di provinsi DKI Jakarta.

 

Pemerintah Daerah diwajibkan untuk mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 115 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Pasal 49 dan Pasal 52 Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

 

Pemerintahan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta seharusnya lebih cepat dan sigap dalam melahirkan Perda KTR di daerah ibukota Jakarta karena selain telah diamanatkan oleh peraturan-peraturan sebelumnya, rokok juga telah menyebabkan 200.000 (dua ratus ribu) orang di Indonesia meninggal akibat penyakit yang terkait dengan konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Asap rokok adalah campuran gas dan partikel yang mengandung lebih dari 4.000 (empat ribu) zat kimia mematikan yang biasa ditemukan di dalam produk seperti pelarut cat (aseton), pembersih toilet (amoniak), racun tikus (sianida), insektisida (DDT), dan asap knalpot (karbon monoksida). Sedikitnya 50 dari semua zat beracun tersebut dapat menyebabkan kanker dan penyakit serius lainnya.

 

Menurut data riskesdas 2010, prevalensi konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya pada tahun 2010 adalah 30,8% dari jumlah penduduk berusia ≥ 15 tahun. Bahkan prevalensi merokok pada kelompok usia 13-15 tahun mendekati atau melebihi prevalensi merokok pada orang dewasa (41% pada remaja laki-laki dan 6,4% pada remaja perempuan menurut hasil Global Youth Tobacco Survey). Yang sangat mengkhawatirkan pula adalah terjadinya peningkatan prevalensi merokok pada balita dan anak-anak berusia 5-9 tahun, dari 0,4% pada tahun 2001 menjadi 1,8% pada tahun 2004, berdasarkan hasil Survey Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik.

 

Jika kita melihat data-data diatas, sudah jelas bahwa konsumsi rokok dan korban dari zat-zat mematikan dari rokok telah masuk dalam angka yang memprihatinkan.

Oleh sebab itu, kami Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) dan Solidaritas Advokat Publik untuk Pengendalian Tembakau (SAPTA) Indonesia meminta agar:

  1. Raperda KTR dapat segera disahkan pada tahun 2017
  2. Proses Raperda KTR memiliki keterbukaan informasi kepada publik
  3. dan juga mendapatkan pengawalan dari KPK sebagai badan pemberantasan korupsi di negeri Indonesia tercinta.

 

Sekian Rilis Ini kami sampaikan.

Jakarta, 16 November 2016.

Print Friendly, PDF & Email

No Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.